Pelangi » Jurnal | Sabtu, 29 Januari 2011 pukul 12:40 WIB

Menyoal Rahasia Air Zam-zam

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Oleh-oleh utama yang dibawa para jamaah haji pasca menunaikan rukun Islam yang ke-lima adalah air Zam-zam. Air minum nabi Ismail as. dan ibunya, Siti Hajar tersebut kerap menjadi penantian bagi sanak famili para jamaah haji. Sehingga, dapat dikatakan, pulang dari Mekkah tanpa membawa air Zam-zam sama halnya pulang dengan jasad tanpa ruh. Pasalnya, untuk mendapatkan air Zam-zam yang orisinil harus langsung dari mereka yang datang dari Mekkah.

Dalam bahasa Arab, kata “zam-zam” memiliki arti yang banyak atau melimpah. Dan memang kenyataannya, sumur Zam-zam merupakan sumur yang memiliki air yang sangat banyak dan melimpah. Sumur yang tak akan pernah kekeringan atau kehabisan air. Bahkan, Abdul Basit bin Abdurrahman mencatat dalam buku “Makkah al-Mukarramah Fadhaailuha wa Tariikhuha”, bahwa sumur Zam-zam sudah berumur hampir 5000 tahun sejak nabi Ibrahim hingga sekarang.

Menurut Ibnu Barry, Zam-zam mempunyai banyak nama, antara lain: birrah (kebaikan), maktuumah (yang tersembunyi), madhmuunah (yang berharga), syubaa’ah (yang mengenyangkan), siqaayah (yang memberi minum), al-Ruwa (yang menyegarkan), hazmah Jibril (galian Jibril), syifa syuqmin (obat penyakit), thaa’amu tha’min (makanan), syarabul abraar (minuman orang-orang baik), hafiirat Abdul Muththalib (galian Abdul Muththalib).

Nama-nama tersebut, sejatinya, mengacu pada manfaat yang terdapat pada air Zam-zam dan latar historis kemunculannya. Meskipun menurut al-Mas’udi, sejarah air Zam-zam mengacu pada tradisi orang-orang persia di masa lalu, di saat menunaikan ibadah haji. Mereka datang berbondong-bondong. Saat mereka meminum air tersebut terdengar suara “Zam-zam”. (Zuhairi Misrawi, 2009)

Perlu diketauhi, di pelbagai literatur klasik dicatat, bahwa air Zam-zam pernah hilang dari permukaan. Beraneka penyebab pun diwartakan oleh para ulama. Namun, kabar yang paling santer adalah, yang berhubungan dengan kabilah Jurhum. Perihal kabilah Jurhum juga masih terjadi perselisihan pendapat tentang kesahihan kabarnya. Zuhairi mencatat dalam bukunya “Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan dan Teladan Ibrahim”, bahwa hilangnya air Zam-zam karena faktor teologis. Yaitu, azab Tuhan bagi kabilah Jurhum, yang tidak memelihara mata air. Mereka berfoya-foya dengan materi yang didapatkan dari Ka’bah. Ada juga yang berpendapat, tulis Zuhairi, bahwa hilangnya mata air Zam-zam karena musuh-musuh kabilah Jurhum menutupi mata air dengan barang bawaan mereka.

Penemuan kembali mata air Zam-zam di kala Abdul Muthalib menjadi penanggungjawab masalah pelayanan air (al-Siqayah). Penemuan ini bermula dari mimpi. Hal ini sebagaimana dimuat Thoha Husein dalam bukunya ‘Alaa Haamisy al-Siirah. Dikisahkan, sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Hisyam, bahwa Abdul Muthalib bermimpi selama tiga hari perihal perintah untuk menggali mata air, yaitu mata air Thayyibah, Madhmuunah dan Barrah. Ia terus bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan mimpi tersebut. Tak ingin mengalami kebingungan sendirian, ia pun mengutarakan mimpi tersebut kepada isterinya. Hingga akhirnya, datanglah pesan yang lebih jelas agar menggali air Zam-zam.

