
Pelangi » Jurnal | Sabtu, 25 Juni 2011 pukul 13:50 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Banyak hal di dunia ini yang bisa dispekulasikan kebenarannya. Namun tidak jika itu tentang kebenaran Islam, namun tidak jika hal itu datang dari Islam. Karena ya, memang benar adanya, bahwa Islam adalah agama yang di ridhai oleh Allah SWT.
Namun pada kenyataannya, dalam banyak kasus ghazwul fikr (perang pemikiran), mampu mengaburkan aqidah sebagian saudara kita yang lain. Dan sudah barang tentu kita tak bisa tinggal diam. Maka, mendudukkan kembali pada yang seharusnya menjadi kewajiban. Bukankah memang menjadi tanggunng jawab kita adalah mengingatkan dalam hal kebaikan?
Bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan menyempurnakan (syamil mutakamil) itu benar adanya. Jauh hari, sebagai pondasi, Islam pun sudah memberikan solusi pada masalah ghazwul fikr.
Pondasi itu adalah tentang kebenaran mutlak dan hanya satu. Bahwa kita sebagai muslim diajarkan untuk meyakini adanya kebenaran mutlak. Karena ternyata pada kenyataannya di hari ini, dengan pengagungan akalnya, ada sebagian orang yang tidak mempercayai kebenaran mutlak. Sebenarnya inilah pondasi kita agar tetap kukuh ketika ghazwul fikr dengan segala macam versinya menghempas hebat dari berbagai arah. Bahkan inilah imunitas kekebalan kita dari pemikiran apapun yang datang dari luar Islam dengan konteks menentang.
Di sinilah barangkali kita perlu mengevaluasi kembali tentang ma'rifatullah kita, tentang ma'rifaturrasul kita, tentang ma'rifatul insan kita, tentang pemahaman kita dengan makna syahadatain. Karena sepaket pengevaluasian inilah dasar kita mempunyai iman yang shahih (benar).
Ya, iman yang shahih; bahwa benar Tuhan pencipta alam raya ini adalah Allah SWT, bahwa benar tiada Tuhan selain Allah SWT, bahwa benar Muhammad SAW adalah Rasullullah, bahwa benar Al-Qur'an dan Hadits adalah pedoman hidup. Bahwa benar adanya hal ghaib itu. Bagi kita ini adalah pondasi yang tidak ada spekulasi. Tak ada masalah ataupun hal ganjil. Semua kebenaran tentang hal pokok ini sudah clear!
Kemudian kita melangkah ke tahapan selanjutnya, tentang memperjelas kembali posisi akal kita yang terbatas ini. Bahwa Allah SWT menciptakan kita berakal adalah dipergunakan untuk berpikir itu sudah kita fahami bersama. Namun, kedudukan akal sendiri adalah tunduk pada syari'at, itu artinya akal berfungsi untuk menerjemahkan syari'at. Akal, tunduk di bawah syari'at.
Apakah kemudian ini bisa diartikan berupaya untuk membatasi wilayah kerja akal itu sendiri? Tentu saja pertanyaan ini tak akan muncul jika setiap muslim telah memahami benar pada bab ma'rifatullah. Kita mempercayai bahwa Ilmu Allah itu meliputi segala. Kita telah tahu bagaimana keluasan ilmu Allah. Semua kepentingan hidup kita berupa bagaimana menjalani hidup, berawal mula dari mana, dan akan berakhir ke mana telah lengkap diatur sedemikian rupa dalam Al-Qur'an dan hadits, telah lengkap dalam cakupan syari'atNya. Itulah kemudian dapat dipahami korelasi tentang diwajibkannya menuntut ilmu seumur hidup. Di sini, tak lain, ingin ditegaskan bahwa benar adanya akal kita ini terbatas, terbukti bahwa logika kita tak mampu menjangkau pada hal-hal yang ghaib.
Ketika pendapat kita bertentangan dengan nash Al-Qur'an dan hadits, maka yang sudah pasti yang harus disingkirkan adalah pendapat kita. Dan mengambil apa yang ada di dalam Al-Qur'an dan hadits. Ya, pendapat kita yang bisa benar dan bisa salah, sementara Al-Qur'an - Hadits sudah barang tentu kebenarannya. Akallah yang harus "dicurigai", bukan syari'atnya. Harus dipahami bahwa akal yang membenarkan syari'at, bukan syari'at yang membenarkan akal.
Jika tak jua penjelasan ini mampu mengubah padangan sebagian kita tentang akal yang tak lebih shahih dari kalam Allah, mungkin kita bisa kembali belajar pada kekafiran iblis. Yang dengan begitu bangganya menggunakan logika akalnya ketika diperintah untuk sujud pada Adam AS, "Aku lebih baik daripadanya (Adam), Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." Ya, kekafiran, begitulah akhir cerita dari pengagungan akal dan pengabaian kalamNya. Dan inilah yang di inginkan para musuh-musuh Islam, keluarnya kita dari agama rahmat ini.
Tidak ada agama yang begitu memperhatikan keberadaan akal seperti halnya agama Islam. Menjelaskan pada wilayah yang mana ia harus bekerja, bahkan berbagai larangan agar akal kita tetap terjaga dan mempunyai kejernihan berpikir, seperti misalnya larangan meminum khamr. Pun, untuk sebagian orang yang belum berakal (belum baligh) dan tidak berakal (gila) Allah SWT telah mengaturnya dengan tidak membebankan hukum syari'at apapun terhadap mereka. Karena memang syari'at diperuntukkan bagi orang-orang yang berakal. Syari'at yang tidak akan pernah menyelisihi akal dari zaman dahulu hingga sampai kapanpun.
Ketika kita telah mampu mendudukkan hal ini, maka apapun yang datang dari luar Islam dengan konteks menentang hukum Islam itu sendiri, dapat dengan tegas dan percaya diri kita tangkis. Karena (biasanya) mereka bermain-main pada wilayah logika. Sementara jelas, betapa sempitnya hidup ini kalau semua masuk ke dalam wilayah logika!
Iman yang shahih, itulah jawaban pamungkas penangkal semua ghazwul fikr. Karena kita mempunyai tempat rujukan yang jelas tentang bagaimana menjalani hidup ini dengan baik dan benar, tak lain dan tak bukan; Al-Qur'an dan Hadits Nabi SAW. Ya, dengan keimanan yang shahih, yang memangkalmulakan ketakwaan, maka ghazwul fikr hanyalah sebentuk upaya pembodohan yang tak kan pernah bisa membodohi kita.
Wallahu a'lam bishshawab.
KotaSantri.com © 2002-2026