Pelangi » Jurnal | Sabtu, 23 April 2011 pukul 12:45 WIB

Fenomena Dakwah Sekolah di Tengah Arus Ghazwul Fikri

Penulis : Marsahid Agung S

Hampir setiap tahun dalam dekade terakhir ini, bila diamati dengan cermat, berbagai informasi yang ada di media massa (cetak dan elektronik), maka akan mendapati salah satu sisi yang diukir oleh generasi remaja yang berintikan pelajar sekolah menengah. Dalam perjalanan sejarah, telah tertoreh dengan tinta emas bagaimana dominasi generasi muda (remaja) dalam menyingkap dan membangun peradaban. Hampir semua pentas perubahan dunia tidak lepas dari campur tangan generasi muda, termasuk juga penghancuran peradaban Islam oleh pemuda Turki, Kemal Attaturk. Merekalah tumpuan pancaran semangat idealisme kehidupan.

Perhatikan bagaimana Rasulullah SAW merekrut para sahabat muda pada awal-awal penyampaian risalah Islam. Sebutlah Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Mush’ab bin Umair, Ammar bin Yasir, Bilal, dan yang lainnya. Ingatlah bagaimana para pemuda Indonesia mempelopori persatuan dan kesatuan lewat "Sumpah Pemuda"-nya. Perhatikan bagaimana arek-arek muda Surabaya menghancurkan keangkaramurkaan tentara sekutu-NICA dengan keperkasaan mereka di bawah sulutan takbir Bung Tomo. Lihat bagaimana para pemuda menjadi motor reformasi. Perhatikan bagaimana kualitas mereka di panggung sejarah.

Namun sekarang, tengoklah zaman dan keadaan. Sepuluh atau lima belas tahun terakhir ini, remaja-remaja kota besar di Indonesia (bahkan kini merambah ke kota-kota kecil), menampakkan berbagai penyimpangan perilaku sosial dan seksual yang semakin mengkhawatirkan. Budaya tawuran, perkelahian pelajar, seolah merupakan penyakit warisan yang sulit disembuhkan. Selama periode ini, ratusan pelajar SMU/SMK (bahkan SLTP) menjadi korban, belum termasuk yang meninggal dunia serta aneka kendaraan bermotor dan bangunan yang ikut hancur.

Bagaimana pula perilaku mereka di pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota lainnya, gaya hidup remaja yang bebas, glamour, konsumtif, urakan, dan cenderung ‘westlife’(kebarat-baratan). Sulit dimengerti bahwa mereka ternyata mayoritas remaja muslim. Mereka terbenam dalam hingar bingar musik, pesta, cinta, dan perilaku yang destruktif. Gersang iman dan ketenangan jiwa. Belum lagi penyimpangan perilaku seksual mereka yang memprihatinkan. Sebuah surat kabar harian lokal Lampung dalam suatu edisinya memberitakan tentang penangkapan beberapa orang ABG SMU/SMK sedang ‘beroperasi’ sebagai ‘WTS’ oleh petugas Kamtib dalam suatu razia di Bengkulu dan Serang.

Prestasi kelam para remaja pun semakin berderet panjang dengan kasus-kasus penyalahgunaan narkoba, pesta seks, kumpul kebo, pemerkosaan, dan sebagainya yang banyak melibatkan remaja. Generasi yang katanya harapan bangsa.

***

Antara Harapan dan Kenyataan

Dakwah merupakan suatu proses dan struktur yang berkesinambungan. Dalam mencapai target dan hasil yang optimal, tidak boleh ada celah-celah yang dibiarkan kosong. Namun selama ini tampaknya ada (banyak?) mata rantai yang terputus, hilang terabaiakan, dan belum sempat tersentuh. Potret remaja masa kini di atas adalah salah satu bukti dari masih adanya mata rantai yang putus atawa celah dakwah yang terabaikan. Mengapa remaja kita saat ini berprestasi kelam, padahal mereka (katanya) adalah generasi harapan? Bisa jadi karena kurangnya perhatian gerakan (dakwah) Islam terhadap para remaja/pelajar, atau karena gencarnya serangan musuh-musuh Islam yang belum bisa diimbangi oleh para aktivis dakwah kita karena terbatasnya SDM dakwah. Remaja kita, umumnya dari kecil mereka dibina melalui TPA/TKA, namun ketika menginjak dewasa (SLTP-SMU/SMK), pembinaan mereka terputus karena tidak adanya pembinaan di tingkat itu. Baru setelah memasuki tingkat universitas mereka mendapatkan pembinaan kembali, itupun tidak semuanya bisa ‘ditarik’ lagi karena sudah terkena Ghazwul Fikri.

Selama ini memang terlihat bahwa ada kecendrungan para kader/aktivis dan para pendukung dakwah lebih banyak ‘memfasilitasi’ dakwah mereka yang berada di golongan mapan; mahasiswa. Sehingga tak heran selama ini dinamika dakwah kampus terlihat lebih semarak, lebih hidup, dan lebih terdengar kelangsungannya ketimbang komunitas dakwah lain. Dalam LPJ-nya, sebuah DPD partai dakwah di suatu daerah melaporkan bahwa untuk bidang Pemuda, hanya program koordinasi dakwah kampus yang terlaksana, sedangkan program lain belum dapat dilaksanakan (anehnya dalam program-program lain itu, dakwah sekolah tidak tercantum!) karena SDM terbatas. Dan dalam LPJ itu juga disebutkan bahwa Kampus adalah wilayah garapan utama dan strategis.

