
Pelangi » Jurnal | Sabtu, 15 Agustus 2009 pukul 20:00 WIB
Penulis : aozora_hime
Aku masih ingat dengan jelas, jika kami ditanya oleh guru dan tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut, pasti akan kena marah plus sangat malu jika mengatakan kepada beliau, ”Saya tidak tahu, Bu.” Yang lebih memalukan lagi adalah bagi orang yang pintar di kelas, jika ia ditanya tentang sebuah soal dan ia mengatakan tidak tahu, hal apa yang akan terjadi? Semua orang pasti memberikan stigma negatif untuknya.
“Masa sih, sang juara umum nggak tahu jawabannya? Jadi, predikat pintar selama ini hanya sebagai hiasan aja?”
Tak sedikit orang akan berkata seperti itu. Dan akibatnya, orang yang sedang dibicarakan merasa sangat malu akan jawaban “tidak tahunya” itu. Semua orang pasti mengalaminya. Aku pun juga begitu. Tapi sebaliknya, para ulama tidak takut untuk mengatakan tidak tahu atau dalam bahasa arabnya “La Adri". So, kenapa kita malu berterus terang untuk mengatakan tidak tahu?
Yuk, kita lihat siapa saja ulama yang berani mengatakan,”La Adri".
1. Al-Khatib Al-Baghdadi mengisahkan bahwa Imam Malik ditanya 48 masalah, hanya dua yang dijawab, dan 30 masalah lainnya dijawab dengan “la adri“ (saya tidak tahu). Kejadian ini tidak hanya sekali. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Mahdi bahwa seorang lelaki bertanya kepada Imam Malik, akan tetapi tidak satu pun dijawab oleh beliau, hingga lelaki itu mengatakan, “Aku telah melakukan perjalanan selama 6 bulan, diutus oleh penduduk untuk bertanya kepadamu, apa yang hendak aku katakan kepada mereka?“ Imam Malik menjawab, “Katakan bahwa Malik tidak bisa menjawab!“
Padahal kita tahu sendiri bahwa beliau adalah satu dari empat imam Mazhab yang cukup terkenal itu. Bahkan beliau juga seorang hafidzh Al-Qur’an sejak kecil. Subhanallah! Beliau aja nggak malu. Kenapa kita harus tetap malu?
2. Abu Hanifah, Imam Mazhab paling tua dari empat mazhab juga pernah ditanya 9 masalah, semua dijawab dengan “la adri”.
3. Seorang faqih besar Madinah, Imam Mazhab yang dianut ribuan ulama hingga kini, yang mazhabnya menyebar hingga Andalusia, tidak segan-segan menyatakan bahwa dirinya tidak mampu menjawab. Tidak hanya beliau, para ulama Madinah juga amat berhati-hati dalam menjawab masalah halal dan haram. Karena jika tidak mengetahui masalah, kemudian memaksakan menjawab, sama dengan menisbatkan suatu perkara yang bukan syari’at kepada syari’at. Beliau menyatakan, “Tidak ada sesuatu yang paling berat bagiku, melebihi pertanyaan seseorang tentang halal dan haram, karena hal ini memutuskan hukum Allah. Kami mengetahui bahwa ulama di negeri kami (Madinah), jika salah satu dari mereka ditanya, seakan-akan kematian lebih baik darinya.“
Para ulama terdahulu tidak pernah malu berterus terang jika mereka benar-benar tidak tahu, karena mereka tahu, bahwa konsekwensi berfatwa tidak didasari ilmu adalah berat. Dan sifat mereka yang hati-hati inilah yang justru menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu. Banyak yang bisa kita tiru dari sifat-sifat baik mereka. Ketahuilah bahwa “la ladri” atau “tidak tahu” itu adalah bagian dari ilmu juga.
Ulama seperti Al-Mawardi dan Al-Munawi menjelaskan, “Kedudukan seorang alim tidak akan jatuh dengan mengatakan “saya tidak tahu“ terhadap hal-hal yang tidak ia ketahui. Ini malah menunjukkan ketinggian kedudukannya, keteguhan diennya, takutnya kepada Allah Ta’ala, kesucian hatinya, sempurna pengetahuannya, serta kebaikan niatnya. Orang yang lemah diennya merasa berat melakukan hal itu. Karena ia takut derajatnya jatuh di depan para hadirin dan tidak takut jatuh dalam pandangan Allah. Ini menunjukkan kebodohan dan keringkihan diennya“.
Ibnu Mas’ud berkata, “Sudah masuk bagian ilmu, dengan mengatakan “Allahu A’lam“, bagi hal yang tidak diketahui. (Riwayat An-Nasai).
Bahkan Al-Ghazali menilai bahwa pahala mereka yang mengaku terus terang, tentang ketidaktahuannya, tidak lebih sedikit, jika dibandingkan mereka yang mampu menjawab. Beliau menjelaskan, “La adri adalah setengah dari pengetahuan. Barang siapa diam karena tidak tahu dan itu dilakukan karena Allah, maka pahalanya tidak lebih rendah daripada mengatakan (karena dia tahu). Karena mengakui ketidaktahuan amat berat. Karena kebaikan diam disebabkan tidak tahu karena Allah adalah bentuk kewara’an (kehati-hatian) seperti mereka yang menjawab karena tahu adalah tabaru’an (pemberian).
So, jangan ragu dan takut lagi untuk mengatakan ”saya tidak tahu” terhadap apa yang tidak kita ketahui. Dan ingat, jangan sampai memaksa diri ini berbicara mengatakan sesuatu yang memang tidak kita ketahui. Say "I don't know", why not?!
Dari Berbagai Sumber
KotaSantri.com © 2002-2026