
Pelangi » Bingkai | Kamis, 28 Maret 2013 pukul 12:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Sendiri, mengemas gundah dengan rajutan rasa sepi. Dalam kepak kebaikan yang harus dicipta, sebagai refleksi wujud azzam dalam keistiqamahan gerak. Aku tersungkur lagi, aku mundur lagi, dan aku merasakannya lagi. Seruak rasa yang meneterkan pengendalian gerak. Seruak rasa penyebab linglungnya jiwa.
Aku takut memutuskan, bukan karena berderet kekhawatiran di baliknya, tapi lebih karena aku tak punya alasan tepat untuk diri, kenapa harus memutuskan. Haruskah aku mengulanginya lagi dalam hitungan sekian kali? Menolak sebuah kebaikan yang aku sendiri tak tak tahu mengapa melakukannya. Sementara jelas ada keridhaanNya di sana.
Ya, aku mengulanginya lagi. Semoga ini yang terakhir, karena aku tak mau terus begini. Karena aku harus segera melangkah pada pijakan baru. Suka atau tidak suka, ridha atau tidak ridha, berat atau ringan, beralasan atau tidak beralasan. Bukankah sesungguhnya diri ini hanya pelaku kebaikan? Dan selayaknya tunduk pada titah sang pemilik kebaikan.
Duhai Rabbi, ijinkan sekali lagi aku belajar dari kesalahan yang sama, kesalahan yang mencipta guratan-guratan kecewa di hati orang-orang terkasih. Semoga masih Engkau beri kesempatan untukku memperbaiki diri, untukMu, dan untuk kebaikan bersama.
Ah… namun sesungguhnya, Engkau yang paling tahu apa yang ada di hati, apa yang terdetik dipikiran. Dan memang benar-benar aku tidak tahu mengapa begitu pada hal yang satu ini. Lebih pada kata semena-mena menggunakan hak jawab yang ada. Pun Engkau yang paling tahu, bahwa aku tak ingin begitu, namun aku melakukannya begitu.
KotaSantri.com © 2002-2026