
Pelangi » Cermin | Selasa, 14 Mei 2013 pukul 13:00 WIB
Penulis : Rahmat Hidayat Nasution
Sungguh, seharusnya kita layak belajar kepada imam Ali bin Abi Thalib. Ia sangat memuliakan orangtua, siapapun itu. Dalam kitab Al-Mawaa’idz al-Ushfuuriyyah dimuat kisahnya yang memuliakan lansia Nasrani.
Saat waktu subuh tiba, Ali bin Abi Thalib keliatan gelisah sekali. Ia tergesa-gesa, karena tak ingin ketinggalan shalat berjama'ah. Namun, ia cukup kebingungan. Pasalnya ada seorang laki-laki tua yang berjalan sangat lambat yang menghambat langkahnya. Demi menghormati orang tua tersebut, Ali ‘membuntut’ di belakangnya. Tentu saja, Ali bin Abi Thalib sangat khawatir tidak bisa shalat jama'ah bersama Nabi SAW. Ketika ia tahu bahwa orang tua tersebut tidak memasuki mesjid, baru menyadari bahwa orang tua tersebut bergama Nasrani.
Ketika Ali masuk masjid, ia mendapati Rasulullah SAW sedang ruku’. Itu artinya, ia masih mempunyai kesempatan untuk mengejar shalat tersebut. Ali lalu berjama'ah bersama mereka. Usai shalat, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW.
“Ya Rasul, apa yang sedang terjadi sehingga memperpanjang ruku’ seperti shalat subuh pagi ini. Selama ini, Anda tidak pernah melakukan hal ini?”
“Ketika ruku’ dan tengah membaca subhana rabbiyal ‘adzimi seperti biasanya, maka aku bermaksud ingin mengangkat kepalaku. Tetapi Jibril AS datang dan membentangkan sayapnya di atas punggungku. Lama sekali. Ketika ia mengangkat sayapnya, baru aku bisa berdiri untuk mengangkat kepala,” jawab Rasulullah SAW.
“Mengapa ini bisa terjadi?” tanya salah seorang sahabat.
“Aku tak sempat menanyakan hal itu,” balas Rasulullah SAW kembali.
Tak lama kemudian, datang Jibril AS menemui Rasulullah SAW.
“Hai Muhammad! Tadi Ali tergesa-gesa agar bisa ikut shalat berjama'ah, namun ada seorang laki-laki tua beragama Nasrani menghambat jalannya. Ali tidak tahu kalau laki-laki itu beragama Nasrani. Ia biarkan orang tua tadi berjalan di depannya. Maka Allah menyuruhku supaya engkau tetap ruku’ agar Ali bisa menyusul shalat subuhmu. Ini tak mengherankan bagiku. Yang mengherankan, Allah SWT memerintahkan malaikat Mikail untuk menahan perputaran matahari dengan sayapnya. Sehingga, tenggang waktu terbitnya lebih lama. Ini tentulah karena perbuatan Ali tadi.”
Setelah diceritakannya kepada para sahabat apa yang disampaikan Jibril AS mengenai ruku’ yang begitu panjang, Rasulullah SAW bersabda, “Inilah derajat orang yang memuliakan orang tua lanjut usia, meski yang dimuliakan beragama Nasrani.”
Mari kita belajar dari Ali. Gara-gara memuliakan orang tua lansia yang beragama Nasrani, ia mendapatkan karunia yang luar biasa. Mendapat dua pertolongan Allah yang hadir melalui malaikat Jibril dan Mikail, sehingga subuhnya tidak tertinggal. Demikian contoh karunia yang diberikan Allah kepada Ali yang begitu memuliakan orang yang lebih tua, meski itu bukan keluarganya.
KotaSantri.com © 2002-2026