Pelangi » Jurnal | Sabtu, 6 Juni 2009 pukul 19:30 WIB

Registerasi, Kompetisi, dan Konsekuensi

Penulis : Meralda Nindyasti

"Setelah registrasi, baru kompetisi. Usai itu, bukan untuk berhenti, tapi untuk menerima konsekuensi."

Semua ciptaan Allah telah melalui masa registrasinya, yaitu saat pertama kalinya kita mendaftarkan diri sebagi hamba Allah yang bersaksi tiada Tuhan selain diriNya. Registrasi itu diperbaharui saat kita telah diizinkan mencapai masa kehidupan di dunia. Syahadat. Ya, itulah registrasi pertama kita untuk menjadi ummat Muhammad.

"Setelah registrasi, baru kompetisi."

Maka, itulah makna dari Allah menciptakan jin dan manusia, adalah untuk beribadah. Standar kompetisi ummat muslim di dunia adalah sebagaimana Allah berfirman, "Dan berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan." Karena itu, percaya nggak percaya, detik ini pun kita sedang berkompetisi.

"Usai itu, bukan untuk berhenti, tapi untuk menerima konsekuensi."

Ya, reward dan punishment adalah konsekuensi logis dari seluruh level kehidupan yang kita lalui. Ada surga ada neraka, dan ada rahmat ada murka. Kelak, saat hari penghisaban, tidak ada lagi istilah, "Kita pilih yang mana?" Tapi, hanya Allah-lah yang berhak memilihkannya untuk kita. Karena, Dia-lah juri dari kompetisi hidup yang kita jalani.

Konsekuensi adalah apa yang harus ditanggung dari sebuah aksi. Aksi bermula dari pemahaman akan presepsi. Itu berarti, pemahaman adalah pilar pertama dari aksi dan presepsi.

Dahulu, saat kita mengenyam pendidikan SD, SMP, dan SMA, memperoleh manfaat adalah pekerjaan utama sebagai siswa. Guru mengajar, menyampaikan, dan memberi teladan. Dari semua itu, kitalah yang memperoleh manfaatnya.

Kondisinya sekarang, kita adalah mahasiswa. Dan mahasiswa bukanlah siswa biasa. Mahasiswa bukan lagi subjek yang sekadar "memperoleh manfaat". Tapi bagaimana jiwa mahasiswa menjadi subjek yang selalu dominan dengan makna "memberi manfaat".

Terkadang presepsi kita akan makna kompetisi terlalu terpenjara dengan jeruji-jeruji yang bernama IP (indeks prestasi). Seolah-olah itulah tujuan utama kita saat mengemban amanah sebagai mahasiswa. Selepas SMA, kita memang bukan lagi pelajar. Semua mahasiswa di seluruh Indonesia pun tahu kalau mereka bukan lagi pelajar.

Tapi, tidak setiap kita tahu bahwa kita adalah pembelajar. Ya, pembelajar kehidupan yang menerapkan prinsip "my school is you". Menerapkan prinsip bahwa semua hal dan semua orang bisa menjadi sekolah bagi kita. Karena, setiap yang terlihat oleh mata, yang terdengar oleh telinga, dan yang tersapa oleh qalbu, adalah topik kuliah kita juga.

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda, "Siapa yang menuntut ilmu yang seharusnya dituntut hanya karena Allah SWT, tapi ia menuntutnya hanya untuk maksud keduniawian, maka ia tidak akan mencium bau wangi surga pada hari kiamat nanti." (HR. Abu Dawud, Ibn Maja, Ibn Hibban, dan Al-Hakim).

Adalah benar dalam menuntut ilmu tidaklah dengan niat untuk menyaingi orang yang lebih berilmu, tidak pula agar menang berdebat dengan orang yang belum berilmu dan tidak juga untuk menunjukkan sepintar dan sehebat apa diri kita. Jika presepsi kita belum tepat tentang itu, maka itu berarti ada yang salah dari cara kita memandang arti kefanaan dunia.

Dan jika kita punya presepsi yang belum tepat tentang ilmu, dan pemahaman yang belum tepat tentang berilmu, maka belum tepat pula aksi kita dalam menuntut ilmu. Konsekuensinya, bisa jadi dalam pandangan Allah, kita berilmu tapi belum tentu kita beribadah.

Na'udzubillah
...

KotaSantri.com © 2002-2026