Untuk menjalankan misinya, ia mengajak anaknya, Harits. Ia sengaja hanya berdua saja mencari tempat mata air tersebut, karena khawatir jika mimpinya bukanlah petunjuk. Kala sumber yang menjadi pedomannya (tempatnya berada di bawah tempat patung-patung berhala) mengeluarkan air Zam-zam yang ditemukan oleh Ismail as dan ibunya, ia pun memanggil masyarakat Quraish untuk menikmati kembali air Zam-zam. Sehingga, dapat diklaim, bahwa prestasi luar biasa yang ditorehkan Abdul Muthalib adalah penemuan kembali mata air Zam-zam.

Mari beranjak mengenal rahasia air Zam-Zam. Rasulullah Saw. bertutur dalam redaksi hadis, “Tanda (yang membedakan) antara kita dan orang-orang munafik adalah, bahwasannya mereka tidak akan memperoleh kekuatan dari air Zam-zam”. Hadits ini menjelaskan tentang dua hal penting, yaitu soal manfaat air zamzam dan sosok seorang munafik.

Menyoal manfaat air Zam-zam, dapat ditemukan dalam kitab “Shahih Muslim”. Salah satu riwayat hadis yang menjelaskan keistimewaan air Zam-zam adalah, tatkala Nabi Saw. bertanya kepada Abu Dzar yang telah tinggal selama 30 hari di sekitar Ka’bah tanpa makan apapun. Jawabannya, setiap hari ia hanya minum air Zam-zam.

Malah, Abu Dzar pernah ditanya seseorang ihwal kehidupannya selama di Mekkah. “Siapa yang telah memberimu makan?”. “Aku tidak punya apa-apa kecuali air Zam-zam ini. Tapi, Aku bisa gemuk dengan adanya gumpalan lemak di perutku,” jawab Abu Dzar. Ia juga menjelaskan, “Aku juga tidak merasa lelah atau lemah karena lapar, dan juga aku tidak kurus.” Nabi SAW. pun menambahkan, “Air Zam-zam bermanfaat untuk apa saja yang diniatkan ketika meminumnya. Jika engkau minum dengan maksud agar sembuh dari penyakit, maka Allah menyembuhkanmu. Jika engkau minum dengan maksud supaya merasa kenyang, maka Allah mengenyangkanmu. Jika engkau meminumnya agar hilang rasa hausmu, maka Allah akan menghilangkan dahagamu itu. Ia adalah air tekanan tumit Jibril, minuman dari Allah untuk Ismail.” (HR. Daruqutni)

Sedangkan hubungan air Zam-Zam dengan munafik diperkuat dengan salah satu sabda Rasulullah SAW. yang bernada, “Merasa kenyang oleh air Zam-Zam adalah pertanda terbebas dari kemunafika.” (HR. Ibnu Abbas). Artinya, orang munafik tidak akan memperoleh kemanfaatan apa pun dari air Zam-zam. Pasalnya, air Zam-zam merupakan air suci yang memliki banyak keistimewaan.

Hasil penelitian di Eropa dan Saudi Arabia menunjukkan, bahwa air Zam-zam mengandung zat Fluorida yang punya daya efektif membunuh kuman, layaknya seperti sudah mengandung obat. Air Zam-zam juga beda dengan air sumur lain di kota Mekkah. Terlebih soal kuantitas kalsium dan garam magnesium. Kandungan kedua mineral tersebut sedikit lebih banyak pada air Zam-zam. Tak hanya itu, komposisi dan rasa kandungan garamnya selalu stabil, selalu sama sejak terbentuknya sumur itu. Rasanya selalu terjaga. (Majalah Hidayah Edisi 100- Desember ’09)

Jadi, saat meminum air Zam-Zam hendaklah bersihkan hati dan pikiran dari perilaku dan sifat munafik. Sebab, segala tindakan, terlebih meminum air Zam-zam, akan memberikan manfaat bila dilakukan dengan penuh ketulusan, rendah hati, berserah diri kepada Allah, dan semata-mata memperoleh keberkahan dari Allah SWT.

KotaSantri.com © 2002-2026