Pelangi » Jurnal | Sabtu, 5 November 2011 pukul 14:00 WIB

Lebah Selektif dalam Memilih Makanan

Penulis : H. Akbar

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِيْ مِنَ الجْبِاَلِ بُيُوْتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَ
ثُمَّ كُلِيْ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)…’ (QS 16 An-Nahl : 68 – 69)

Lebah (Aphis indica) adalah salah satu hewan yang mempunyai keistimewaan. Demikian istimewanya sampai Al-Quran mengabadikannya sebagai tamsil makhluk yang perlu diteliti. Perilaku lebah yang unik, taat pada aturan dan disiplin dalam mencari penghidupan merupakan hal yang diungkapkan secara khusus. Dan dengan hanya bermodalkan ke tiga hal tersebut, lebah telah tampil sebagai figur makhluk yang memberi manfaat banyak, bukan saja terhadap dirinya tapi juga bagi manusia.

Keistimewaan pertama, lebah ditawari tiga alternatif untuk menentukan tempat tinggal, di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, atau di tempat-tempat yang dibuat manusia. Ketiga tempat itu sangat layak. Bukit merupakan tempat yang relatif lebih sepi dari aktifitas manusia sehingga memungkinkan bagi lebah untuk hidup tanpa mengganggu atau terganggu oleh makhluk lainnya. Dalam bahasa Arab, syajar diartikan sebagai pohon besar yang tidak berbuah. Pohon yang tidak berbuah umumnya tidak didatangi manusia. Hal ini pun memberi gambaran bahwa di tempat itu lebah bisa hidup lebih tenang tanpa gangguan yang lainnya. Sementara pada tempat yang disediakan manusia telah membuat nuansa baru bagi lebah untuk bisa hidup bersama makhluk lain tanpa saling mengganggu, bahkan saling menguntungkan.

Pelajaran pertama bagi manusia, jika di satu masyarakat sudah tercipta suatu keadaan yang saling menunjang maka sinergi yang terbentuk akan menimbulkan kemaslahatan bagi umat. Rasulullah SAW telah mampu mengangkat derajat manusia dari satu keadaan yang penuh zhulumat menuju tatanan hdup yang penuh marhamah dalam jangka waktu 23 tahun. Jika kondisi masyarakat sudah demikian, maka hukum dengan sendirinya akan berjalan. Itulah langkah awal yang dicontohkan lebah. Menuju kehidupan yang harmonis harus dimulai dari rumah dulu. Memikirkan perubahan besar menuju kebahagiaan hidup tidak akan efektif jika tidak dimulai dari masalah kecil. Nampaknya inilah yang disebut oleh Rasulullah SAW dengan istilah ibda’ binafsik, memulai dari diri kita sendiri. Masyarakat kita lebih mengerti tentang hidup bahagia, namun tidak sedikit yang tidak mengetahui bagaimana caranya mencapai kebahagiaan itu. Untuk itu diperlukan adanya satu contoh. Contoh yang terbaik adalah yang dilakukan Rasulullah SAW,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوِْلِ اللهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

‘Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu’ (QS 33 Al-Ahzab : 21).

Contoh merupakan bahasa yang paling bisa dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat.

Rasulullah SAW sebagai figur pemimpin tidak pernah merasa canggung bergaul dengan masyarakat. Contoh kecil dari kehidupan beliau yang mempunyai dampak besar dalam kehidupan masyarakat adalah kemampuan beliau dalam memposisikan dirinya di tengah-tengah masyarakat. Dengan kepiawaiannya, sahabat memandang beliau adalah segalanya. Keteladanannya mampu menjawab berjuta persoalan hidup manusia.

Keistimewaan lebah yang kedua adalah soal makanan. Lebah hanya memakan sari-sari buah (bunga) yang baik-baik. Ia tidak mencampuradukkan antara bunga yang baik dengan yang tidak baik. Meskipun secara lahiriyah bunga yang indah itu lebih memikat, namun lebah tidak pernah tergiur oleh gemerlapnya kulit jika di dalamnya terdapat racun yang akan membahayakan dirinya. Terbukti out-put yang dihasilkannya pun berdampak positif.

