Pelangi » Cermin | Selasa, 30 April 2013 pukul 22:00 WIB

Tsa'labah dan Hartanya

Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan

Tsa'labah tadinya amat miskin. Kalau shalat berjama'ah, ia selalu pulang buru-buru, karena kainnya cuma satu dan dipakai bergantian dengan istrinya.

Pada suatu hari, ia datang menghadap Nabi. "Ya Rasulullah, berikan kepada saya jalan untuk menjadi kaya," ucapnya mengiba-iba.

Nabi menjawab, "Tsa'labah, terimalah dengan tawakal rezeki yang ada. Nikmatilah dengan rasa syukur, pasti Allah akan membalasmu."

Tetapi Tsa'labah bersikeras ingin menjadi hartawan. Maka Rasulullah memberinya modal sepasang domba. Alhamdulillah, dengan perkenan Allah, ternaknya itu dengan cepat berkembang biak. Sampai dalam beberapa bulan telah bertambah hingga ratusan jumlahnya. Kebun kurmanya luas dan subur. Akibatnya Tsa'labah tidak sempat lagi shalat berjama'ah. Ia sibuk mengurusi kekayaannya hingga terpaksa shalat di kebun atau di padang gembalaan. Istrinya juga repot membantu. Dan lantaran jumlah dombanya makin berjibun, kebunnya bertambah banyak, akhirnya ia malah tidak sempat beribadah lagi.

Tsa'labah tersohor sebagai hartawan yang kaya raya. Lalu tibalah saatnya kewajiban zakat diwahyukan oleh Allah. Nabi berkata kepada Ali bin Abi Thalib, "Ali, Tsa'labah sudah mencapai martabat hartawan yang wajib mengeluarkan zakat. Tagihlah kepadanya."

Dengan muka masam, Tsa'labah menerima kedatangan Ali bin Abi Thalib. Lebih gelap lagi wajahnya tatkala Ali menjelaskan maksud kedatangannya, "Rasulullah mengatakan, engkau harus membayar sebagian dari kekayaannmu untuk fakir miskin."

"Buat apa? Zakat bagi fakir miskin?" sahut Tsa'labah seraya mengernyitkan jidat. "Maaf, Saudara. Orang-orang miskin itu adalah pemalas-pemalas. Aku sendiri, kalau duduk berleha-leha, mana mungkin bisa mengumpulkan kekayaan sebanyak ini?"

"Tapi rukun Islam telah menetapkan, atas orang yang mampu, diwajibkan menunaikan zakat sekedar sebagian kecil saja," sanggah Ali.

Tsa'labah naik pitam. "Apa? Aku harus memberi makan kepada mereka, yang Allah sendiri tidak sudi memberikan rezeki atas orang-orang itu? Tidak. Saya menolak membayar zakat."

Rasulullah berduka memikirkan Tsa'labah. Ia kasihan, kalau-kalau Tsa'labah dilaknat lantaran pembangkangannya itu. Maka disuruhlah Ali menagih sampai tiga kali. Setelah Tsa'labah masih juga menampik, Rasulullah hanya menggumam, "Hartanya tidak menyelamatkan dirinya."

Ternyata ramalan Rasulullah benar. Tiba-tiba wabah menyerang ternak Tsa'labah. Hama mengeringkan tanaman-tanamannya. Sebelum ludas seluruhnya, Tsa'labah datang menghadap Nabi hendak membayar zakat. Nabi menolak. Lantas Tsa'labah datang kepada Abubakar dengan niat serupa. Abubakar menyahut, "Maaf, aku tak kan menerima yang ditolak oleh Rasulullah."

Hancurlah kehidupan Tsa'labah. Kekayaannya musnah, nasibnya telunta-lunta, dan dosanya menggunung. Jadi, mengapa masih ada yang rela menjadi Tsa'labah di kurun ini, ketika sedekah dan zakat masih ada yang mau menampung? Tidakkah tergerak hati kita untuk menunaikan kewajiban agama demi kepentingan kemanusiaan dan keberuntungan bersama? Bukankah dengan mengeluarkan zakat, para hartawan tidak akan jatuh melarat?

Dengarkanlah, wahai hati yang bening, betapa Rasulullah mengingatkan, "Kokohnya dunia ini karena empat perkara. Dengan ilmu para ulama, dengan kedermawanan orang-orang kaya, dengan do'a-do'a orang fakir miskin, dan dengan keadilan para penguasa."

Diambil dari "Seperti Kaca yang Berdebu" buku 30 Kisah Teladan no.9, karya KH. Abdurrahman Arroisi.

KotaSantri.com © 2002-2026