Pelangi » Bingkai | Kamis, 12 Mei 2011 pukul 11:00 WIB

Ketika Cinta Bukan Merah Muda

Penulis : Rifatul Farida

Engkau marah. Marah semarah-marahnya. Tubuhku menggigil takut, mataku menunduk bersalah.

Setelah jeda cukup lama, engkau menarik nafas panjang. Kemudian merangkul pundakku. "Maafkan Bapak ya? Bapak tidak bermaksud memarahimu, Bapak hanya mengkhawatirkanmu."

Dan saat itu, air mataku tumpah dalam dekapan pundakmu. Wajah merah itu telah meredup. Wajah merah itu ekspresi kecintaan. Dan sejak saat itu, aku mengetahui, bahwa merah juga cinta. Dan cinta memang tak selalu merah muda, tapi bisa juga merah menyala. Bahkan tak jarang menjadi biru tua dari air mata bunda.

Cinta ternyata sekumpulan warna dari refleksi rasa dan rupa.

Cinta, yang menyembul menjadi kekhawatiran luar biasa ketika gadis remajanya sangat telat sampai ke rumah selepas pulang sekolah tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

KotaSantri.com © 2002-2026