Pelangi » Bingkai | Senin, 20 Desember 2010 pukul 18:55 WIB

Bukan 'The Winner' yang Tersakiti

Penulis : Rifatul Farida

Satu hal yang tak pernah kuinginkan adalah bertemu denganmu. Karena masa lalu itu perihnya masih terasa sampai saat ini. Namun, pil pahit harus kutelan lagi, sebagai imunitas keimanan, dan penahan air mata agar tak tumpah. Ketika ternyata IA lebih memilih menguji hatiku lagi. Ya, mempertemukan aku dan engkau kembali.

Beberapa tahun yang silam, saat kita bersama dalam sebuah masa yang diberkahi dengan lingkungan yang kental tarbiyah serta lahan subur dakwah. Laksana pangeran biru yang dikerumuni banyak bunga, begitu batinku ketika melihatmu dikagumi oleh para kaum hawa.

Tiga bulan berlalu, siapa sangka, aku terkena juga virus merah jambu itu. Menelusup begitu halus, saking halusnya sehingga aku tak pernah menyadari ada kuncup yang tertanam di pekarangan hati. Maka mekarlah kuncup bunga cintaku. Ya, cinta. Untuk kali pertama aku merasakan perasaan yang begitu indah, berbeda dan menyenangkan. Aku, sedang jatuh cinta.

***

“Cinta tetinggi hanya untuk Allah,” teriakku di depan kaca pagi itu, ketika tersentak tentang apa yang baru saja berada di pikiranku. Pagi-pagi buta begini, ingatan tentangmulah yang pertama kali hadir. Dan tiba-tiba saja, aku merasa menjadi pengkhianat. Pengkhianat cinta sejati. Wajahku pucat pasai, tubuhku lemah.

“Duhai Rabbi, belum pernah aku begitu mengingatMu seperti halnya aku mengingatnya seperti ini.”

Dan tekad itu telah bulat, setelah dhuha tadi puas sesunggukan atas kegagalan menjaga hati, atas kelalaian yang luput dari dalam diri, bahwa cinta yang ini tidak pada tempatnya. Maka tekad ini semakin membulat. Aku, harus menyingkirkan semua rasa.

***

Ah, sepertinya engkau telalu menawan untuk hatiku. Kenapa engkau begitu perkasa mencengkram pikiranku? Dan menghindarimu, menjauhimu, melupakanmu menjadi sangat begitu berat.

Tapi, bukan berarti aku menyerah dan gagal melakukannya. Ini, perjuangan melawan diri sendiri. Perwujudan perang terbesar yang pernah dikabarkan oleh sang Nabi SAW. Dan aku telah memutuskan untuk memilih menjadi ‘the winner’.

Namun, lagi-lagi yang kurasa seperti tak kuasa menahan, ketika engkau terlalu menggoda untuk kuabaikan. Semua lesat pandang seolah-olah hanya tertuju padamu.

“Duhai Rabbi, aku lemah. Tolong kuatkan aku. Agar dapat kutepis semua hal yang ada pada dirinya.”

***

Cinta, jangan lagi menyiksaku. Lepaskanlah aku, mari kita buat kesepakatan, bahwa engkau akan datang pada saat yang memang tepat, lalu engkau boleh tumbuh subur sesukamu di lahan halal, dengan kejelasan niat, kejelasan tujuan, dan kebenaran cara. Bukan seperti ini, menggelisahkan.

Cinta, jangan mekarkan dulu bunga-bunga rindu, jangan semerbakkan dulu khayalan hidup indah bersamanya. Biarkan aku meluruhkan semua rasa yang sudah terlanjur ada di hati. Biarkan kugubah semua keinginan menjadi nada-nada ilahiyah, yang menyenandungkan dawai hati hanya untukNya.

Maka cinta pergilah, jauh. Karena aku menolakmu untuk hadir saat ini.

***

Tersenyum, meski sebenarnya sakit itu terasa begitu hebat menghantam ulu hati.

”Barakallahulaka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair.”

Tak perlu ada yang disesali, karena memang ini yang sudah menjadi pilihan. Dan seharusnya menyadari dari awal mula memutuskan, bahwa jika aku memilih tidak, maka tawaran akan berpindah ke bunga lain. Dan bukankah engkau memang pangeran biru yang dikelilingi banyak bunga? Maka, engkau hanya tinggal tunjuk saja, dan jadilah milikmu salah satu dari mereka.

Namun Allah, aku tak pernah menyangka kalau rasanya akan sesakit ini. Benar-benar sakit ! Apakah ini yang dinamakan patah hati? Semuanya kini terasa begitu buram. Ada sesuatu yang luar biasa baru saja hilang dari kehidupanku. Sementara hatiku, seolah baru saja terhempas entah di lembah mana.

Ah, kenapa harus patah hati?

“Allah, aku sedang tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tolong aku, ya Allah, aku tak mengerti…”

***

Maka, selamat tinggal cinta, selamat tinggal masa lalu, selamat tinggal pangeran biru. Aku akan melanjutkan hidupku. Mulai menata hati yang baru saja porak-poranda.

Harus diakui, bahwa engkaulah lelaki yang pernah mendecakkan kekaguman. Kekaguman yang bermetamorfosis menjadi cinta. Yang kemudian, ku memilih untuk tidak meneruskannya menjadi bentuk indah, yang akan membersamai perasaan lainnya dalam kehidupan.

Dan aku memang benar-benar melanjutkan hidupku, tanpamu.

Dan aku telah berhasil melakukannya; pergi dan melupakan.

Berhasil? Ah, kata itu kini menjadi tanda tanya besar. Jika memang telah berhasil, kenapa selama ini orang yang tidak ingin kutemui seumur hidupku adalah engkau? Kenapa aku takut bertemu denganmu?

Baiklah, mungkin aku mulai mengerti. Bahwa engkau ditakdirkan datang kembali, karena memang ada yang belum terselesaikan. Mungkin aku telah pergi dan melupakanmu, tapi sepertinya tanpa kusadari aku belum bisa pergi dan melupakan cintaku padamu.

Lalu, apa yang harus kulakukan? Apakah aku akan memilih pada hal yang sama meski dengan kisah yang berbeda? Ah, rasa sakit itu, aku tak ingin mengalaminya lagi.

Allah, tapi Engkau telah memilih untuk menguji hatiku lagi. Pangeran biru kini hadir kembali di hadapan.

Bismillah…

Aku siap menghadapinya, ya Allah, dan aku telah memutuskan, untuk memilih menjadi ‘the winner’ lagi. Tapi kali ini pilihanku adalah ‘the winner’ yang sesungguhnya, bukan ‘the winner‘ yang tersakiti.

***

rf_Seperti yang telah dituturkan oleh seorang akhwat dan ditulis ulang dengan bahasa sendiri.

KotaSantri.com © 2002-2026