
Pelangi » Jurnal | Sabtu, 26 September 2009 pukul 20:00 WIB
Penulis : Moch.Badri Tamam
Menggali potensi diri memang membutuhkan keberanian yang kadang harus mengorbankan perasaan, apa pun itu jenisnya. Sayang kalau seandainya potensi itu hanya mengisi otak dan raga, tak mampu untuk mengembangkannya.
Kadang diri bukan tak mau berbuat dan tak punya keinginan untuk mengembangkannya, tapi sebuah dukungan dari luar dan motivasi yang tak mengerti akan sebuah potensi diri yang ada yang menjadi kausa sebuah kebuntuan motivasi, dan hanya menjadi sebuah interior standar saja dalam diri seorang manusia yang diciptakan paling mulia di antara semua makhluk, kecuali itu, semuanya adalah standar hewani.
Manusia, pada dasarnya diciptakan oleh Allah SWT dalam keadaan suci, bersih dari segala dosa, hingga saatnya kewajiban untuk beribadah datang padanya. Amal baik yang disertai keikhlasan, akan berbekas menjadi sebuah pahala. Dan saat itu pula "kekotoran-kekotoran" mulai berceceran dalam diri mereka, dosa-dosa yang diperbuat mereka kepada Allah ataupun kepada sesama makhluk akan berbuah menjadi siksa.
Tapi sebesar apa pun dosa yang diperbuat manusia kepada Allah akan terampuni asal mau bertobat, kecuali dosa musyrik. Namun semudah itukah jika dosa itu diperbuat kepada sesama makhluk? Apakah sama pengampunan Allah dengan makhluknya? Tentu jawabannya tidak! Kenapa? Karena manusia terdiri dari 3 unsur karakter, yakni;
1) Karakter "Uluhiyyah"; manusia mempunyai sifat pemaaf, penyayang, dan lain sebagainya adalah salah satu karakter alami manusia dan karakter ini yang membedakan antara manusia dan hewan, karena karakter itulah manusia dapat membedakan mana yang haq, mana yang bathil, mana yang halal, mana yang haram.
2) Karaketer "Hyawaniyyah"; manusia dengan karakter tersebut menjadikan dirinya tamak, adanya syahwat, atau ketertarikan kepada lawan jenis dan semacamnya. Dan karena karakter ini pula, manusia mau tidak mau sama derajatnya dengan hewan. Ketika karakter ini dominan dalam diri manusia, dia tidak bisa berfikir layaknya manusia.
3) Karakter "Syaithainiyyah"; menjadikan manusia menjadi sombong, pembohong, dan sifat-sifat semacamnya.
Di antara ketiga karakter tersebut, yang paling buruk pengaruhnya adalah karakter yang terakhir, karena karakter ini dapat mempengaruhi dua karakter selainnya. Sadar atau tidak, jika karakter "Uluhiyyah"dominan dalam diri, pada saat yang sama, karakter "Syaithaniyyah" (yang boleh dikatakan sebagai karakter parasit) muncul, maka karakter inilah yang mengambil alih pengaruh karakter "Uluhiyyah", walau yang tertampil adalah karakter "Uluhiyyah".
Sebagai contoh, seseorang meminta maaf pada kita karena kesalahan yang diperbuatnya, maka yang terbaik yang harus kita lakukan adalah memaafkannnya, sebesar apa pun kesalahannya. Tapi apakah itu akan menjadi kebaikan jika kita memberikan maaf tersebut dikarenakan, misalnya, ingin dipuji orang lain, atau ingin dilihat orang lain karena kita bijaksana, dan lain sebagainya.
Itulah sebabnya kenapa dari 3 unsur karakter tersebut, karakter "Syaithaniyyah"-lah yang paling buruk pengaruhnya pada manusia.
Dan pada dasarnya pula,manusia dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci dan tak mempunyai karakter-karakter tersebut kecuali karakter hayawaniyyah, dalam arti tidak mempunyai beban sama sekali, karena mereka (hewan) tidak dikaruniai akal.
Manusia berkembang sejalan dengan akal, sedangkan hewan berkembang sejalan dengan naluri. Oleh karena itu, maka dipilhlah manusia oleh Allah sebagai makhluk paling sempurna, paling cantik, dan paling canggih. (QS. 95 : 4).
Dan manusia dipilh oleh Allah sebagai pemimpin, karena dapat menjalankan hukum-hukum Allah dengan baik, dan dapat menggali potensi serta kekayaan alam yang diberikan Allah kepada mereka.
Dalam hal ini manusia dituntut untuk berpengetahuan, agar dapat menjalani hukum-hukumNya, dan menggali potensi-potensi alam tersebut.
Tanpa pengetahuan, manusia akan tetap memakai kulit mentah binatang atau tanaman tanpa sentuhan keindahan, hanya selembar kulit yang membalut kaki dan tubuh. Tanpa pengetahuan, manusia akan tetap menyalakan api unggun di rumah-rumah batu mereka, tak pernah mengenal apa itu listrik, apa itu batu bara, dan lain sebagainya. Tanpa pengetahuan, dunia akan tetap gulita seperti hutan.
Manusia, dalam evolusinya telah berkembang menjadi makhluk yang sangat pintar. Allah memberikan mereka fikiran dan dapat membaca ayat-ayatnya, yang tersurat maupun yang tersirat, terlepas dari mereka dapat bersyukur atau tidak, muslim atau bukan. Yang jelas, manusia tidak dapat memungkiri bahwa ada kekuatan yang melebihi kemampuan manusia, kekuatan itu adalah, "Penggerak Yang tidak bergerak", demikian Aristoteles mengistilahkan Tuhan dengan ACTUS PURUS (penggerak yang tidak bergerak).
KotaSantri.com © 2002-2026