
Pelangi » Cermin | Selasa, 22 Maret 2011 pukul 16:00 WIB
Penulis : Wahyudi
Pemuda itu belum juga beranjak dari tempat duduknya. Dia masih duduk di atas sajadah tanpa merubah posisi duduknya setelah selesai menunaikan shalat shubuh. Dari sudut matanya mengalir buliran-buliran bening. Kedua tangannya tertengadah sambil sesekali menyeka air mata yang terus mengalir. Tak terasa kesejukan pagi itu telah berubah menjadi kehangatan ditandai dengan terbitnya mentari. Padahal baru saja pemuda itu menyelesaikan shalat shubuhnya. Ya, untuk kesekian kalinya pemuda itu menunaikan shalat shubuh, tak begitu lama langsung disambut sinar matahari.
"Sungguh, sungguh ini adalah bencana yang besar bagi saya. Nggak boleh, nggak boleh ini, nggak boleh terjadi lagi. Aku harus bisa berubah dari keadaan seperti ini. Aku nggak mau terpuruk dalam kehancuran," demikian jeritnya dalam hati. "Aku harus bisa,aku akan bisa, aku pasti bisa," inilah tekadnya di sela-sela permohonan ampunannya, di sela-sela tangisnya, dan di sela-sela sesalnya atas apa yang ia alami di hadapan Allah.
Ingatannya kembali terbang ke masa lalu. Masa-masa di mana dia begitu semangat untuk beribadah. Dengan semangatnya waktu itu dia selalu berusaha untuk menjaga shalat shubuh berjama'ah di masjid. Tak ada payung, daun pisangpun jadi untuk memayungi dirinya dari hujan yang lebat sewaktu berangkat untuk menunaikan shalat shubuh berjama'ah.
Dia juga masih teringat pada masa itu, saat begitu bangun dari tidur, dia langsung terkejut, dan tanpa melihat jam serta tanpa menoleh kanan kiri, langsung berangkat menuju masjid. Alasannya adalah karena begitu bangun dan melihat sang ayah sudah shalat, yang pada masa itu sang ayah jika shalat shubuh biasanya agak terlambat. Jadi, begitu dia melihat ayahnya sudah shalat, langsung saja dia ngacir ke masjid.
Sesampainya di masjid, dia langsung bergegas untuk wudhu, namun agak aneh, lampunya belum menyala, biasanya jika habis shubuh lampu masih menyala dan ada jama'ah yang berdzikir atau mengaji. "Apa mungkin pada kesiangan ya?" Pikirannya bertanya-tanya terus. Dia langsung bergegas masuk masjid untuk segera shalat. Ketika hendak mulai shalat, pandangannya tertuju pada jam dinding yang terlihat remang-remang karena ada lampu kecil di samping jam itu.
"Ha..., belum waktunya shubuh?" Dia mengucek matanya sambil ia lihat kembali, ternyata masih satu jam lagi shubuhnya. Ia kucek lagi matanya, ia lihat lagi jamnya untuk benar-benar memastikan. Ya, tetap saja karena memang belum waktunya. Usut punya usut, ternyata apa yang dilakukan sang ayah adalah di luar kebiasaan, ternyata ayahnya sedang shalat tahajud.
Dia rindu masa-masa seperti itu. Semangat untuk beribadah yang kuat. Akhir-akhir ini dia mengalami penurunan yang amat drastis dalam beribadah. Dia masih tetap mengiba kepada Allah. Dari bibirnya terlantun, "Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa illam taghfirlanaa wa tarhamnaa lanaa kunannaa minalkhasiriin." Dia terus mengulang-ulang do'a itu.
KotaSantri.com © 2002-2026