
Pelangi » Bingkai | Kamis, 17 Maret 2011 pukul 16:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Ia pasrah, merebahkan semua lelah di pundak-pundak keimanan. Sejenak bermanja di pangkuan senja, bermain riang dengan warna merah jingga. Hingga ketentuanNya mengabari pasti.
Ia melanjutkan hidup, tidak mengulangi hari, namun merunut hari. Dari perdetiknya hingga pertahunnya. Menyambangi banyak hati, berharap dapat menjadi pelipur lara. Merengkuh banyak jiwa, dengan tangan-tangan harapan baik, akan lahirnya cerita hari esok, yang bisa dicipta mulai sedari saat ini.
Ia tersenyum, untuk banyak cita, yang memandu arah langkahnya. Dan mengeramkan persangkaan baik pada yang Maha Berkehendak. Maka sabar dan syukur menjadi pergiliran indah, menabur di setiap jengkal tapak-tapak yang menuju cahaya keabadian.
Ia tak lelah, hanya kadang resah, namun itu tak kan berlangsung lama. Karena janjiNya lebih kuat memberi jaminan dari penawaran apapun dalam kehidupan. Dan itu menentramkan.
Ia menyadari, jalan masih panjang. Maka tapak-tapak dalam tarbiyah dan dakwah harus tetap istiqamah. Jika hari ini lurus-lurus saja, tak kan ada yang tahu esok akan tetap begitu, atau malah terjal dan berliku. Itulah sebabnya ia tak bisa melangkah seorang diri. Maka ukhuwah mengambil peran penting untuk mengawalnya.
Dan Ia, hanya manusia bumi yang berharap melangit dengan sayap-sayap ketakwaan. Jika tidak untuk hari ini, maka untuk hari berikutnya dan berikutnya. Karena jalan yang serasa masih panjang ini, bisa jadi berakhir kapan saja.
KotaSantri.com © 2002-2026