
Pelangi » Keluarga | Sabtu, 23 Mei 2009 pukul 17:12 WIB
Penulis : Meralda Nindyasti
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahriim : 6).
Adakah keluarga yang setelah dipisahkan oleh maut, tidak berkeinginan disatukan kembali olehNya di surga nanti? Hingga kebersamaan itu kembali ada, bahkan kebersaman yang jauh lebih indah. Karena surga tak mengenal kesengsaraan. Ia hanya mengenal kebahagiaan dan kenikmatan.
Adalah orangtua yang menjadi kendali ke mana keluarganya akan dibawa. Sang ayah sebagai pemimpin pelayaran. Ia menjadi nahkoda untuk mengantarkan keluarganya utuh menuju surga. Apabila baik akhlaknya, maka baik pula cara mengemudikannya. Isteri dan anak adalah manusia-manusia yang dipimpinnya. Karena itu, butuh kepemimpinan dan kreativitas seorang ayah untuk mengkondisikan keimanan keluarganya.
Zaman sekarang, berapa banyak orangtua yang menyepelekan pendidikan spiritual untuk anak-anaknya. Padahal, iman bukanlah permainan dan keshalihan tidak dapat diwariskan. Ia adalah sesuatu yang tumbuh seiring dengan ketaatan. Bukan dalam sekejap, tapi butuh keistiqamahan. Seringnya, ayah ibu lebih bangga akan prestasi akademik yang dicapai anak-anaknya. Namun jarang menaruh bangga akan prestasi ibadah dan amal shaleh yang mereka lakukan. Seakan, prestasi duniawi jauh lebih berharga dibanding prestasi akhirat mereka.
"Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya." Ia bertanya, "Demikian pulakah engkau, wahai Rasulullah?" Jawab Rasulullah, "Ya, demikian pula denganku, kecuali jika Allah menganugerahiku rahmatNya." (HR. Muslim).
Bukan meja makan yang mempu menyatukan satu keluarga setelah seharian dipisahkan oleh aktivitas masing-masing. Bukan pula nonton TV bersama yang mengundang canda dan tawa pencair suasana. Tapi adalah shalat berjama'ah yang menyatukan kasih sayang mereka untuk sama-sama meraih rahmatNya.
Anak adalah masa depan, titipan Allah hingga keturunan akhir zaman. Dan keteladanan adalah bahasa indah pendidikan. Karena itu, agar tidak terasa berat ketika mengkondisikan keimanan dan keistiqamahan keluarga, maka harus ditunjang dengan keimanan dan keistiqamahan sang ayah sendiri. Ajak diri untuk merenung, motivasi apa yang sanggup membuat kita bertahan ada di jalan hidayah ini. Agar tidak lelah berlari dan enggan berhenti. Tidak merasa rugi, karena ada surga Allah yang menanti.
KotaSantri.com © 2002-2026