Pelangi » Bingkai | Kamis, 10 November 2011 pukul 13:20 WIB

Menguncup Bunga

Penulis : Rifatul Farida

Tidak mungkin, kawan, bekuan resah itu mencair dengan sendirinya. Jika tak kita putuskan untuk mengakhiri. Tak kan berhenti, kawan, semua laju tentangmu di mata mereka, yang dipacu oleh banyak alasan, jika tak kau putuskan tuk hentikan. Akhiri episode dengan cerita yang ini!

Menguncup bunga, mungkin sekarang ini judul hidup saya. Ya, ini berhubungan dengan lelaki. Tapi ini bukan tentang lelahnya membuka diri yang selalu diakhiri dengan kesalahan bersikap. Ini, tentang keputusan hidup yang harus saya jalani. Untuk menentramkan hati orang-orang terdekat dan terkasih. Bahwa episode hidup saya saat ini bukan sedang menanti apalagi mencari. Tapi melayakkan diri.

Saya ingin berhenti menyalahkan diri sendiri atas rasa takut, rasa bersalah, rasa terbebani mengkonstruk naluri saya sendiri yang lucunya saya tidak pernah punya deskripsi jelas mau dikonstruk menjadi seperti apa.

Jika menikah adalah karena Allah, seperti yang biasa didengungkan oleh para ikhwah tarbiyah dan aktivis dakwah, maka saya butuh alasan pendamping mereka yang hanya didengungkan di hati masing-masing. Yang justru alasan yang hanya tersimpan di hati itu yang memegang peran penting juga. Karena saya, tak punya alasan yang hanya terdengar oleh diri sendiri saja.

Itu yang kemudian saya lakukan (dengan polosnya, mungkin?) ketika beberapa waktu yang lalu saya menantang diri saya untuk menikah dengan seorang lelaki yang sudah punya isteri, karena Allah. Namun, mengejutkan respon guru ngaji saya yang keberatan akan hal ini. Yang kemudian niat ini saya akhiri tanpa polemik berkepanjangan. Dan saya jadikan momen ini untuk mempertegas pada orang-orang terdekat, jangan lagi mencarikan saya calon belahan jiwa! Karena itu seperti membuka sebuah masalah dan buang-buang waktu.

Akhirnya, satu alasan tepat muncul, yang semoga bisa menjadi pembunuh semua rasa tak jelas itu. Jika hingga sampai saat ini saya belum juga menikah, bukan karena saya kebanyakan kriteria atau tak cocok dengan siapapun yang pernah datang menawarkan tempat labuhan, tapi tak lebih karena saya sedang dalam keadaan tidak layak menjadi isteri siapapun. Titik. Tidak njilmet dan sangat jelas. Yang dari sini saya bisa mulai menjalani semua hari saya akan seperti apa.

Inilah hari baru saya, dengan rasa yang baru, dan dengan semangat yang selalu baru!

KotaSantri.com © 2002-2026