Pelangi » Keluarga | Sabtu, 12 Juni 2010 pukul 18:11 WIB

Perilaku Orangtua Mempengaruhi Perilaku Anaknya

Penulis : @ Arda Dinata

Keluarga sakinah akan memposisikan dirinya dan setiap anggota keluarganya menuju kondisi yang sehat lahir dan batin. Dalam UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, disebutkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Sementara itu, konsep (terbaru) “The Mandala of Health” dari golongan human ecology yang menganut paham bahwa kondisi manusia yang seimbang (baca : sehat) adalah sehat fisik, jasmani, jiwa, sosial, dan rohani. Konsep ini bersifat holistik karena mengakui bahwa seseorang menjadi sakit bukan karena satu faktor saja, tetapi banyak faktor.

Pernyataan terakhir sejalan dengan ungkapan Hendrik L. Bloom bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia adalah faktor lingkungan mempengaruhi sebesar (40%), perilaku manusia (35%), pelayanan kesehatan (20%), dan keturunan (5%). Berkait dengan ini, lantas timbul pertanyaan, betulkah perilaku orangtua itu dapat mempengaruhi perkembangan anak-anaknya (baca : perilaku anaknya)?

Maraknya kasus penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) di Indonesia saat ini, membuat setiap orangtua menjadi “terpukul”. Terutama bagi mereka yang anak-anaknya benar-benar termasuk golongan pengguna barang-barang terlarang itu.

Terpukulnya orangtua, tidak lain karena berkait dengan pola bimbingan dan asuhan yang dilakukannya selama ini, barangkali patut diragukan. Di sinilah perlu pola pikir bijaksana dari para orangtua untuk mencari solusi yang terbaik terhadap permasalahan yang dihadapi anaknya.

Kita mungkin masih ingat para orangtua dulu, sering mengatakan bahwa hanya orangtua bijaksana yang akan selalu melakukan introspeksi mengapa seorang anak menjadi berperilaku abnormal (baca : merusak, menyimpang). Kata-kata berikut, setidaknya harus selalu diingat sebagai pola antisipasi para orangtua dalam membimbing anaknya, yakni like father like son, perilaku seorang anak merupakan cerminan perilaku orangtuanya.

Berkait dengan pernyataan di atas, Republika (4/9/02) memberitakan Dr. Toni Terling Watt, koordinator tim penelitian Universitas Southwest Texas State, AS, mengatakan bahwa remaja, khususnya laki-laki, berisiko tinggi terlibat hubungan seksual di bawah umur jika orangtua mereka merokok atau minum-minuman keras.

Dari hasil penelitian itu disebutkan juga, remaja yang mempunyai orangtua perokok atau peminum, diyakini rentan dalam mengkonsumsi obat-obatan terlarang dan tindakan kriminal. Kebanyakan mereka sering berurusan dengan pihak berwajib.

Hal senada juga diungkapkan Esther Wilder, peneliti dari Lehman College, New York. Dari hasil penelitiannya, tercatat 50 persen remaja yang orangtuanya merokok cenderung melakukan hubungan seksual di usia dini. Bahkan, mereka melakukannya sebelum usia 15 tahun. Na'udzubillah.

Fakta ini didapatkan dari survei terhadap 19 ribu remaja berusia 13 hingga 18 tahun pada program National Longitudinal Study of Adolescent Health di AS. Sebanyak 31 persen dari mereka mempunyai orangtua yang suka merokok.

Dari penelitian itu terungkap, kebanyakan anak-anak meniru perilaku orangtuanya (ayah dan ibu). Mereka merokok karena melihat ayah atau ibunya merokok. Begitu pun ketika ditanya kenapa anak-anak itu minum minuman keras, juga karena faktor orangtua. Jadi, masihkah kita akan berperilaku buruk? Karena bukankah hal itu berlaku pada perilaku buruk lainnya?

