
Pelangi » Bingkai | Senin, 31 Januari 2011 pukul 12:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Di indah mawar, mataku tertawan. Pada aneka warnanya, tetap saja ia mewangi satu. Jika boleh, ijinkan aku menyentuh, merengkuh, dan memiliki. Kujadikan hiasan di taman hati. Bukan untuk menarik para kumbang menghampiri. Tapi aku ingin ia menjadi bagian dari diri.
Jika cinta tetaplah merah muda, maka akan kugubah menjadi merah marun. Karena mawarku telah tumbuh subur, dan menjadikan semua bernuansa sama. Agar tak ada lagi kisruh dalam hati, agar tak ada lagi kisah melemah dan patah, atau centilnya merah muda di usia dewasa. Karena merah marun itu mempunyai ketegasan karakter, kuat, dan berani.
Mungkin aku tak selalu tegar, tapi aku tak kan pernah menjadi lemah dan berhenti. Karena begitulah jiwa ini telah mengendalikan, dalam keputusan hidup tuk tetap melaju. Dengan ingatan sepanjang waktu, tentang pengakuan kerdil di hadapanNya, yang menjadi nada-nada kepasrahan purnakan tiap ikhtiar.
Atau jika boleh, dan bolehkah? Aku ingin mengatakan langsung dan jujur. Bahwa aku ingin menggubah diriku menjadi mawar, dan menjadi bagian dari indahnya pesona ciptaanNya. Melafadzkan dzikir pagi-petang dalam ketertundukan tanpa pamrih. Pahami hakikat hidup, tanpa khawatir senja datang gugurkan kelopaknya.
Namun pada kenyatannya aku hanyalah wanita bumi yang hidup di akhir zaman. Berharap dapat melangit dan bertemu para bidadari, belajar banyak hal dari mereka, tentang kesabaran menanti dan melawan semua rasa takut.
Atau tak harus melangit? Karena sosok Khadijah memberi teladan, Aisyah pun menginspirasi, dan Fatimah Az Zahra menawarkan ajaran kesedehanaan hidup.
KotaSantri.com © 2002-2026