Pelangi » Bingkai | Senin, 13 Mei 2013 pukul 10:30 WIB

Kisah Laut dan Langit

Penulis : Ashif Aminulloh Fathnan

Mari kita bertanya, pada cakrawala, manakah yang lebih biru? Langitkah? Lautkah? Mungkin kita tak pernah tahu, rumah, ada kisah panjang di balik itu. Kisah tentang bertemunya langit dan laut. Pada ujung horizon itu kisahnya telah tertutur ribuan tahun lamanya. Namun kita memang belum mendengarnya.

Kau tahu, rumah? Dahulu, waktu bumi ini masih berbentuk janin, laut dan langit belum mewujud. Masing-masing berada dalam perjuangannya sendiri membentuk diri. Kau tahu kan, laut yang berisi gumpalan lava panas dan saling bertumbukan dengan bebatuan? Dan langit? Tak ada langit di sana, hanya ruang hampa yang menembus tanpa tabir, menuju alam semesta penuh bintang.

Itulah wajah bumi kala itu. Namun hari ini kita bisa melihatnya bukan? Betapa serasinya langit dan laut. Coba kau tengok, saat langit biru cemerlang, kau tahu apa warna laut? Ia biru, biru laut. Saat langit jingga memudar ke cakrawala, kau tahu apa warna laut? Ia juga jingga, bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih. Saat langit mendung kelabu, apa warna laut? Ia pun urung ceria, tersedu oleh abu-abu menyapu segara.

Itulah kesetiaan laut pada langit. Laut yang selalu ada untuk langit. Mereka yang saling mengerti, tercipta untuk bersama. Bahkan saat orang berkata, laut akan kuarungi, sebenarnya ia pun sedang mengarungi langit. Langit dan laut tak pernah terpisah.

Memang, rumah, warna laut itu adalah pantulan dari warna langit, begitu yang kita pahami.

Namun tahukah kita, dari mana warna biru langit itu muncul? Kata para pakar, ia muncul dari pembiasan cahaya putih mentari yang meliuk melalui lapisan oksigen. Awalnya, putih sinar mentari mengarungi ruang hampa, lalu sampai di atmosfer bumi, kemudian tertangkap dan terpantul ke segala penjuru oleh gas dan partikel ozon. Ia lalu hanya meloloskan warna biru ke seluruh lapisan udara, karena warna biru memiliki gelombang yang pendek. Inilah sebabnya mengapa kita melihat langit biru, bukan putih atau lainnya.

Namun pertanyaannya lagi, dari mana oksigen muncul sehingga ada di lapisan atmosfer kita? Jika kita lihat lagi sejarah bumi, maka kita akan tahu, bahwa oksigen lahir dari laut. Ia lahir ketika banyak bakteri berklorofil mulai tumbuh dan menyebar ke seluruh penjuru laut. Bakteri yang jadi cikal bakal tumbuhan. Ialah awal mula penghasil oksigen di bumi kita. Yang tadinya langit tanpa payung, setelah secara masif kawan kecil kita -si tumbuhan mungil ini- menghirup karbondioksida dan merubahnya jadi oksigen, maka mulailah produksi masal oksigen terjadi. Ia merubah susunan atmosfer kita. Lapisan ozon muncul dari banyaknya oksigen yang mulai tersebar, melindungi bumi dari benda-benda langit berbahaya. Dan langit-pun jadi berwarna biru.

Setelah langit jadi biru, lalu laut jadi biru. Dan jadilah gambar pemandangan kita lengkap dengan desir ombak dan burung camar beterbangan di sana.

Bukankah ini indah, rumah? Jadi mana yang lebih dulu? Biru laut atau biru langit? Kita jadi sulit menjawabnya. Mereka telah tercipta demikian sejak dulu. Mereka telah tergariskan sejak lama. Dan yang pasti, waktu laut tercipta, ia tak tahu kalau akan ada langit di sana yang mendampinginya, begitu pula langit, tak tahu ada laut yang menemaninya.

Hanya Allah Yang Maha Menghendaki. Hanya ia Yang Maha Indah dan mencintai keindahan.

Subhanallah walhamdulillah.

KotaSantri.com © 2002-2026