
Pelangi » Bingkai | Kamis, 31 Maret 2011 pukul 11:25 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Di titik ini, saya berhenti lagi. Jauh dari kebisingan kota, jauh dari hiruk pikuk semu. Melihat barisan padi yang merimbun, menyisip di tengah-tengah belukar pohon jagung. Menyapa lembut banyak hati tulus nan sopan. Membiarkan ujung jilbab merah muda saya dipermainkan angin sawah.
Berpijak di atas tanah sesubur ini. Pantaslah jika ada yang berkata tongkat saja bisa tumbuh. Sayang, saya buta dengan bab pertanian. Namun akan tetap bangga dengan Ayahanda tercinta, karena telah mewariskan ilmu "mendidiknya" pada saya.
Meski bukan dari keluarga petani, namun sejatinya saya sangat menyukai dalam urusan tanam menanam. Hanya saja kesempatan untuk berkiprah di sawah tak pernah datang. Makanya jangan heran jika di halaman depan rumah kami, ada mawar tumbuh berdampingan dengan jahe dan tomat.
Ah, dan saya selalu berjingkrak ceria setiap diajak ke tempat Nenek. Karena sudah terbayang kaki telanjang saya menapaki tanah-tanah gembur, karena sudah terbayang Kakek akan mengajak saya serta memanen pohon singkong. Karena sudah terbayang Bulek akan langsung sigap memasak ikan hasil tangkapan kami. Semuanya begitu indah untuk dilakukan secara berulang-ulang.
Seperti hari ini, meski saya hanya cukup memandanginya saja. Ya, memandangi bentangan hijau di depan, belakang, kanan, dan kiri saya. Diiringi rintik hujan dan temeram mendung. Jika sebentar lagi hujan melebat, maka saya telah siap untuk meloncat girang. Berteriak kencang bersama nyanyian alam. Melepas semua kekakuan dalam balutan tubuh dewasa. Dan berbasah kuyub sembari menahan dingin.
Tapi sepertinya kali ini tidak akan terjadi cerita itu. Karena saya harus belajar untuk lebih mengendalikan diri secara sempurna. Bahwa tidak semua yang terdetik di hati harus dilakukan. Bahwa ya, hidup ini jelas garisnya antara hitam dan putih. Namun, hidup juga memiliki nuansa indah dan luwes. Itulah kemudian kenapa hidup juga harus berwarna. Dan tak kan pernah ada cerita perpaduan warna yang indah, jika kita tak mengerti seninya menikmati hidup.
Sudah seharusnya saya menyadari, bahwa saya bukan anak kecil lagi. Meski terkadang semuanya masih seperti mimpi. Berulang kali kesadaran ini tersentak pada hal yang sama, setiap kali tawaran itu datang. Begitu berat memberanjakkan jiwa ini, ke sebuah persinggahan yang seharusnya menjadi tempat labuhan.
Biarlah...
Saya sedang tidak ingin memikirkan apapun. Karena inilah waktu saya saat ini. Melarutkan perasaan pada pesona keagunganNya. Mensyukuri atas nikmat penglihatan ini. Teringat pada sebait puisi yang menjadi bagian dari alunan nasyid milik Tazakka :
Ketika mata yang memandang dunia mulai memudar buram menuju hitam,
siapkah kita menerima semua karena gelap keabadian akan menyapa,
apakah kita akan lakukan yang terbaik karena sebentar lagi cahaya tak lagi bicara,
hanya kenangan di kepala tentang merah, biru, kuning yang tersisa
dan akhirnya semua terlupa
(Tazakka, Jangan Ambil Penglihatanku).
Maka nikmat yang mana lagi yang bisa didustai ? Begitu banyak hal baik yang teranugerahkan. Seperti juga hal baik pada setiap catatan takdir. Bahwa Allah SWT tak kan pernah salah menakdirkan garis hidup. Akan menggurat tepat dalam perhitunganNya.
Benar adanya, semua hal hanya terletak pada kesungguhan kita. Tinggal memadukan dengan tawakal, dan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena akan mereduksi menjadi kata pasrah yang sebenarnya.
Hanya saja, saya tidak pernah bisa mengukur, seberapa kesungguhan saya, untuk mengendalikan naluri ini.
KotaSantri.com © 2002-2026