
Pelangi » Jurnal | Sabtu, 20 November 2010 pukul 20:45 WIB
Penulis : Marsahid Agung S
Hampir setiap hari di hampir setiap stasiun televisi yang ada di negeri ini, selalu menampilkan tayangan tentang berbagai kasus kriminal. Entah bertujuan untuk menunjukkan betapa negeri ini sudah aman dengan aparat yang sungguh sigap atau justru sebaliknya, yaitu menunjukkan bahwa hidup kita semakin terancam, tetapi yang pasti tercatat ada Buser, Investigasi, Patroli, Halo Polisi, Sergap, dan beberapa tayangan lain sejenis. Masing-masing tayangan di rancang secara khusus, meski tak jarang materi berita -kasus- yang disampaikan sama.
Sebuah keprihatinan muncul sebagai efek dari maraknya tayangan tersebut. Bukan keprihatinan berkait dengan tayangan yang bersangkutan, melainkan keprihatinan ketika mendapati dalam setiap tayangan diberitakan adanya tindak kejahatan berupa penyelewengan seksual -dari pencabulan sampai perkosaan-. Terutama ketika ternyata yang terlibat -sebagai tersangka- bukan saja orang dewasa yang memang sudah faham tentang segala konsekuensi peyelewengan seksual, namun juga remaja, bahkan tak jarang anak-anak yang sesungguhnya masih butuh pengetahuan lebih tentang hal tersebut.
Keprihatinan pun bertambah dalam manakala media lain mengungkap bahwa ternyata tidak sedikit jumlah pelajar atau mahasiswa yang sudah pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah dan bahkan telah menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Ini terbukti dengan beberapa kasus aborsi yang dimuat beberapa media dan menjadi dokumentasi pribadi. Ditambah bukti bahwa jumlah remaja pengkonsumsi narkoba telah mencapai angka jutaan. Bahkan penelitian ILO mengindikasikan bahwa 40 juta populasi remaja 10-20 tahun rawan menjadi korban Narkoba (Republika, 27 Juni 2005).
Sebagian orang berhasil mengimplementasikan keprihatinannya dengan cara melakukan beberapa penelitian tentang 'mengapa bisa terjadi demikian?'. Mengutip beberapa hasil penelitian tersebut ternyata ditemukan beberapa hal yang menjadi alasan mereka melakukannya, baik yang berupa tindak kejahatan ataupun yang dilakukan atas dasar suka sama suka dan tanpa paksaan, di antaranya; kurangnya pengetahuan tentang sex secara benar termasuk resiko dan konsekuensi melakukan hubungan tanpa jalinan yang sah, kurangnya benteng keimanan yang membuat seseorang mudah terjerumus, juga karena mereka terangsang setelah menyaksikan gambar atau foto atau juga VCD porno dan masih banyak lagi, tetapi pada umumnya ini lah alasan mereka. Ketiga alasan tersebut sebenarnya bukan alasan yang terpisah-pisah karena saling berkait satu sama lain.
Porsi kesalahan karena memicu terjadinya perilaku yang tidak sepantasnya itu pun boleh jadi berimbang, karena idealnya memang orang yang imannya kuat dan tahu benar resiko yang akan ditanggung tidak akan mudah tergoda dengan apa pun, termasuk berbagai produk pornografi. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ternyata setelah di survey, sekitar 70 % lebih mengaku bahwa mereka melakukan itu setelah menyaksikan gambar atau VCD porno.
Sejak ditemukannya beberapa kasus, sejak masyarakat mulai diresahkan dengan keselamatan & masa depan putra-putrinya di tengah arus globalisasi -yang siap menghanyutkan siapa pun yang memang tidak berpegang pada keimanan dan ketakwaan-, sesungguhnya upaya perlawanan terhadap pornografi sudah dimulai. Hanya saja, saat itu terbentur pada opini sementara orang yang dengan keras menolak tuduhan bahwa yang mereka tuangkan dalam gambar, yang mereka cetak sebagai foto, atau yang mereka filmkan dalam VCD bukanlah pornografi, melainkan sebuah ekspresi seni. Saat itu -bahkan sampai sekarang masih ada- mereka menolak tuduhan bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas kemerosotan moral putra bangsa ini.
