
Pelangi » Cermin | Selasa, 14 September 2010 pukul 19:21 WIB
Penulis : Muhammad Aris Saifuddin
"Arghhhhh..."
Begitu rasanya hati ini ingin berteriak, ingat sekali waktu itu pada saat aku beranjak ke semester 4 di salah satu peguruan tinggi swasta di Ponorogo. Waktu itu aku melihat selembar kertas yang terpampang di papan pengumuman depan kantor.
"Wahhh... Kesempatan emas, gan," pikirku saat itu. Rasanya rindu banget dengan tulisan BEASISWA. Ya, kata itulah yang diimpikan sejak SMA. Segera aku baca pesyaratan agar masuk kriteria beasiswa tersebut. "Alhamdulilah masuk kriterianya," ujarku dalam hati.
Pada saat itu pula aku langsung minta izin pada bosku bahwa besok aku tidak bisa masuk kerja karena harus mengurus berkas untuk pengajuan beasiswa. Kuliahku memang masuk jam 3 sore, sehingga pada pagi hari aku bisa kerja sampingan. Di sebuah Photocopy dekat SMP aku bekerja. Di situ aku bekerja mulai dari jam 7 sampai jam 2 sore. Lumayanlah bisa buat bantu orangtuaku.
Keesokan harinya, aku segera saja mengurus berkas persyaratannya, mulai dari kantor desa hingga ke polsek untuk membuat SKCK. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar, tak lupa sebelumnya minta tambahan do'a dari orangtua agar diberi kemudahan dari Yang Kuasa. Dan sorenya kuserahkan pada petugas di kantor Universitasku.
Lama sekali pengumumannya, begitu kurasakan saat itu. Hampir beberapa minggu sudah berlalu, akhirnya pengumumannya ditempelkan. Segera saja aku melihat siapa yang mendapat beasiswa. "Koq kagak ada," ujarku. Aku coba kembali menelusuri satupersatu daftar tersebut.
"Ah, sial kagak ada, gan." Huahhh hampir saja nama binatang keluar dari mulutku. "Astaghfirullah," segera aku mengucap kata istighfar. "Mungkin belum rezeki," ujarku dalam hati. Ya, kata itu yang sering aku ucapkan ketika rezeki belum datang kepadaku.
Sambil merengut sendiri, kuputuskan aku hari ini tidak mengikuti 1 mata kuliah. Karena percuma saja diajar bila tidak konsen, pikirku. Suntuk, bete rasanya.
Tak ingin berlama-lama dalam keadaan yang serba kaya gini, malamnya aku berniat untuk shalat tahajud dan mencurahkan keluh kesahku pada Ar-Razaq Sang Pemberi Rezeki.
Alarm HP-ku berdering, "Cepet banget udah jam 1 malam," pikirku. Segera aku mengambil wudhu dan shalat dua rakaat. Tak terasa sekitar 20 menit aku berkeluh kesah.
Besok malamnya aku menghadiri pengajian kitab kuning. Pengajian yang rutin diadakan setiap minggu malam yang anggotanya adalah alumni Pondok. Entah kebetulan apa gimana, ustadnya ngomong padaku, "Tenang saja, mas, malaikat tidak akan keliru membagikan rezeki dari Allah." Sontak saja aku terkaget, bagaimana beliau tahu kalau aku sedang menghadapi masalah tersebut. Dan sampai sekarang kata-kata tersebut aku jadikan pelipur lara ketika rezeki belum mampir padaku.
KotaSantri.com © 2002-2026