
Pelangi » Bingkai | Kamis, 17 Juni 2010 pukul 17:33 WIB
Penulis : Aini Mardiyah
Menempuh jalan, mencari
Wajah-Nya yang kelihatan
Demikian engkau tahu menemukan Tuhan
Demikian engkau menempuh jalan
Yang sejak sediakala disediakan
(Jiwa-jiwa Pecinta, Arini Hidajati)
Cinta… adalah ia yang mampu memberikan ketenangan dalam hati, jika tidak, maka ia bukanlah cinta. Cinta… adalah ia yang mampu memberimu semangat baru, jika tidak, maka ia bukanlah cinta. Cinta… adalah apa-apa yang membawamu kepada yang lebih baik, jika tidak, maka ia bukanlah cinta. Cinta… adalah ia yang bertahan lama dalam kesejatian, jika tidak, maka ia bukanlah cinta.
Hakikatnya cinta takkan pernah membuatmu bersedih hati, justru ialah yang akan memberimu kekuatan di atas ketidakberdayaan. Hakikatnya cinta takkan pernah membuatmu tersesat, justru ialah yang akan membawamu menuju peraduan-Nya yang indah, yakni syurga. Hakikatnya cinta yang akan selalu memilihkan untukmu, sebuah pilihan yang terbaik, sebuah kebaikan yang dianugerahkan untuk seorang hamba dari Penciptanya, yang harus senantiasa terpelihara.
Terpelihara sebab ia senantiasa disandarkan kepada Pemiliknya, yakni Allah SWT. Terpelihara dengan cara-cara terpuji sesuai aturan-Nya, sehingga Ia pun ridha. Bukankah kita senantiasa ingin mendapat ridha-Nya dalam hidup?! Maka ikutilah apa-apa yang diridhai-Nya.
***
Seorang sahabat, dalam muhasabahnya, suatu malam.
Alhamdulillah… thank's Allah, atas jalan yang telah tertempuh kini. Jangan hempas lagi diriku di tengah sunyi, berkaca penuh kesadaran sementara diri tak banyak memberi arti. Terlebih lagi ketika itu.
Tiba-tiba aku pun ingat akan sesuatu, tentang masa lalu.
Aku pernah mencoba untuk melupakan-Mu, mengesampingkan-Mu. Mencari ketenangan dalam hutan belantara yang mencekam, mencari perlindungan pada api yang siap membakarku setiap saat. Namun tak kuhiraukan, karena aku hanya mengikuti hati. Apa salah?!
Terpana, tergoda, terlena, dan aku pun terpedaya. Akhirnya mulai kugadaikan satu per satu, hijabku, prinsip hidup yang amat kujaga sesuai syari'at, hingga keimananku. Percuma dipertahankan, sebab perilaku tak menjadi cerminan.
“Tidak!!! Tak kan kubiarkan masa-masa itu membayangiku, karena aku ingin ketenangan yang sejati!!! Please, Allah. Mengapa kau tega padaku, padahal aku kini sedang berusaha sekuat tenaga menebus kesalahan?! Ya, aku memang salah. Aku mencintainya yang tak'kan pernah abadi, aku mencintainya yang penuh kelemahan dengan sangat, tapi kini aku amat menyadarinya!!!” ujarku, demi menepis semua bayang yang menyelimuti.
Menangis sesenggukkan, menahan perihnya kesalahan.
“Aku membuat-Nya cemburu, bahkan rela menyakiti-Nya, karena itulah yang kurasakan kini. Maafkan aku, Rabbi, Maaf…” bisikku dalam hati.
Malam semakin larut, namun jiwa semakin nanar dibuatnya.
Biar… Biar Allah benar-benar mengampuniku, dan rela memberi cinta-Nya lagi untukku!!! Biar… Biar kurengkuh lagi cahaya-Nya, seperti dulu. Please, Allah.
***
Gadis yang malang, hingga kini, rasa bersalah itu masih ada. Namun, tentunya dalam bentuk yang berbeda. Kini rasa bersalah itu mengiringi langkahnya sebagai amunisi di saat jatuh. Meredam angkuhnya, meneguhkan langkahnya. Bersama teman-teman seperjuangannya, ia kini menjadi akhwat tangguh, yang senantiasa mengembalikan cinta pada Rabb-nya. Amin…
Segala peluhmu pasti tak kan sia-sia, ukhti. Kami yakin itu. Semoga Allah memberimu kekuatan berlipat-lipat ganda dalam menjaga keistiqamahan, dan balasan terbaik di sisi-Nya.
Duhai sahabat yang kucintai karena Allah, saksikanlah perjuangan seorang sahabat dalam menghadapi bayangan hari kelamnya. Dari hijrah menuju hijrah, dari cahaya menuju cahaya. Bagaimana dengan kita?! Sudahkah kita menjadikan kesalahan sebagai proses pembelajaran, dalam kedekatan dengan-Nya?! Atau malah masih asyik bercengkerama dengan kesalahan, dalam maksiat?! Bercokol dengan segala yang semu dan tak pasti?! Yakinlah, kita hanya akan mendapatkan lelah bersamanya.
Sahabat, proses yang dijalani sahabat kita barusan, bukanlah proses yang menyenangkan. Karena ia merasa bahwa apa yang pernah dilakukannya merupakan kesalahan yang fatal. Mengapa demikian?! Karena ia selalu berpikir, “Janganlah melihat besar-kecilnya sebuah kesalahan, tapi lihatlah pada siapa kau berbuat kesalahan.” Subhanallah…
Sekali lagi, sahabat, sesuatu yang baik itu pasti tak mudah mendapatkannya, dan dari yang tak mudah itu, pasti akan bertahan lama. Hingga pada akhirnya kita akan mensyukurinya sebagai jalan terbaik menuju taqwa, menuju sebenar-benarnya cinta.
Biarkan cinta menemukan muara dengan sendirinya, bersama riak-riak kebaikan. Mengalir bagai air, tenang, dan menyejukkan. Jika telah tiba saat meminumnya, pasti ia kan lepaskan semua dahaga. Simpati, simpan dalam hati dengan penuh kesabaran. Bersandarlah pada Allah saja, sebab Ia tak kan salah dalam menentukan yang terbaik untuk kita.
"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (QS. Al-Baqarah : 165).
Katakanlah : "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran : 31).
Wallahu a’lam.
KotaSantri.com © 2002-2026