Pelangi » Cermin | Selasa, 2 Oktober 2012 pukul 13:30 WIB

Kuda Milik Murid Abdullah Bin Mubarak

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Diriwayatkan, suatu hari Abdullah bin Mubarak melihat seekor kuda yang dijual di pasar dengan harga 40 dirham.

“Murah sekali,“ kata Abdullah bin Mubarak.

“Ya, kuda ini harus dijual karena punya kelainan yang sangat mengecewakan,” komentar penjual kuda.

“Seperti apa kelainannya?” tanya Abdullah.

“Kuda ini tak bisa dipacu. Berhenti saat dikejar musuh, hingga musuh bisa mengejar. Meringkik pada saat disuruh diam.”

“Berarti harganya mahal,“ kata Abdullah sambil ia berjalan meninggalkan penjual kuda tersebut.

Beberapa hari kemudian, murid Abdullah bin Mubarak membelinya. Ketika kuda itu dibawa berperang, ternyata kuda tersebut dapat berperilaku baik.

“Sudahkah kau buktikan kelemahannya?” tanya Abdullah.

“Ya, benar apa yang dikatakan penjual kuda. Tapi setelah kubeli, kuucapkan di telinganya, ‘Hai kuda, telah kutinggalkan dosa-dosaku. Aku sudah taubat dan kembali kepada Allah. Maka kamu juga harus meninggalkan tabiat burukmu.' Kepalanya bergerak-gerak sebanyak tiga kali. Aku gembira melihat jawabannya. Barulah kutahu bahwa tabiat buruk kuda bukan dari kudanya, tapi dari pemiliknya. Kuda itu mengutuk penunggangnya yang kufur (zhalim) kepada Allah hingga jatuh dari punggungnya. Bagiku, ini selaras dengan firman Allah SWT, “Ingatlah, laknat Allah kepada orang-orang yang zhalim.” (QS. Hud [11] : 18). Jika Allah melaknat sesuatu, maka segala sesuatu akan melaknatnya. Demikian juga dengan kuda ini. Ia melaknat pemiliknya yang kufur hingga ia tak mau menuruti apa yang diperintahkannya.”

Kisah kuda ini menjadi pelajaran penting bagi kita sebagai mahluk sosial. Jika reaksi hewan saja bisa buruk terhadap pemiliknya. Demikian halnya dengan interaksi kita dengan sesama manusia. Jika kita baik, insya Allah orang lain juga akan baik.

Sangat mungkin juga terjadi hal tersebut dengan rezeki yang kita peroleh. Jika rezeki yang didapat saat ini serasa makin hari makin berkurang, mungkin saja karena kita kufur dalam penggunaan uang. Kita lebih banyak menggunakannya untuk memenuhi keinginan nafsu. Atau, bisa jadi juga kita gunakannya untuk memperkaya diri, bukan untuk berbagi dengan orang lain.

KotaSantri.com © 2002-2026