Pelangi » Bingkai | Kamis, 18 Agustus 2011 pukul 12:45 WIB

Mewarna Jiwa

Penulis : Rifatul Farida

Malam-malam yang tak pernah sama, mestinya mengukir kisah dan laku yang tak sama juga. Gemintang, rembulan, awan, langit, angin dan di sini yang hanya aku, mengamati sketsa jiwa. Masih belum sempurna kuwarnai.

Bisakah kucoba tarik garis vertikal, horisontal, dan diagonal dari titik tengahnya? Agar dapat kujulangkan sampai ke bintang, berteman dengan rembulan, menyapa awan, menarik perhatian langit, dan akhirnya menebar bersama angin.

Biar kurasai lagi semua gelora, yang urutannya dimulai dari lubuk hati. Kemudian aku pulang ke titik awal, belajar mengeja lagi a ba ta tsa. Hingga saat kulafalkan alif laam miim, telah kudapati jiwaku sempurna terwarnai.

Maka kutantang diriku, untuk mempertanyakan tentang keimanan itu. Dan mencari jawab pada setiap laku diri, yang harusnya menjadi cerminan keimanan itu sendiri. Keimanan yang tertumpu pada keyakinan. Yang kemudian keyakinan itu berhukum mutlak. Tak samar, tak ragu-ragu.

Kini aku terdiam dalam renungan, ketika syahadatainMu meminta didefinisikan dengan sempurna.

KotaSantri.com © 2002-2026