
Pelangi » Bingkai | Kamis, 7 Oktober 2010 pukul 18:05 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Malam ini, duhai Allah, ijinkan kuurai hatiku lagi, dengan kejujuran pada diri sendiri, tentang apa yang menjadi keinginan. Karena sungguh, tak ada yang mutlak menjadi panutan, kecuali mereka adalah Rasullullah dan para sahabat.
Pada dunia yang makin fana, yang terasa kian meruncingkan perbedaan antara prinsip al-hak dan al-batil. Di gemuruh panas dan kisruh kota dari bagian negeri ini, yang tak kudapati keberkahan ada padanya. Aku, hanyalah setitik debu remeh, yang kini lebih berpikir untuk menyelamatkan diri sendiri. Karena arus yang kurasakan akhir-akhir ini begitu besar dan lebih kuat menghantam kekokohan benteng kebaikan, yang pernah terbangun dalam pengawalan ketat syari’atMu.
Duhai Allah, jika pernah terdetik sebuah keinginan untuk hidup bahagia, maka itu adalah menjadi kewajaran pada setiap jiwa manusia. Meski hal itu sebenarnya sudah lama menjadi kesadaran dan pertanyaan besar, bahwa mustahil dalam hidup itu berisi bahagia di sepanjang waktunya, maka saat itu juga pemaknaan mulai ditelusuri, bahwa aku harus mengerti dengan detail, tentang setiap hal yang menjadi penyebab bahagia itu datang. Sehingga di ujungnya, dengan banyak hal yang Engkau ilhamkan, dan berbagai kejadian yang Engkau perlihatkan, bahwa ternyata menjadi hal yang sia-sia luar biasa pencarian kebahagiaan itu, karena bahagia itu bukanlah wujud yang berdiri sendiri.
Engkau menginginkan semua gerak dan keputusan hidup adalah karenaMu dan untukMu, Engkau menginginkan kepercayaan penuh dan menyeluruh pada setiap urusan hidup dari makhlukMu. Maka duhai Allah, saksikanlah di sepertiga malamMu ini, kutelangkupkan kedua tangan, pasrah. Menunduk pada setiap titah takdirMu dan benar-benar ingin menjadi pribadi seperti apa yang Engkau kehendaki.
Duhai Allah, tetapkanlah jiwa ini dalam ketaatan, dan mampukanlah diri ini mengejawantahkan ketaatan itu di manapun dan dalam kondisi seperti apapun. Semata hanya menjadikanMu sebagai perhatian utama, pada setiap urusan hidup dan berbagai hubungan baik dengan makhlukMu yang lain. Ijinkan, dan bantu diri ini untuk semakin mendekat, dan kian mendekat padaMu, duhai yang Mahadekat.
Duhai Allah, putuskanlah segala harapan yang bukan bermuara padaMu, kuburlah segala keinginan yang tak menyertakanMu sebagai pijakan, dan hentikanlah setiap laju gerak yang menuju pada selainMu. Karena aku benar-benar ingin menjalani hidup ini dengan sebenar-benarnya hidup menurutMu.
Allah, sepenuhnya hidup ini adalah milikMu, seluruhnya urusan ini adalah kuasaMu. Tetapkanlah aku dalam kesadaran ini. Agar memulai tapak-tapak itu, tapak yang pernah dirunut oleh Rasullullah serta para sahabat, yang masih meninggalkan jejaknya dalam setiap gerak dan sikap sebagai bagian dari sunnah bernilai lebih di hadapanMu.
Hingga pada akhirnya, Engkau ridha atas semua hal yang terlakukan. Karena dalam ridhaMu mengucur keberkahan-keberkahan hidup. Dan dalam bagian setiap keberkahan ada bahagia di sana. Rasa bahagia dalam ketaatan, yang mampu mengecap manisnya iman.
Aamiin.
KotaSantri.com © 2002-2026