Pelangi » Bingkai | Kamis, 28 April 2011 pukul 10:30 WIB

Aku Rindu Padamu

Penulis : Rifatul Farida

Di masa lalu, Ayahanda tercinta menanamkan begitu kuat pandangan tentang kebaikan-kebaikan takdirNya untuk pikiranku yang hanya satu-satunya ini. Hal itu cukup manjur menjadikanku pribadi yang tidak mudah kecewa. Jika toh rasa kecewa itu tak bisa dihindari, maka aku tak membiarkan berkepanjangan merasuki hati.

Pernah suatu kali, seorang al-ukh menceritakan kegusaran hatinya. Kebimbangan yang begitu menggelisahkan, tentang fikrah yang ia amini selama ini. Melihat tak selalu apa yang terjadi sesuai dengan harapannya, bahkan kelewat jauh dari bayangannya. Berkali-kali ia kecewa dan akhirnya, beralih fikrah juga.

Barangkali takdir Allah memang begitu. Entah bagaimana ceritanya, setahuku sebelum pindah ke kota lain, waktu itu dia sedang berta'aruf dengan seorang ikhwan. Tapi ujungnya malah yang dinikahi dari 'kelompok' sebelah. Dapat dipastikan kemudian al-ukh yang 'akhwat banget' dengan kebebasan ekspresi berakses mudah dan luas keluar, dibatasi (atau mungkin membatasai diri) dengan fikrah barunya. Aku hanya melongo ketika mengetahui bahwa dia tak lagi pegang HP, jarang berselancar di 'dunia maya' dan meng-cut semua hubungan (baik) yang selama ini telah dibangunnya dan sudah barang tentu menjadi kebiasaannya.

Takdir. Lagi-lagi aku mendesah panjang mengetahui hal itu. Dan desahanku semakin panjang, berharap akan selalu bisa melapangkan dada ketika dia mulai menyerang teman-teman di masa lalunya, termasuk aku. Mencoba berbicara baik-baik, justru yang terjadi dia semakin menjadi. menumpahruahkan kekecewaannya dan banyak hal yang kini tak sesuai lagi dengan fikrahnya. Banyak hal, yang dulu menjadi perekat erat di indah ukhuwah. Kok? Kenapa akhirnya jadi begini? Haruskah dengan begini jika kecewa?

Hujan turun saat ini, teringat ketika kami berjingkrak cepat menerobos barisan butiran-butiran bening itu. Ke sebuah cafe dan rebutan pesan nasi goreng, yang akhirnya malah jadi sepiring berdua. Engkau terkekeh ketika aku buru-buru minta air minum, kepedasan. Ah, dasar dirimu. Aku yang tak begitu suka pedas engkau kerjain.

Sudah lupakah engkau, ukhti? Semua kenangan manis kita yang telah menjelma jadi tautan yang seharusnya tak lekang oleh apapun.

Jika hanya dengan kecewa kemudian kurasakan "kekejamanmu" menguliti semua yang menurutmu salah, maka ingin sekali kukatakan padamu, bahwa aku pun kecewa dengan sikapmu. Aku pun kecewa dengan semua yang ada pada dirimu kini. Namun, aku tak ingin diperbudak oleh perasaan itu. Maka, kukendalikan kecewaku.

Dan tahukah engkau, aku masih menyimpan rasa rindu padamu. Jika tidak saat ini, entah kapan, aku ingin kita menerobos lebatnya hujan lagi, tertawa bersama ketika genangan air mengguyur kita dengan tiba-tiba hanya karena sebuah mobil lewat cepat membuatnya muncrat di baju kita. Tak masalah jika kau berpakaian serba hitam dan hanya mata yang terlihat.

Aku rindu padamu, sungguh.

KotaSantri.com © 2002-2026