
Pelangi » Bingkai | Senin, 7 November 2011 pukul 11:00 WIB
Penulis : Aris Solikhah
Wahai jiwa yang letih...
Lelah tua rapuh. Menanti dalam penghujung waktu tak tentu. Aku mencaci maki dalam diam. Berteriak dalam sendu. Aku rongrong diri sendiri dengan kata-kata hina. Aku tak mampu. Aku tiada guna. Aku lemah. Aku tiada arti. Aku tiada dicinta. Aku malas. Penuh kelemahan dan kekurangan. Aku adalah serangkum jiwa-jiwa kerdil. Sifat-sifat buruk bermuara. Lalu mengerutlah aku. Duduk menekuk lutut.Wajah sendu menunduk beku. Menekuri lantai dingin. Berurai airmata dalam sepi, gelap, sendirian. Meratapi nasib berkepanjangan.putus asa. Diam. Tak berbuat apa-apa. Maka seolah-olah aku sampah hina dina, patut dibuang dan disingkirkan.
Tak kah Aku sadari wahai jiwaku, saat aku menghina diriku sendiri. Aku telah merendahkan diriku sendiri. Aku telah mengingkari maha karya luar biasa Sang Pencipta. Apa hakku menghina, mencerca wadah pinjaman. Betapa jahatnya, kriminal ulung memasukkan berjuta-juta virus paling berbahaya, menyerang software pikiran dan hatiku sendiri. Pusat semua kekuatan dan pengendali diriku sendiri. Tahukah kau, wahai jiwaku itulah godaan setan terkutuk yang menyusup dalam nadiku. Kau hanya diminta beramal sebanyak-banyak dengan tubuh dan jiwa pinjaman ini. Waktu pengembaliannya pun terbatas, sempit dan aku tak pernah tahu. Ayo bersegeralah..
Lalu kau rongrong pula dengan kata manis.Aku pandai. Aku unik. Aku penuh talenta. Betapa hebatnya Aku. Betapa beruntungnya aku. Betapa baiknya aku. Dermawan, berbudi. Segudang potensi. Semua ini kucapai karena usahaku sendiri. Karena aku mampu. Karena aku diwarisi keajaiban. Tiada arti orang di sekelilingku. Mereka bodoh. Tak punya apa-apa. Tak tahu apa-apa. Ih siapa lhoh..
Takkah kau sadari wahai jiwaku, saat aku memuji sendiri sendirian, suaramu menembus langit ke tujuh. Bumi goncang mendengar keangkuhan, kesombongan diriku sendiri. Laut mendidih marah. Gunung seolah memuntahkan isinya, karena jijik mendengar bisikan hatiku. Aku arogan. Pintu-pintu kebenaran, kebaikan tertutup rapat. Pintu-pintu surga pun lari dariku.
Wahai jiwaku dan tubuhku, tidakkah ingat aku hanyalah satu makhluk super mikro bahkan super nano di tengah luasnya ciptaan jagad raya. Otak dan kecerdasanku kapasitasnya beberapa cc saja. Tak cukup menampung tinta-tinta dan kalam ilmu ilahi. Semua yang aku miliki juga sebatas pemberian ilahi. Tubuhku tumbang hanya virus flu. Suaraku hilang gara-gara radang tenggorokan akibat hawa sangat dingin. Cuma hawa dingin. Ingat itu. Aku bukan apa-apa ditengah maha karya dan luasnya kekuasaan Allah swt. Bertaubat dan bersyukurlah..
Wahai jiwaku, inilah hidup. Aku akan berperang dalam dua sisi bahkan beranekaragam. Bisikan menggoda. Rayuan gombal. Pikatan pesona asyik masyuk, suara hati yang menggelora. Pujian yang melupakan melalaikan. Pun serangan hinaan merendahkan yang menghancurkan.
Jangan Pernah Menyerah Pada Diri Sendiri! Jangan Pernah Putus Asa! Hambatan Di Luar Jauh Kecil Jika Aku Pandai Mengelola dan Menyikapinya. Diriku Sendiri Yang Bisa Melawannya. Bukan Orang Lain. Jangan Bergantung Pada Orang Lain. Jangan terlalu berharap pada orang lain. Kemenangan Diriku Adalah Sumber Kekuatan Menjalani Hidup. Mintalah Allah Senjata Ampuh Mengalahkan Diriku Sendiri. Senjata Berupa Iman, Ilmu, Dzikir, Pikiran Yang Sadar.
KotaSantri.com © 2002-2026