
Pelangi » Keluarga | Sabtu, 20 Maret 2010 pukul 18:33 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Dalam banyak kasus, sering kita dapati para muslimah mendefinisikan tentang makna "ibu rumah tangga", dimana dalam pengamatan kasat mata adalah seorang wanita yang mendedikasikan hidupnya untuk keluarga (suami dan anak-anaknya). Dan memang tak ada yang salah dari pandangan kasat mata itu. Hanya saja, dari definisi padat, singkat, plus jelas itu menimbulkan ruak rasa yang berbeda-beda pada setiap ummahat (kala masih gadis biasanya disebut akhwat, kala sudah ibu-ibu biasanya disebut ummahat).
Ada yang merasakan sebagai hal berat, bahkan teramat berat untuk dijalani. Ada yang merasakan sebagai hal yang penuh dengan rambu-rambu dari suami sebagai imam yang harus ditaati. Ada yang merasakan sebagai takdir yang mau tidak mau harus diterima. Bahkan ada yang merasa dalam tataran sosial menjadi sebuah posisi yang tidak adil dan cenderung remeh, karena sering dianggap tidak punya nilai ekomomis. Lalu, apanya yang salah? Padahal sering kita mendengar kalau isteri adalah partner suami. Yang namanya partner, pastinya ada semacam proyek yang dikerjakan bareng-bareng. Nah, kalau judulnya saja sudah bareng-bareng, idealnya tidak akan timbul rasa berat sebelah, apalagi menderita sebelah.
Memang benar kalau isteri adalah partner suami dalam biduk rumah tangga, dan begitu juga sebaliknya. Namun dalam Islam, ada semacam definisi jelas tentang ke-partner-an tersebut, dimana menegaskan tentang kedudukan masing-masing suami dan isteri, lengkap dengan hak dan kewajibannya. Sang suami adalah sebagai imam (pemimpin, leader), maka logikanya, ada pemimpin pastinya juga ada yang dipimpin, itulah tempat terindah bagi si isteri.
Dalam hubungan "kerjasama" antara suami dan isteri ini, jelas diatur posisi masing-masing, hak lengkap dengan kewajibannya. Kalau kita merunut pada itu, maka akan kita temukan sebuah kesimpulan bahwa tak ada tugas isteri lebih berat dari suami dan begitu pula sebaliknya. masing-masing punya porsi sesuai dengan "job desk" yang telah ALLAH SWT tetapkan. Efek sukses kerjasama itulah yang kemudian dikenal dengan SAKINAH, MAWADDAH, WA RAHMAH.
Silahkan perhatikan urutannya; sakinah, mawaddah, rahmah. Itu adalah tahapan, dimana untuk mencapai mawaddah, harus sakinah dulu. Dan begitu juga untuk pada sampai rahmah, sudah harus terbentuk sakinah dan mawaddah. Belajar tentang sakinah, mawaddah, wa rahmah, maka di situlah ada teknik-teknik yang salah satunya disebut di atas, yaitu kepemimpinan, ketaatan, ke-partner-an, penghargaan, keterbukaan, dan lain-lain.
Sekali lagi, bahwa ternyata tak ada yang lebih berat satu sama lain dalam peranannya masing-masing dalam rumah tangga. Jadi, menurut saya, jika ada kaum ibu yang mengatakan bahwa menjadi ibu rumah tangga itu pekerjaan yang sangat berat hingga tidak bisa dinilai secara ekonomis, maka pun bagi para bapak sangat mungkin akan mengatakan bahwa menjadi bapak rumah tangga juga bukanlah hal yang ringan, karena tanggung jawabnya berkelanjutan hingga akhirat. Kalau ada ibu rumah tangga yang mempertanyakan mengapa tak ada pilihan "pekerjaan ibu rumah tangga" pada pertanyaan di lembar pekerjaan, maka para bapak pun sepertinya berhak mempertanyakan "kenapa tak ada 'sebagai bapak rumah tangga' pada pilihan yang ada."
KotaSantri.com © 2002-2026