Pelangi » Bingkai | Kamis, 1 Desember 2011 pukul 12:00 WIB

Untuk Kesekian Kali

Penulis : Aris Solikhah

Allah akan menguji hamba-Nya pada hal-hal yang selama ini ia persoalkan kurang yakini, yang menjadi ketakutan bagi hidupnya. Persoalan sama diujikan berulangkali pada hamba-Nya sampai sang hamba lulus ujian. Sesuatu yang menjadi momok dan kekhawatiran untuk menjalaninya dan bayang-bayang suram hidupnya. Aku tahu, aku salah untuk satu masalah ini, aku masih kurang yakin, khawatir akan keputusan-MU, ya Allah, takut menjalani masa depan. Aku berusaha memaksa diriku ini bagian dari Rahasia-MU di Lauful Maghfudz. Sayang, kadang aku lengah.

Ketakutanku yang sangat besar itu malah menuai kekerasan hati dan kerasionalan akal yang besar. Padahal tak semua hidup dijalani dengan ukuran yang bisa diukur rasionalitas akal. Untuk sekian kali aku mencoba dan gagal lagi, aku sendiri merasa ini adalah sebuah balasan. Aku tahu banyak orang yang kecewa, maka saatnya aku merasakan dikecewakan, sehingga ketika memperolehnya, aku bisa mensyukurinya dengan takzim dan ikhlas. Menikmatinya dengan kebahagian yang memuaskan dan menjalaninya dengan sabar atas semua kerikil tajam di tengah jalan masa depan.

Ternyata mengecewakan dan kini dikecewakan ini membuat aku merasa tersembuhkan dari ketakutan yang membayangiku. Mungkin ini yang disebut mas Jamil Azzaini, "Ketika kau menakuti sesuatu, maka jerumuskan dirimu untuk melakukan apa yang kau takuti." Obat ketakutan adalah berani menghadapi. Sudah berapa kali aku menghadapi, aku sendiri tak percaya bagi orang biasa dan apa adanya seperti aku.

Seno G. Ajidarma mengatakan, "Hidup kekecewaan berarti hidup yang tidak diberkahi, setiap orang harus mengetahui ketakutan terbesar yang ia hadapi." Aku tahu ketakutan terbesar itu adalah dalam soal ini. Dari satu usaha ke usaha lagi, aku berjanji pada-MU, ya Allah, aku tak akan berhenti hingga menemukannya dengan jalan yang Engkau ridhai. Mohon teguhkan hatiku untuk tidak sekali-kali pun menggunakan sarana yang tidak Engkau ridhai, karena aku ingin hidup dalam keberkahan hidup yang Engkau izinkan.

Dengan cara-Mu yang ini, ya Tuhanku, Engkau mengajarkan makna hidup, keberanian, kepasrahan, keikhlasan, dan kasih sayang-MU. Aku akan menerimanya sebagai suatu pembelajaran dan aku akan siap menghadapi tantangan serupa lagi segera.

Tak peduli berapa kali aku jatuh, yang terpenting adalah segera bangun setelah jatuh.

KotaSantri.com © 2002-2026