Pelangi » Jurnal | Sabtu, 26 Maret 2011 pukul 13:31 WIB

Beginilah Seharusnya Manusia Berakal

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Sungguh tak akan mungkin Anda yang membaca tulisan ini, jika Anda bukan manusia berakal. Betul? Karena itu pula saya ingin berbagi dengan Anda. Berbagi pengetahuan yang baru saya dapatkan. Pengetahuan itu tentunya untuk membuktikan bahwa saya dan Anda adalah manusia yang diberi akal oleh Allah. Plus, ingin menjadi manusia yang mampu menggunakan akalnya dengan baik. Jika Anda tanyakan, apakah ada manusia yang tak menggunakan akalnya dengan baik? Jawaban saya, ada. Banyak. Saya tak ingin bergabung dalam komunitas mereka. Demikian halnya juga dengan Anda, bukan?

Bicara manusia berakal, artinya saya ingin mengajak Anda agar benar-benar berbeda dengan hewan. Dan, lebih mulia dibanding Malaikat. Apa bisa? Tentu saja bisa. Malaikat mulia karena dia tak pernah dikaruniai nafsu. Jadi wajar, jika mereka senantiasa tunduk kepada Allah. Berbeda sekali dengan kita. Kita selain diberi akal, juga dikaruniai nafsu. Ketika terlena dibujuk nafsu, kita bisa lupa dengan perintah dan larangan Allah. Makanya, saya berani bertutur kita bisa menjadi hamba yang lebih mulia dari Malaikat, jika pandai menggunakan akal dan nafsu kita sesuai dengan porsinya.

Baik. Catatan ini sengaja ditulis agar saya senantiasa teringat akan peran saya di dunia ini. Yaitu, menjadi manusia berakal yang dianugerahi Allah dan mampu menggunakan peran yang diberikan dengan baik. Anda yang membaca, tentunya juga memiliki cita-cita yang sama dengan saya. Karena itu, mari kita sama-sama berjuang menjadi manusia berakal dengan apik.

Terus, sumber apa yang saya gunakan untuk menyemai diri menjadi manusia berakal yang sempurna? Sudahkah Anda membaca catatan saya tentang "Trik Menjadi Kekasih Allah" atau catatan tentang "Terapi Menyembuhkan Kegelisahan Hati"? Jika sudah, pastinya Anda bisa menebaknya. Benar, saya masih mengggunakan rujukan buku "Nashail al-Ibad" karya Imam Nawawi al-Bantaniy.

Di makalah ke-7, Bab III, Penulis memaktubkan sebuah riwayat yang bersumber dari Nabi Daud AS. Beliau bersabda, diturunkan wahyu di dalam kitab Zabur yang isinya, "Hendaklah orang yang berakal itu menyibukkan dirinya pada tiga hal. Pertama, mempersiapkan bekal, sejak dini, untuk kembali ke akhirat. Kedua, mencari biaya hidup. Ketiga, mencari kelezatan dalam sesuatu yang halal." Cuma tiga inikah tugas manusia berakal? Ya, cuma tiga ini. Kenapa? Apakah bagi Anda melakukan ketiga hal tersebut mudah? Alhamdulillah, jika Anda merasa ini mudah.

Kalau saya tetap merasa ketiga tugas manusia di atas berat dilakukan. Berat karena barangkali saya masih suka berkomplotan dengan nafsu. Kadang-kadang saya lupa kalau saya punya tempat kembali, akhirat. Saya lupa kalau mencari biaya hidup dengan sungguh-sungguh. Saya masih suka mikir, asal dapat uang untuk mengisi di dompet dan bisa makan, sudah cukup. Terkadang, saya juga lupa menuntut kelezatan dari sesuatu yang halal. Saya masih suka makan dengan penuh kekenyangan. Saya juga suka lupa untuk berbagi dengan mereka yang mengalami kesusahan. Rezeki yang saya punya pun terkadang lupa disisihkan untuk mereka.

