Pelangi » Bingkai | Senin, 12 Juli 2010 pukul 18:00 WIB

Tetaplah Bahagia Bersamaku

Penulis : Rifatul Farida

Dan, masihkah senja itu menjingga? Kala gegumul mendung hadir merunut kodratNya. Sementara ada janji di tepi hari ini, untuk melihat langit bersama. Maka, ternyata hitam pekat menjadi satu-satunya suguhan pemandangan yang kita nikmati bersama. Tak mengapa, tak perlu menyalahkan, tak usah kecewa. Karena kebersamaan ini telah cukup memberi makna, meski tanpa rekah jingga mengiringi.

Lalu, sudahlah... tak usah bertahan mendongakkan kepala ke atas. Karena mendung tetaplah berwarna hitam, dan mustahil menjingga, kecuali jika aku bisa sulap, maka dengan senang hati akan kukatakan "bim salabim" dan menjinggalah langit kita sore ini. Namun, sesuatu yang mustahil bukan? Maka, tak usah berharap apapun ya tentang ini? Karena aku tak bisa melakukan apa-apa bila yang Mahakuasa telah berkehendak demikian.

Kecuali, jika kau masih percaya bahwa bahagia masih bisa dicipta, meski dengan cara yang berbeda. Maka, tetaplah di sini bersamaku dan tunggulah sebentar lagi. Sabar ya... karena aku juga tak tahu tepatnya sampai kapan. Yang kutahu, saat itu sangat dekat sekali dengan masa kita sekarang.

Dan... "Tes, tes... bresss..." Sekaranglah saatnya! Ayo, hujan-hujanan! Kuajak kau luruhkan semua gundah, bersama butiran bening yang penuh keberkahan. Tertawalah bersamaku. Dan inilah bahagia itu, dan inilah seni menikmati hidup.

Dan yakinlah, akan begini seterusnya... asal selama itu bukan dosa, setiap pada apapun yang sudah terjadi, tak ada kata menyalahkan, tak ada rasa sesal dan kecewa. Mari, tetaplah bahagia bersamaku, tidak hanya sore ini, tapi juga pagi, siang, dan malam.

KotaSantri.com © 2002-2026