Pelangi » Bingkai | Kamis, 14 April 2011 pukul 10:10 WIB

Catatan Hati

Penulis : Rifatul Farida

Dalam catatan-catatan hati, yang telah kutulis rapi, tentang sebuah keputusan baik, bahwa aku siap untuk mencintaimu, karenaNya. Maka, berikan aku satu tanda, kalau engkau menginginkan aku membersamaimu dalam banyak ketaatan. Meski pada kenyataannya, engkau tak pernah hadir dalam raka'at-raka'at panjangku.

Aku tak perlu hitungan-hitungan itu, cukup mula niat yang sama, bahwa kita memadukan hati adalah untukNya dan karenaNya, maka kuterima engkau sebagai imam. Dan aku telah siap menopang jiwamu, dan aku telah siap menjadi tempatmu menyandarkan lelah dunia, dan aku telah siap menjadi apapun yang engkau inginkan, yang engkau mau, sebanyak apapun dalam ikhtiarku menjadi yang terbaik untukmu, karenaNya.

Itu, kemarin, sebelum kita bertemu.

Namun sekarang, rasa sakit di hati orang-orang terkasih kembali menggores. Mungkin kali ini cukup dalam. Karena engkau adalah lelaki pilihan yang telah disenangi mereka. Ada harapan besar kulihat berbinar di mata-mata yang selalu memandangku dengan banyak tanya. Dan aku, telah tega meredupkan binar-binar itu hanya dengan satu kata tak terduga. Aku merasa bersalah, mungkin, namun aku yakin aku tak salah.

Tak masalah jika engkau masih awam dalam agama, karena telah kusiapkan hari-hari kita dengan belajar bersama. Tak masalah jika engkau asing dan tak mengerti tentang banyak istilah gerakan dakwah, karena telah siap tangan-tangan istiqamah membawamu turut serta melaju. Tak masalah jika semuanya dan dalam banyak hal kita harus memulai dari awal, karena aku telah siap membersamaimu. Bahkan, tak masalah bagiku seandainya kita harus memulai meletakan batu pertama peradaban itu di ruang sederhana milik orang lain yang harus kita bayar tiap bulan, toh rumahku surgaku itu letak pemaknaannya di hati. Sungguh, tak ada masalah dengan apapun selain hal prinsip itu. Hal prinsip yang kemudian tak kudapati ada dalam dirimu.

Maka, maafkan aku, karena kini kukemas catatan-catatan hati yang telah terlanjur tertulis. Biar kusimpan, hingga takdir itu datang membukanya kembali, pada sang belahan jiwa, yang tak harus kutemukan di dunia. Karena berakhirnya masa hidup ini, bisa terjadi kapan saja.

KotaSantri.com © 2002-2026