Menyedihkan lagi ketika tidak ada tindakan sigap pemerintah untuk menangani kasus ini, bahkan pemerintah seolah turut menjaga para produsen produk pornografi karena keuntungan materiil yang dijanjikan -yang sesungguhnya tidak seberapa jika dibandingkan dampak negatif yang kemungkinan akan membutuhkan cost yang lebih mahal, bahkan tak terbeli : ketidakjelasan masa depan bangsa dan generasi penentunya. Betapa tidak, akan seperti apa bangsa ini jika generasi penentu masa depannya hanya tahu cara berfoya-foya dan hanya memperturutkan hawa nafsu?
Tapi kini, ketika berbagai penelitian mengungkap bahwa ternyata tidak kurang dari 70% responden menyatakan terangsang dan tergoda untuk melakukan perbuatan yang tidak semestinya itu karena gambar atau VCD porno yang telah mereka lihat dan saksikan sebelumnya, adakah masih merasa tidak bertanggung jawab?
Kalau memang seni yang selalu saja mereka jadikan tameng, maka seharusnya mereka telusuri lebih dalam tentang seni. Setiap kita meyakini bahwa ada satu ciri dari setiap karya seni, yaitu indah -meskipun indah memiliki taraf relativitas tersendiri- namun tetap saja ada batasan antara 'indah' dan 'tidak indah'. Mengapa manusia menciptakan karya seni? Jelas karena manusia butuh menikmati keindahan. Mengapa manusia butuh keindahan? Karena keindahan itulah yang akan membangkitkan kembali energi positif untuk menapaki kehidupan selanjutnya. Mengapa pula manusia harus membangkitkan energi positif untuk kehidupannya? Karena manusia butuh memastikan bahwa hidupnya akan selalu meningkat, lebih baik dan lebih baik.
Dengan pemahaman seni seperti yang telah dipaparkan di atas, maka sungguh pornigrafi tidak bisa dimasukkan di dalamnya. Mungkin benar adanya jika sebagian orang menemukan keindahan tersendiri dari pornografi, ini dikarenakan indah itu relatif, sehingga setiap orang berhak mengklaim ini indah dan itu tidak menurut seleranya. Mungkin juga tidak salah jika sebagian mereka pun serasa mendapatkan semangat hidupnya setelah menikmati berbagai produk pornografi. Akan tetapi kemerosotan moral bangsa adalah dampak nyata yang tidak terbantahkan dari pronografi. Parahnya, dampak itu menyerang generasi muda penentu masa depan bangsa ini.
Bangsa ini masih membutuhkan pemikiran-pemikiran cemerlang generasinya agar bisa exist di tengah kompetisi internasional. Bangsa ini butuh kepastian masa depan yang cerah di tangan generasi penerus cita pahlawan bangsa. Sangat disayangkan ketika harapan kita harus pupus hanya karena generasi muda tidak siap mengemban amanah mewujudkan cita bangsa. Hanya petaka yang bisa dipastikan jika kita -yang masih mengaku sebagai warga negara yang baik- hanya bisa berdiam diri menyaksikan masa depan bangsa terenggut perlahan...
Berat memang, tetapi itulah yang akan kita hadapi jika tidak segera putuskan untuk bertindak. Bahasa yang harus kita gunakan adalah bahasa ketegasan Akankah kita mengikut kemauan sebagian orang yang lebih suka memperturutkan hawa nafsunya dengan berdalih seni dalam setiap praktek pornografinya? Ataukah kita lebih peduli dengan generasi muda kita yang sungguh terlalu mahal untuk dipertaruhkan. Seberapa mahal kah? Semahal masa depan negeri ini.
Adakah pilihan lain bagi kita untuk menyelamatkan generasi, penentu masa depan negeri selain melawan berbagai bentuk pornografi?
KotaSantri.com © 2002-2026