Pelangi » Cermin | Selasa, 8 Januari 2013 pukul 14:00 WIB

Siapa Paling Jelek?

Penulis : Redaksi KSC

Ada suatu kisah tentang seorang santri yang menuntut ilmu pada seorang Kyai. Bertahun-tahun telah ia lewati hingga sampai pada suatu ujian terakhir. Ia menghadap Kyai untuk ujian tersebut.

“Hai Fulan, kau telah menempuh semua tahapan belajar dan tinggal satu ujian, kalau kamu bisa menjawab berarti kamu lulus,” kata Kyai.

“Baik, pak Kyai, apa pertanyaannya?”

“Kamu cari orang atau makhluk yang lebih jelek dari kamu. Kamu aku beri waktu tiga hari,” jawab Kyai.

Akhirnya santri tersebut meninggalkan pondok untuk melaksanakan tugas dan mencari jawaban atas pertanyaan Kyainya.

Hari pertama, sang santri bertemu dengan si Polan pemabuk berat yang dapat dikatakan hampir tiap hari mabuk-mabukan. Santri berkata dalam hati, “Inilah orang yang lebih jelek dariku. Aku telah beribadah puluhan tahun, sedang dia mabuk-mabukan terus.” Tetapi sesampai ia di rumah, timbul pikirannya. “Belum tentu, sekarang Polan mabuk-mabukan, siapa tahu pada akhir hayatnya Allah SWT memberi Hidayah (petunjuk) dan dia Khusnul Khatimah. Dan aku sekarang baik banyak ibadah, tetapi pada akhir hayat dikehendaki Su'ul Khatimah, bagaimana? Dia belum tentu lebih jelek dariku.

Hari kedua, santri jalan ke luar rumah dan bertemu dengan seekor anjing yang menjijikkan rupanya, sudah bulunya kusut, kudisan, dan sebagainya. Santri bergumam, “Ketemu sekarang yang lebih jelek dari aku. Anjing ini sudah haram dimakan, kudisan, jelek lagi.” Santri gembira karena telah dapat jawaban atas pertanyaan gurunya. Waktu akan tidur sehabis ‘Isya, dia merenung, “Anjing itu kalau mati, habis perkara dia. Dia tidak dimintai tanggung jawab atas perbuatannya oleh Allah, sedangkan aku akan dimintai pertanggungjawaban yang sangat berat. Kalau aku berbuat banyak dosa, akan masuk neraka. Aku tidak lebih baik dari anjing itu.”

Hari ketiga, akhirnya santri menghadap Kyai. Kyai bertanya, “Sudah dapat jawabannya muridku?”

“Sudah guru,” santri menjawab. “Ternyata orang yang paling jelek adalah saya, guru.”

Sang Kyai tersenyum, “Kamu aku nyatakan lulus.”

***

Selama kita masih sama-sama hidup, kita tidak boleh sombong/merasa lebih baik dari orang/makhluk lain. Yang berhak sombong adalah Allah SWT. Karena kita tidak tahu bagaimana akhir hidup kita nanti. Yang jelek bisa jadi baik, sebaliknya yang baik bisa jadi jelek. Dengan demikian, maka kita akan belajar berprasangka baik kepada orang/makhluk lain yang sama-sama ciptaan Allah SWT.

eritayuliastuti.wordpress.com

KotaSantri.com © 2002-2026