
Pelangi » Bingkai | Kamis, 8 Desember 2011 pukul 11:15 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Sesuatu yang sudah terjadi dinamakan takdir, benar?
Maka takdir saya malam ini adalah terkejut kemudian gusar setelah menyadari bahwa tag foto FB saya dalam keadaan tidak privasi.
Sebenernya mungkin gak ada yang perlu dikhawatirkan, bukankah di era sekarang ini foto akhwat yang jelas terlihat (tidak diperkecil, tidak diburamkan) banyak bertaburan di dunia maya?
Saya sendiri tidak ingin ikutan berpolemik ria dengan pro-kontra abadi ini. Karena bagi saya, itu hanya kembali ke individu masing-masing. Hanya saja, saya pribadi memilih tidak "mempublikasikan" diri saya secara vulgar di dunia maya.
Menyadari bahwa foto-foto kegiatan yang saya ikuti di sebuah komunitas sering diunggah di dunia maya, pernah saya berbicara dengan seorang lelaki yang jadi admin agar merubah status grup FB-nya adalah "closed". Sang admin belum 'ikhwan', maka alasan sederhana saya waktu itu ke dia; "Saya inginnya orang yang melihat foto saya itu yang pernah ketemu langsung sama saya. Gak nyaman saja saya dilihatin vulgar gitu tanpa tahu siapa orang yang melihat saya."
Entah ini terdengar idealis atau mungkin terlihat tak mengikuti perkembangan. Tapi bagi saya pribadi sampai saat ini, bervulgar ria mejengin foto diri di dunia maya adalah suatu hal yang tak bisa saya lakukan. Jika pun toh saya dianggap tertutup, itu bukan masalah besar. Yang penting saya sudah fair memperkenalkan diri dengan nama asli dan beberapa foto asli yang memang saya perkecil, sebagai bukti bahwa saya ada dan nyata.
Jadi, semoga kegusaran saya ketika mengetahui bahwa semua tag foto-foto saya di FB berstatus "publik" bukanlah sikap yang berlebihan.
Wallahu a'lam bishshawab.
KotaSantri.com © 2002-2026