Pelangi » Jurnal | Sabtu, 19 Juni 2010 pukul 20:31 WIB

Iran vs AS, PBB, Yahudi, a.k.a Dajjal?

Penulis : Meyla Farid

Ahmaddinejad, Presiden Iran yang sekarang merupakan sosok yang sangat sederhana dan jauh sekali dari sifat 'arogan' yang dapat ditunjukkan oleh atributnya sebagai seorang pemimpin sebuah negara. Kepribadiannya ini, lebih mendekati sunnah Rasulullah SAW yang senantiasa hidup sederhana sepanjang hidupnya.

Seperti kita ketahui, Rasulullah Muhammad SAW bukanlah seorang yang miskin. Ini terbukti ketika ia menikahi Siti Khadijah, ia memberikan mahar yang sangat besar, yakni 100 ekor unta. Dari sikapnya tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa Rasulullah SAW sebenarnya menganjurkan umat Islam agar menjadi kaya seperti dirinya, tiada lain, untuk bisa memberikan yang terbaik bagi orang lain. Juga menunjukkan kepada dunia Barat sana, yang selalu menuduh Rasul melecehkan para istrinya. Bukti seorang laki-laki sangat menghargai wanita yang dinikahinya salah satunya adalah dari berapa banyak mahar yang dapat ia berikan sebagai bentuk 'penghargaan' dan rasa syukur akan sang istri tersebut (meskipun untuk setiap orang, ini relatif).

Presiden Iran Ahmaddinejad, setidaknya sudah memberi teladan bagi para pemimpin lainnya agar hidup sederhana seperti Rasulullah. Pangkat, jabatan, dan aksesoris dunia lainnya ia letakkan di bawahnya, bukan di atasnya sebagai tujuan. Mengetahui fakta ini saja, kita dapat melihat bagaimana kebaikan selalu menyertai niat dan amalan Presiden Iran tersebut sebagai pemimpin sebuah negara besar dan kaya akan minyak dan sumber daya alam.

***

Fitnah dari AS dan PBB

Akhir-akhir ini tersiar kabar bahwa negara Iran sedang mengembangkan percobaan teknologi nuklir. PBB, dan AS, tentu saja, dengan sengitnya langsung menjadikan kabar tersebut sebagai alasan untuk menuding bahwa Iran sedang mencoba membuat senjata nuklir penghancur dunia. Presiden Iran lalu dengan tegas membantahnya dan segera membuktikan bahwa pikiran AS dan PBB yang terkesan buru-buru menuding itu salah. Iran telah secara terbuka melakukan riset teknologi nuklirnya, sesuai dengan syarat dunia. Pada konferensi Teheran yang diselenggarakan di Iran belakangan hari, Iran menyatakan bahwa mereka akan membahas perlucutan nuklir, non-proliferasi, dan penggunaan teknologi nuklir untuk tujuan damai, yang merupakan dasar-dasar Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Namun apakah pernyataan Iran tersebut dapat diterima oleh AS dan PBB? Ataukah kejadian serupa terhadap negara Irak akan terulang kembali? Masih ingat bukan, ketika mantan Presiden AS yang terdahulu menggaungkan penyerangan terhadap negri Irak hanya karena tudingan dan kecurigaan Irak sedang mengembangkan senjata nuklir? Semuanya baru tudingan, dan tidak pernah terbukti sampai sekarang. Setelah negeri Irak hancur lebam, rakyat Irak mati terbunuh sia-sia oleh 'pasukan perdamaian' AS dan sekutunya, terbukti tudingan AS itu salah. Lalu, tidak ada yang mampu menunjukkan jari kepada pemerintahan AS kala itu bahwa AS telah melakukan suatu tindakan kejahatan kriminal dunia. Bahkan, seorang rakyat Irak yang baru melemparkan sandal ke muka mantan presdien AS kala itu dipenjara dan dinyatakan bersalah di sana. Inilah potret keadilan dan dunia kita sekarang.

Kabar terakhir yang saya baca, AS semakin semangat menyuruh PBB memberikan sanksi yang sangat berat kepada Iran terkait percobaan teknologi nuklir yang secara terang-terangan dan terbuka serta jujur dilakukan oleh Iran di mata dunia. Perlu kita garis bawahi, AS sendiri mempunyai percobaan teknologi serupa. Dan teknologi nuklir tidak hanya untuk membuat senjata, tapi masih banyak manfaat baik lainnya bagi kelangsungan hidup umat manusia di Bumi. Seperti yang diungkapkan Presiden Iran, Ahmaddinejad, bahwa riset teknolog nuklir di negaranya dilakukan secara transparan dan untuk kemaslahatan.

***

Pertanyaan-Pertanyaan

Apakah prasangka buruk AS dan PBB akan kembali menempatkan negara lain menjadi buruan mangsa bagi para tentara militernya? Tanpa bukti, hanya prasangka.

Apakah memang mereka tidak pernah menyesal dengan keadaan negeri lain seperti Irak, yang semuanya disebabkan oleh prasangka saja?

Apakah memang sekarang, dunia, seperti yang diramalkan tentang akan datangnya 'seorang' Dajjal, akan kacau balau dan sulit memegang teguh kebenaran sebagai kebenaran, bukan kebenaran sebagai kesalahan yang diputarbalikkan? Teori Dajjal adalah "Jika sekelompok orang mengikutinya, mereka akan dia tempatkan di posisi aman dan sejahtera (surga dunia). Dan jika sekelompok orang berada di posisi melawannya, mereka akan disiksa dan ditempatkan di neraka dunia."

Apakah kita sekarang sedang melihat kekuasaan yang mampu berbuat demikian? Mensejahterakan mereka yang mendukungnya, meskipun mata hati mereka dibutakan, dan menempatkan mereka yang melawannya di 'neraka' dunia.

Siapakah Dajjal? Apakah maksud simbol-simbol tentangnya? Sungguh, kita sekarang sedang menonton pertunjukkan dunia yang mirip sekali tanda-tandanya dengan sosok Dajjal ini. AS, a.k.a Yahudi, Israel a.k.a Yahudi, PBB a.k.a Yahudi.

KotaSantri.com © 2002-2026