
Pelangi » Bingkai | Senin, 18 Januari 2010 pukul 18:30 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Masih kau lukis kehidupan itu, dengan warna-warni Ilahiyah. Masih kau torehkan dengan sabar, dalam jujur yang mengejawantahkan kekuatan. Masih kau eja meski kadang terbata, dalam istiqamah tak mengenal kata menyerah. Masih kau raba kelam itu, sendiri membersamai jiwamu yang kian menegar.
Kau, hanya bagian yang sangat teramat kecil dari yang IA ciptakan. Namun keberadaanmu tak remeh. Karena hatimu telah mampu memberi makna akan arti keberadaan itu sendiri, tentang untuk apa kau diciptakan, dan bagaimana menjalaninya dalam keteguhan gerak. Mampu menyembul di atas rata-rata dan menjadi pusaran-pusaran kebaikkan.
"Bukankah setiap kita telah divonis mati?" katamu suatu senja. Senja yang kemudian menjadi waktu yang penuh makna dalam keberkahan, yang mampu membuat ikan-ikan di laut mendo'a, pun semut di lubang turut serta mengamini.
"Lalu, kenapa tak bersegera kita menyiapkan diri pada hal yang sudah pasti?!" lanjutmu dengan mata tajam meyakinkan, namun tetap serasa lembut membidik otak kami untuk bergerak berpikir dalam perenungan.
Kau ajarkan pada kami tentang Islam yang tak hanya rahmatanlil'alaimin, tapi juga syamil mutakamil. Kau giring hati kami tentang pemahaman Al-wala' wal bara' untuk turut serta merasakan derita saudara-saudara seaqidah nun jauh di belahan bumi lain, mengakrabi mereka dengan do'a keselamatan meski tak pernah bersua. Kau beri contoh bagaimana seharusnya seorang muslimah berdaya guna dalam masyarakat, tanpa meninggalkan peran utama dalam keluarga.
Bersamamu, selalu saja mendapatkan charger energi isi ulang ruhiyah pemompa semangat dari futur, atau setidaknya mampu mendeteksi dini jika futur mengancam datang. Mengingatmu adalah hadirnya inspirasi kebaikkan, karena kau memang selalu saja mampu menjadi sumber inspirasi.
Darimu, kami belajar tentang bagaimana semakin baik, yang tidak lagi bermakna menjadi pilihan, tapi menjadi suatu kemutlakan. Ya, menjadi lebih baik dari hari ke hari adalah suatu kemutlakan bagi seorang mukmin.
Dan denganmu, jiwa kami tumbuh menjadi jiwa-jiwa militan yang (selalu berusaha dan komitmen) taat pada Allah dan RasulNya. Mantap menjalani setiap takdir dan keputusan hidup dalam lesat niatan hati, Allahu ghayatuna.
***
Teruntuk murabbiyah kami tercinta yang tak pernah mengenal kata jeda dalam setiap laku dakwah. Jazakillah khair Ummi, Allah mencintaimu.
KotaSantri.com © 2002-2026