Pelangi » Bingkai | Senin, 14 Juni 2010 pukul 18:11 WIB

Aku Semakin Menyayanginya

Penulis : Nia Ummu Alif

Berpisah dengan orang yang pernah mengisi lembar kehidupan kita untuk selamanya terkadang memang menyakitkan, butuh proses waktu untuk memulihkan. Lima belas tahun sudah kepergian ayah dari hidupku karena kanker paru-paru yang dideritanya selama kurang lebih satu tahun, membuat diriku benar-benar merasa kehilangan. Sesekali ketika aku pulang ke kota kelahiranku, aku berziarah ke makam beliau bersama ibu.

Saat aku duduk di kelas 1 Tsanawiyah Negeri di kota Khatulistiwa ini, aku sering menangis melihat teman-teman sekolahku diantar jemput oleh orang-orang yang disayang. Tak ada lagi ciuman tangan yang kuraih dari tangan ayah setiap kali aku pergi dan pulang sekolah, tak ada lagi canda tawanya ketika aku bermain bersamanya. Semuanya hanya menjadi kenangan-kenangan indah yang takkan pernah terlupakan, karena di antara saudara-saudaraku, aku, putri bungsunya yang paling dekat dengan beliau. Sampai saat ini pun kerinduan akan kehadiran sosok beliau dalam hidupku masih melekat di relung kalbuku.

Perasaan kehilangan itu telah membuat aku lupa bahwa aku masih punya seseorang yang kusayang, sebagai tempat untuk aku berbakti dan meraih keridhaan Tuhan. Dialah Ibu. Masa remaja merupakan masa egois yang tinggi, aku menuntut disayang, diperhatikan, dan dipahami tanpa peduli apa yang telah kuberikan untuk beliau. Keegoisanku telah membentuk jarak antara aku dan ibu. Semakin lama kubiarkan menetap, semakin banyak susunan batu bata keegoisan itu aku bangun.

Kasih sayang yang tak pernah kering darinya dan do'a-do'a yang senantiasa dipanjatkannya untukku, telah meruntuhkan bangunan batu bata keegoisanku. Aku menyadari akan kesalahanku. Sungguh, aku belum siap kehilangan orang yang kusayang untuk kedua kalinya, karena belum sempurna perhatian yang kuberikan untuknya, belum sempurna aku memberikan kebahagiaan untuknya, belum sempurna ku merawatnya di usianya yang semakin senja. Sungguh, takkan mungkin bisa kuraih kesempurnaan itu, karena semua itu takkan pernah bisa membayar semua pengorbanannya dulu, ketika beliau berjuang antara hidup dan mati hanya untuk memberikan kesempatan kepadaku merasakan hidup di dunia ini. Sungguh, semua yang kulakukan saat ini takkan pernah bisa membayar setiap kelelahan beliau dalam membesarkan dan mendidikku dulu.

Ya Rahman, Ya Rahim. Sayangilah ibuku, karena aku tahu bahwa rasa sayangku padanya takkan pernah sebanding dengan rasa sayang-Mu padanya. Cintailah ibuku, karena aku sadar bahwa rasa cintaku padanya takkan sebesar rasa cinta-Mu padanya, Kutitipkan penjagaan ibu kepada-Mu, karena aku sadar bahwa aku takkan pernah sanggup menjaganya di setiap waktuku. Sungguh aku semakin menyayanginya karena-Mu.

Tulisan ini Spesial dibingkiskan untuk Ibu di Milad beliau yang ke 64 pada tanggal 24 Juni 2010.

Singkawang, 8 Juni 2010
Pukul 06.30-07.18

KotaSantri.com © 2002-2026