Secara faktual, pertumbuhan fisik seseorang berbanding lurus dengan makanan yang dikonsumsi. Artinya, setelah melalui proses tertentu makanan yang dikonsumsi ada yang berubah menjadi daging, tulang, darah, kulit dan lain sebagainya. Secara lahiriyah, makanan apapun yang dikonsumsi akan menumbuhkan fisik yang memakannya. Namun dilihat dari sisi agama, baik-buruknya pertumbuhan fisik seseorang juga ditentukan oleh makanannya. Rasulullah SAW menyebutkan,

كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنَ الْحَرَامِ فَالنَّارُ اَوْلَى بِهِ

Artinya, ‘Daging yang tumbuh dari barang yang haram, maka ia akan dijilat api neraka'.

Untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, agama telah memasang rambu-rambu bagi pemeluknya. Salah satu diantaranya adalah soal makanan. Bagi seorang muslim, mengkonsumsi makanan tidak cukup sekedar memenuhi ketentuan empat sehat lima sempurna, tapi perlu ditambah dengan faktor halal, baik jenis makanannya maupun cara memperolehnya. Sebaik apapun makanan yang dikonsumsi, namun jika terkontaminasi oleh unsur haram, maka hal itu tetap akan menjadi ancaman bagi yang bersangkutan. Sebuas-buas harimau belum ada harimau yang menerkam anaknya, tetapi jika seseorang berani memberi nafkah kepada anak dan isterinya dari sumber yang haram maka secara tidak langsung ia telah membelikan tiket bagi mereka untuk masuk ke dalam neraka.

Pelajaran ketiga yang dapat diambil dari perilaku lebah adalah bahwa ia selalu menempuh jalan yang mudah yang telah
ditetapkan oleh Allah SWT. Bentuk ketaatan lebah dalam memilih
tempat tinggal dan makanan merupakan unsur penting untuk menempuh langkah selanjutnya. Jika soal tempat tinggal dan maka-nan sudah mampu diatasi berarti dua pertiga permasalahan hidup sudah bisa diselesaikan. Sepertiga sisanya tentu akan lebih mudah dilakukan meskipun masih harus diupayakan. Jalan mudah yang ditetapkan Allah itu berupa sikap proaktif, disiplin dan komitmen terhadap kebenaran

فَاَمَّا مَنْ اَعْطَى وَ اتَّقَى وَ صَدَّقَ ِالْحُسَْى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيًسْرَى

Artinya, ‘Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah’ (QS 92 Al-Lail : 5 - 6).

Meskipun disimpan pada bagian akhir, namun hal ini merupakan kunci bagi keberhasilan seseorang.

Salah satu bentuk proaktif adalah memberi sesuatu kepada orang lain. Begitu tingginya nilai proaktif dalam kehidupan, maka Rasulullah SAW selalu tampil paling depan dalam hal kebaikan. Beliau tidak pernah mengajak seseorang untuk me-lakukan suatu pekerjaan, kecuali beliau sendiri yang terlebih dahulu melakukannya. Contoh adalah bahasa yang paling mudah untuk dimengerti oleh siapa pun.
Itulah kisah lebah dalam Al-Quran. Makhluk kecil yang taat pada aturan.

Dengan berbekal pada petunjuk Allah, ia mampu memposisikan dirinya sebagai makhluk yang berguna.

يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهُ فِيْهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ
اِنَّ فِيْ ذَالِكَ َلآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُوْنَ

Dari dalam perutnya keluar cairan madu yang beraneka macam warna dan rasanya, dan menjadi obat bagi manusia. Jika lebah saja mampu memberikan kontribusi bagi manusia, apatah lagi manusia.

KotaSantri.com 2002-2026