
Pelangi » Jurnal | Sabtu, 27 Februari 2010 pukul 20:45 WIB
Penulis : Ferry Hadary
Sekilas, tak tampak bahwa kata mangga berbeda dengan manga. Apalagi secara pengucapan pun nyaris sama. Tetapi, artinya jelas sangat berbeda walaupun hanya selisih jumlah 1 huruf 'g' saja.
Mangga adalah salah satu nama buah-buahan yang mudah diperoleh di pasar. Bahkan mangga pun beraneka ragam jenisnya, ada Arummanis, Manalagi, Indramayu, Golek, Gadung, dan masih banyak lagi. Tidak hanya mangga ranum yang disukai orang, mangga muda atau mengkal pun kadang jadi idaman para wanita ngidam. Tak heran kalau buah mangga selalu ditunggu musimnya, karena saat itu dapat dibeli dengan harga murah.
Sementara manga, dalam bahasa Jepang, artinya adalah komik. Di negeri asalnya, manga sangat populer. Biasanya majalah-majalah manga tersebut terdiri dari beberapa judul komik yang setiap judulnya memuat sekitar 30-40 halaman. Tak heran apabila setiap terbitan jumlah halamannya cukup tebal, berkisar 200 hingga 850 halaman. Jika sukses, maka setelah beberapa terbitan manga inilah yang diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, seperti Bahasa Indonesia.
Sebagaimana di Jepang, Indonesia juga pernah jaya dengan komik-komiknya. Penggemar komik di Indonesia, pasti tak akan melupakan cerita Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes TH yang mulai terbit tahun 1967. Beliau adalah seorang seniman warga negara Tionghoa yang lahir dan besar di Tangerang. Goresan tangan beliau pula menghasilkan karya-karya seperti jagoan betawi Si Jampang, tetralogi : Tjisadane, Krakatau, Tuan Tanah Kedawung, serta Nilam dan Kesumah. Ada juga karya seniman lainnya, seperti Mandala Siluman Sungai Ular karya Mansyur Daman (Man), Jaka Sembung dan Bajing Ireng karya Djair, Hans Jaladara dengan Pendekar Panji Tengkorak-nya, Gundala Putra Petir karya Hasmi, Sangkuriang karya R.A. Kosasih, Godam karya Wid NS, atau yang lucu khas orang pinggiran kota seperti Petruk-Gareng karya Tatang Suhendra, dan masih banyak lagi.
Aha, jangan lupa!!! Di Pontianak pun kita mungkin masih ingat Si Kundil Melayu Pontianak karya teman SMP saya, Bang Riyad, yang dimuat rutin di harian Akcaya (sekarang Pontianak Post). Jelas, semua karya-karya itu memberikan kenangan tersendiri bagi setiap pembaca karena keanekaragaman tema yang diusung penulisnya.
Di Indonesia, tema yang diusung awalnya adalah kisah perjuangan, kepahlawanan, termasuk cerita pewayangan seperti Mahabrata dan Ramayana. Lalu di era 60-an, muncul perubahan tema yang beralih pada filsafat, dongeng, roman, serta cerita rakyat. Kemudian kisah tokoh-tokoh di dunia persilatan seperti Si Buta dari Gua Hantu dan Panji Tengkorak pun muncul di era tersebut. Bahkan saking populernya, hingga dipercaya sebagai mitos. Kritikan dengan cara kocak terhadap pemerintah dan kondisi sosial juga muncul melalui Panji Koming karya Dwi Koen.
Yang jelas, tema yang ada adalah seperti yang dikatakan Djair, "Komik Indonesia seharusnya bercerita tentang kebudayaan kita. Baik keindahan alam, budaya, termasuk mitos dan legenda, maupun tema-tema sosial berupa kritik terhadap pemerintah. Tidak peduli siapa pembuatnya, yang penting memberikan solusi terhadap masalah yang dilontarkan."
Bagaimana dengan Japanese manga? Di Jepang, manga dikelompokkan sesuai dengan jenis pembacanya. Untuk pembaca laki-laki disebut shonen, sedangkan untuk perempuan disebut shoujo, untuk anak-anak disebut pula dengan kodomo. Generasi sekarang pasti lebih mengenal Japanese manga daripada yang pernah ada di Indonesia. Mereka fasih bercerita tentang Astro Boy karya Osamu Tezuka, Dragon Ball karya Akira Toriyama yang telah terjual 120 juta eksemplar di seluruh dunia dan dalam bentuk kartun TV telah disiarkan pada lebih dari 40 negara, Doraemon karya Fujio F. Fujiko yang menjadi kebanggaan Japanese manga dan begitu terkenal di Indonesia. Lihat pula baju kaos anak laki-laki kita. Gambar seorang bocah yang bernama Naruto Uzumaki, karya Musashi Kishimoto, adalah idola mereka.
Sedikit berbeda dengan tema yang ada di Indonesia, tema manga di Jepang lebih banyak bercerita tentang cinta, persahabatan, airmata, humor, petualangan, dan horor. Tema-tema itu bagaikan kaleidoskop kehidupan di Jepang. Tak heran, bukankah sebuah tema akan lebih mudah digambarkan dalam bentuk tulisan atau gambar jika itu adalah budaya atau keseharian kita?
Komik atau manga dengan tema apa pun, pada dasarnya adalah sebuah karya untuk menyegarkan pikiran, mengisi waktu senggang, ataupun penghilang lelah. Ketika manga justru dimanfaatkan untuk mengusik pribadi seorang manusia yang begitu dicintai jutaan pengikutnya, maka yang muncul adalah resah. Bukankah setiap orang akan merasa terusik bila tokoh yang dicintai --siapa pun dia-- direndahkan bahkan dilecehkan?
Pasti! Musim mangga akan selalu ditunggu setiap orang yang menyukainya, karena ketika musim itu tiba, maka harganya akan jauh lebih murah karena di pasar begitu berlimpah. Musim manga pun mungkin juga, ditunggu penggemarnya, karena saat itu tentu manga-manga tersebut dijual dengan potongan harga yang lumayan di beberapa toko buku besar. Namun, tentu saja bukan manga yang meresahkan, menyesatkan, bahkan melecehkan seorang manusia yang sangat dimuliakan.
Entahlah, mungkin di akhir zaman cinta kita semakin diujiNya. Adakah cinta kepada seseorang manusia mulia membuat kita terusik jiwa dan raga? Tanyakanlah kepada setiap hati kita. Dan, ketika cinta ini hanya berupa sisa, maka ucapkanlah di keheningan malam serta di sela isak tetesan airmata, "Maafkan kami, ya Rasulullah..."
KotaSantri.com © 2002-2026