Padahal ada kelompok lain yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan. Salah satunya adalah mereka para remaja-pelajar yang berintikan pelajar SMU/SMK. Padahal dilihat dari berbagai kedudukan dan urgensinya, level inlah yang harusnya menjadi sasaran prioritas pembinaan dan pengkaderan. Memang selama ini dakwah sekolah telah berjalan, tapi toh tetap saja mereka ‘kalah’ karena merasa ‘dianaktirikan’ oleh gerakan dakwah (beberapa ADS pernah ‘curhat’ tentang hal ini).

Generasi remaja yang intinya terdiri dari para pelajar SMU/SMK memiliki beberapa kedudukan yang penting berkaitan dengan aktivitas dakwah. Pertama, jumlah pelajar di Indonesia sangat besar, jauh lebih banyak dari generasi di atasnya (mahasiswa), yaitu sekitar 10-15% dari jumlah penduduk Indonesia. Dari jumlah itu hanya 10-20 % saja yang melanjutkan ke jenjang PT. Hal ini berarti jika yang sebagian besar itu tidak mengenal nilai-nilai Islam dan kebenaran hakiki –karena tidak adanya dakwah sekolah– ketika lulus dan masuk dunia kerja/kembali ke masyarakat, maka masyarakat akan semakin banyak dihuni oleh orang yang jauh dari nilai Islam. Padahal yang sebagian kecil ke PT/universitas pun juga tidak semuanya mendapat hidayah Islam lewat sentuhan dakwah kampus. Di sini terlihat bahwa peran dakwah sekolah amatlah vital untuk meningkatkan persentase para pelajar yang sadar ber-Islam agar jumlah masyarakat yang sadar ber-Islam semakin banyak.

Kedua, remaja umumnya memiliki nilai dan sifat dasar yang baik. Sifat mereka yang dinamis, kreatif, agresif, spontan, heroik, mudah meniru, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sangat cocok jika dikenalkan dengan nilai-nilai Islam yang dinamis dan universal. Namun remaja memiliki tingkat emosional yang labil, terburu-buru, dan mudah putus asa, serta biasanya seorang remaja ketika di SMU/SMK tengah mencari kepribadian/jati dirinya, sisi inilah yang perlu kita bina.

Ketiga, para remaja-pelajar SMU/SMK terdapat di seluruh propinsi dengan penyebaran sampai ke tingkat kecamatan bahkan desa (bandingkan dengan PT yang hanya di tingkat propinsi dan tidak merata). Dengan demikian, jika aktivitas pembinaan keislaman menyebar di seluruh SMU/SMK, maka akan semakin banyak wilayah yang terwarnai dengan nilai-nilai keislaman hingga nantinya dakwah akan semakin menyebar.

Keempat, waktu para remaja-pelajar lebih banyak dihabiskan di luar rumah (sekolah : 7 jam sehari; bimbel/kursus/ekskul : 2-4 jam sehari). Dengan demikian, aktivitas mereka di luar rumah sebagian besar adalah di sekolah. Bila porsi waktu yang banyak ini dimanfaatkan untuk mengenalkan Islam lewat dakwah sekolah, insya Allah sangat berguna.

Melihat berbagai hal di atas, maka sangat nampak bahwa prospek penerimaan (dakwah) Islam di kalangan remaja-pelajar SMU/SMK sangat cerah, asalkan ada pihak-pihak yang berkomitmen untuk melakukannya. Sejalan dengan perkembangan dakwah yang ada secara umum serta perkembangan zaman yang memasuki era globalisasi, memang nampak dan dirasakan bahwa peningkatan (perhatian) dakwah di kalangan remaja-pelajar ini sangat perlu dilakukan mengingat adanya tuntutan dan realita sebagai berikut :

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang menghasilkan kalangan terpelajar sebagai aset bagi kepemimpinan ummat dan bangsa di masa mendatang, karena itu semakin banyak pelajar yang komitmen terhadap nilai-nilai Islam lebih menjamin banyaknya nilai-nilai kebaikan yang mewarnai kehidupan di masa depan.

Para remaja khususnya pelajar merupakan pelaku penyimpangan perilaku seksual dan sosial yang cukup besar, hal ini dapat kita lihat dari realita dalam uraian di atas. Sebab mereka merupakan sasaran terbesar Ghazwul Fikri dan arus informasi musuh-musuh Islam. Kita juga dapat mengamati bahwa mode dan trend (baik atau buruk) sangat mudah berkembang di kalangan remaja karena sifat mereka yang mudah meniru dan spontan. Hal ini juga sekaligus merupakan dakwah terbesar di kalangan remaja.

Dakwah sekolah merupakan tuntutan untuk menjaga kesinambungan rantai dakwah. Aktivitas dakwah di kalangan generasi berikutnya (kampus), sangat ditentukan dengan keberhasilan dakwah di lingkungan sekolah. Begitu juga dakwah di masyarakat umum akan lebih mudah dengan adanya dakwah sekolah. Sebab lebih mudah menyebarkan suatu nilai/idealisme di kalangan remaja yang masih berkembang pemikirannya serta dalam masa pencarian jati diri, sehingga akan semakin mantap ketika ia memasuki dunia perguruan tinggi atau kembali ke masyarakat, daripada harus mulai mengenalkan Islam ketika mereka sudah di PT atau di masyarakat. Dengan demikian dakwah sekolah sangat berperan dalam roda dakwah secara umum, atau dengan kata lain peran dakwah sekolah adalah sebagai muqaddimah/prolog bagi dakwah tingkat selanjutnya (dakwah qashshaf).

Tantangan-tantangan di atas jelas harus kita perhatikan dan kita tindaklanjuti. Ingatlah bahwa pilar penting dalam dakwah adalah sistemasi dakwah atau pentahapan yang terencana (marhaliyah).

KotaSantri.com © 2002-2026