Perilaku itu sendiri pada hakekatnya dapat dibagi dalam tiga bentuk. Hal ini sesuai dengan pendapat Benyamin Bloom, seorang psikolog pendidikan, yang menyatakan bahwa perilaku itu terdiri dari ranah kognitif (aspek pengetahuan), ranah afektif (aspek sikap), dan ranah psikomotorik (aspek tindakan).

Pengetahuan seorang anak merupakan hasil dari tahu tentang sesuatu. Hal ini terjadi setelah seorang anak melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan ini sebenarnya menjadi ranah yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.

Pengertian sikap berbeda dengan pengetahuan. Sikap berarti cara bereaksi seorang anak secara spontan terhadap rangsangan. Sehingga konsekuensinya, sikap ini tentu tidak dapat dilihat secara sesaat, tetapi hanya ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sedangkan menyangkut pembentukan sikap seorang anak sendiri dapat dipengaruhi oleh bakat, minat, pengetahuan, pengalaman, emosional, dan situasi lingkungan.

Batasan tindakan juga berbeda dengan pengetahuan maupun sikap. Tindakan seorang anak merupakan terwujudnya sikap menjadi suatu perbuatan nyata yang didukung oleh kondisi yang memungkinkan munculnya suatu tindakan tertentu. Salah satunya adalah fasilitas yang disediakan orangtua pada anaknya.

Jadi, perilaku seorang anak dapat terwujud melalui perpaduan ketiga ranah tersebut. Selain itu dipengaruhi pula oleh latar belakang keluarga, kepercayaan, kesiapan mental, sarana, dan faktor pembimbing (pencetus) dalam suatu lingkungan di mana kita tinggal.

Untuk itu, tidaklah berlebihan yang dikatakan pakar komunikasi anatar pribadi, Dr. Muhammad Budyanta bahwa, “Kalau para remaja, pemuda, dan anak-anak terserang narkoba dan psikotropika, lebih banyak disebabkan oleh rapuhnya benteng pertahanan di rumah.”

Selain tentunya, adanya kesenjangan budaya antara orangtua dan generasi muda, juga kurangnya pendidikan, penghayatan, dan pengamalan agamanya. Seperti dicontohkan Budyatna, orangtua memaksakan anaknya mengikuti pendidikan agama, tapi (dirinya) tidak memberi contoh yang baik dengan alasan sibuk. Hal ini menandakan belum dipahaminya peran dari ketiga ranah tersebut.

Akhirnya, patut kita pahami dan renungkan apa yang diungkap oleh Muhammad Al-Baqir (1999:135) dalam Mutiara Nahjul Balaghah bahwa setiap anak mempunyai hak atas ayahnya (orangtuanya) dan setiap ayah mempunyai hak atas anaknya. Adapun hal si ayah atas anaknya ialah ketaatan si anak kepadanya dalam segala urusan, kecuali kemaksiatan terhadap Allah SWT. Sedangkan hak si anak terhadap ayahnya ialah memberikan nama yang baik, mendidiknya dengan baik, dan mengajarinya Al-Qur'an.

Untuk itu, sebagai solusinya seperti diungkap oleh salah seorang sahabat Rasulullah SAW, Abdullah bin Mas’ud yang berpesan kepada para bapak agar membiasakan anak-anaknya melakukan yang baik. Ia berkata, “Biasakanlah mereka dengan perbuatan baik karena sesungguhnya kebaikan itu dengan membiasakannya.”

Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW dalam salah satu sabdanya menyatakan, “Setiap anak dilahirkan suci-bersih, maka orangtuanyalah yang menjadikan Yahudi atau Nasrani atau Majusi.” Secara demikian, jangan sia-siakan bagi para orangtua untuk berperilaku baik, lebih-lebih di depan anak-anaknya. Karena perilaku anak adalah cermin perilaku orangtuanya.

Wallahu a’lam.

KotaSantri.com © 2002-2026