Memang asyik jika melihat kondisi orang yang berakal ini pada diri Rasulullah, para sahabatnya, dan orang-orang shaleh. Misalnya saja Utsman bin Affan. Beliau kaya dan mampu menggunakan akalnya dengan baik. Beliau tidak sungkan-sungkan bersedekah dan berinfak. Tidak pakai-pakai hitung-hitungan kayak saya. Kalau Anda, bagaimana? Dijawab sendiri saja ya! Amal ibadah Utsman Bin Affan juga cukup mengagumkan. Demikian juga dengan Bilal bin Rabbah. Meski seorang yang berstatus sosial rendah di hadapan manusia saat itu, tapi dia sanggup melakukan tugas manusia berakal dengan apik. Ahmad bin Hanbal juga demikian. Meski keilmuan yang tinggi dan amal ibadahnya tak diragukan lagi, ia juga seorang pekerja keras. Ia tidak pernah mencari makan dengan uang dakwahnya. Ia setiap hari pergi membawa kapak untuk mencari kayu, yang dijualnya demi mencari kelezatan dari yang halal untuk dirinya dan keluarganya. Ia pun tak pernah merepotkan orang lain di dalam hidupnya.

Lalu, bagaimana dengan kita? Ups, maaf, saya maksudnya. Saya masih malu dengan mereka. Tapi, bukan berarti saya tak berusaha seperti mereka. Saya selalu berusaha dan terus mencoba untuk bisa menjadi seperti mereka. Bekerja dengan usaha yang maksimal. Memanfaatkan fungsi akal sebaik-baiknya. Saya tak boleh lengah untuk menyiapkan bekal saat kembali menghadap Allah. Malu sekali jika ditanya nantinya, apa yang kamu lakukan di dunia? Jika saya hanya menjawab dengan perkataan yang tidak berarti, tentunya malu. Saya juga malu, jika ditanya apakah dirimu bekerja dengan sungguh-sungguh sebagai bekal kembali ke akhirat? Apakah pekerjaanmu itu tidak mengandung perbuatan zhalim terhadap orang lain? Wah, jika pertanyaan seperti ini yang ditanyakan Allah, saya sungguh belum bisa menjawabnya. Saya masih, merasa, suka menzhalimi orang lain di dalam bekerja. Masih suka korupsi dengan waktu. Cukupkah hanya pengakuan seperti ini saja? Tentu saja tidak cukup. Harus berubah untuk tidak menyia-nyiakan waktu orang lain yang ada pada diri kita. Saya juga harus senantiasa menilai, apakah saya selalu menemukan kelezatan dan kenikmatan yang halal dari setiap yang saya lakukan. Beragam pertanyaan memang masih belum bisa terjawab diri ini.

Bagaimana dengan Anda? Saya berharap Anda jauh lebih baik dari saya. Anda sudah menyiapkan bekal dengan baik. Anda sudah memfungsikan pekerjaan Anda untuk bekal ketaatan kepada Allah. Anda juga sudah berada di dalam kelompok yang senantiasa mendapatkan kelezatan dari setiap usaha yang dilakukan dan makanan yang dimakan. Saya berharap Anda memang demikian adanya.

Jika merasa masih jauh atau belum seperti apa yang termaktub di dalam Zabur tersebut, maka saatnya saya dan Anda harus berubah menjadi seperti apa yang dituturkan Nabi Daud di dalam kitab yang diturunkan kepadanya. Kita harus berjuang untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan diakhirat. Bukankah kita selalu berdo'a dengan firman Allah yang termaktub di dalam surat al-Baqarah ayat 201, "Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka."? Ayat yang mengandung do'a ini juga berisi tentang apa yang harus dilakukan oleh orang yang berakal seperti apa yang dituturkan nabi Daud AS dari kitab Zabur. Ayo, semangat beribadah, bekerja, dan mencari kelezatan yang halal. Jangan sampai kita tak bisa menyibukkan diri seperti apa yang dikatakan nabi Daud AS. Mari kita sama-sama mendo'akan semoga menjadi manusia berakal yang sempurna. Amin.

KotaSantri.com © 2002-2026