
Pelangi » Cermin | Selasa, 28 Juli 2009 pukul 20:31 WIB
Penulis : Ratu Karitasurya
Sahabat Abu Hurairah sempat gelisah karena ibunya masih dalam jeratan kekufuran. Dalam shahih Muslim disebutkan, dari Abu Hurairah, ia bercerita; Aku mendakwahi ibuku agar masuk Islam. Suatu hari, aku mengajaknya untuk masuk Islam, tetapi dia malah mengeluarkan pernyataan tentang Nabi yang aku benci. Aku (pun) menemui Rasulullah dalam keadaan menangis.
Aku mengadu, "Wahai Rasulullah, aku telah membujuk ibuku untuk masuk Islam, namun dia menolakku. Hari ini, dia berkomentar tentang dirimu yang aku benci. Mohonlah kepada Allah supaya memberi hidayah ibu Abu Hurairah."
Rasulullah bersabda, "Ya Allah, tunjukilah ibu Abu Hurairah."
Aku ke luar dengan hati riang karena do'a Nabi. Ketika aku pulang dan mendekati pintu, maka ternyata pintu terbuka. Ibuku mendengar kakiku dan berkata, "Tetap di situ, Abu Hurairah."
Aku mendengar kucuran air. Ibuku sedang mandi dan kemudian mengenakan pakaiannya serta menutup wajahnya, dan kemudian membuka pintu. Dan ia berkata, "Wahai Abu Hurairah! Asyhadu an Laa Ilaaha Illa Allah wa Asyhadu Anna Muhammadan Abduhu wa Rasuluhu."
Aku kembali ke tempat Rasulullah dengan menangis gembira. Aku berkata, "Wahai Rasulullah, bergembiralah. Allah telah mengabulkan do'amu dan menunjuki ibuku."
Maka beliau memuji Allah dan menyanjungNya serta berkomentar baik." (HR. Muslim).
Di lain kisah, Ibnu Umar pernah melihat lelaki menggendong ibunya dalam thawaf. Ia bertanya, "Apakah ini sudah melunasi jasanya (padaku), wahai Ibnu Umar?"
Beliau menjawab, "Tidak, meski hanya satu jeritan kesakitan (saat persalinan)."
Lalu, ada Zainal Abidin, yakni seseorang yang terkenal baktinya kepada ibu. Orang-orang keheranan kepadanya (dan berkata), "Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibu. Mengapa kami tidak pernah melihatmu makan berdua dengannya dalam satu talam?"
Ia menjawab, "Aku khawatir tanganku mengambil sesuatu yang dilirik matanya, sehingga aku durhaka kepadanya."
Sebelumnya, kisah yang lebih mengharukan terjadi pada diri Uwais Al-Qarni, orang yang sudah beriman pada masa Nabi, sudah berangan-angan berhijrah ke Madinah untuk bertemu dengan Nabi. Namun perhatiannya kepada ibunya telah menunda tekadnya berhijrah. Ia ingin bisa meraih surga dan berteman dengan Nabi serta selalu berbakti kepada ibunya, kendati pun harus kehilangan kemuliaan menjadi sahabat Beliau di dunia.
Dalam shahih Muslim, dari Usair bin Jabir, ia berkata bahwa pada saat rombongan dari Yaman datang, Umar bin Khaththab bertanya kepada mereka, "Apakah Uwais bin Amir bersama kalian?"
Sampai akhirnya menemui Uwais, Umar bertanya, "Engkau Uwais bin Amir?"
Ia menjawab, "Benar."
Umar bertanya, "Engkau dari Murad kemudian beralih ke Qarn?"
Ia menjawab, "Benar."
Umar bertanya, "Engkau punya ibu?"
Ia menjawab, "Benar."
Umar (pun) mulai bercerita bahwa dirinya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Akan datang pada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan penduduk Yaman yang berasal dari Murad dan kemudian dari Qarni. Ia pernah tertimpa lepra dan sembuh total, kecuali kulit yang sebesar logam dirham. Ia mempunyai ibu yang sangat dihormatinya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya aku hormati sumpahnya. Mintalah ia beristighfar untukmu jika bertemu."
(Umar berkata), "Tolong mintakan ampun (kepada Allah) untukku."
Maka Uwais pun memohonkan ampunan untuk Umar.
Umar bertanya, "Ke mana engkau akan pergi?"
Ia menjawab, "Kufah."
Umar berkata, "Maukah engkau jika aku menulis (rekomendasi) untukmu ke gubernurnya (Kufah)?"
Ia menjawab, "Aku lebih suka bersama orang yang tidak dikenal."
Kisah lainnya tentang bakti kepada ibu, yaitu Abdullah bin Aun pernah memanggil ibunya dengan suara keras, maka ia memerdekakan dua budak sebagai tanda penyesalannya.
Dan, sebagai umat baginda Nabi Muhammad SAW, kita harus selalu, selalu, dan selalu berbakti kepada kedua orangtua, khususnya kepada ibu, agar kita termasuk golongan umat Rasulullah SAW, seperti halnya para sahabat yang selalu berbakti kepada orangtuanya. Jangan pernah sekalipun terlintas dalam benak kita untuk mengecewakan kedua orangtua.
KotaSantri.com © 2002-2026