
Pelangi » Bingkai | Kamis, 23 September 2010 pukul 18:25 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Memunguti serpihan pagi ini, dengan detak jantung yang tak seperti biasanya, karena aku akan memulai kehidupan yang baru, seperti waktu sebelum sisi buram itu datang, selepas dalam sendu jiwa menguarai keinginannya, pada sang kekasih hati di sepertiga malam.
Ternyata memang tak ada yang perlu dirisaukan, sehebat apapun cemas mencekam. Karena telah teryakinkan kembali, dalam kesadaran penuh, bahwa IA Maha Mengetahui semua masalah kehidupan, karena memang semua urusan adalah milikNya, maka IA-lah, sang pembuat skenario kehidupan, yang paling tahu jalan keluarnya.
Lalu, tugasku hanya merunut dan nurut, itu saja. Dengan ketakwaan ini, bukankah IA telah berjanji dalam firmanNya, akan menyediakan jalan keluar dari arah tak terduga? Maka, selama langkah itu menuju pada kebaikan, tak ada alasan lagi untuk melangkah ragu.
Setiap pergerakan langkah baik itulah yang disebut dakwah. Ya, hidup adalah dakwah, demikian tutur seorang ustadz panutan di sebuah kajian. Dan salah besar kalau dakwah itu diidentikkan dengan ceramah. Sebab, ceramah itu sendiri hanya bagian dari komponen dakwah.
Kenapa hidup itu dakwah? Karena memperbaiki diri sendiri sejatinya adalah dakwah. Memulai segala kebaikan dari diri sendiri sejatinya sedang melakukan dakwah.
“Aku aman bagimu, aku menyenangkan bagimu, dan aku bermanfaat bagimu,” bukankah sebuah permulaan dari perbaikan kepribadian diri sendiri yang sangat luar biasa?
Ya, aku aman bagimu. Mengamankanmu dan tak kan membuatmu khawatir. Kau akan baik-baik saja jika berada di dekatku, terlebih bersamaku. Karena aku tak kan pernah punya selintas pun pikiran untuk mencelakakanmu. Dan semata kulakukan ini untuk memperbaiki diri sendiri, agar menjadi pribadi yang mampu bertutur, “Aku aman bagimu.”
Ya, aku menyenangkan bagimu. Maka lihatlah keceriaanku menepikan gundahmu bukan? Akan kuceritakan padamu tentang hal yang indah-indah saja. Dan membuat menjadi indah apapun yang menyambangi hidup ini. Karena keyakinan akan kebaikan takdir menjadi pondasi kokoh pada setiap tahapan hidup yang tak jarang meletupkan rasa kecewa. Maka, mari belajar bersama untuk tidak kecewa dengan kehidupan, mengisinya dengan keceriaan. Dan di dekatku, terlebih bersamaku, akan kupastikan kau selalu bahagia. Semata kulakukan ini untuk memperbaiki diri sendiri, agar menjadi pribadi yang mampu bertutur, “Aku menyenangkan bagimu.”
Ya, aku bermanfaat bagimu. Maka jangan sungkan terlebih malu-malu jika engkau butuh bantuan. Hubungi kapan pun kau mau, karena aku tak kan merasa terganggu. Manfaatkan keberadaanku, niscaya aku akan berupaya menjadi pribadi yang benar-benar bermanfaat. Semata kulakukan ini untuk memperbaiki diri sendiri, agar menjadi pribadi yang mampu bertutur, “Aku bermanfaat bagimu.”
Hidup adalah dakwah. Oleh karenanya, memperbaiki diri sendiri sejatinya adalah dakwah. Memulai segala kebaikan dari diri sendiri sejatinya sedang melakukan dakwah. Maka, mari berdakwah!
***
RF_Special for my the great teacher Aa’Gym, Rahmat dan keberkahan hidup tercurah selalu untukmu.
KotaSantri.com © 2002-2026