
Pelangi » Bingkai | Senin, 28 Desember 2009 pukul 17:20 WIB
Penulis : Lizsa Anggraeny
"Wajahnya mirip!" Penggalan kata tersebut sering terdengar. Membuat bibir tersenyum senang, tersungging geli. Entah benar atau sekedar basa basi, biarlah! Yang penting, aku bahagia. Dan kau pun seolah tahu, tertawa lebar dengan pelukan erat.
Kau lihat? Wajah kita jelas sekali berbeda. Mataku bulat hitam, sedangkan kau coklat sipit. Kuliku coklat sawo matang, sedangkan kau putih bersih. Hidung tak sama, lekuk garis pun tak serupa. Jelas kita tak mirip.
Kita Mirip? Ya, mungkin saja. Orang melihat kita telah menjadi mirip. Terbentuk oleh ritme kehidupan yang sama.
Kau ingat? Kita pernah menangis bersama. Ketika baju-baju dalam koper kau porak porandakan, teracak berhamburan. Urat kesabaranku pecah. Dengan mata singa galak membentakmu, menggelegar. Hingga badan kecil terhenyak ketakutan, menangis sejadi-jadinya. Lalu merangkak pelan menuju alas pelicin, berusaha mengangkat setrika berat, dengan masih berurai air mata. Seolah kau ingin mengatakan, "Aku hanya ingin mencoba alat yang bernama setrika! Bukan bermaksud mengacak-acak pakaian!"
Aku tergugu di pojokan. Trenyuh memandang tubuh kecil yang sedang berusaha menggerakan setrikaan berat. Dengan pakaian yang kusut di genggaman. Dan aku pun turut menangis. Menyesali ketidaksabaran.
Kita pernah tertawa bahagia. Tidak, bukan hanya pernah, tapi sering kali kita tertawa bersama. Ketika wajah badutku mulai terpasang, bersiap mengejar tubuh mungil. Dengan riang, kau akan merangkak cepat, menghindari wajah badut di belakang. Kau pun akan tertawa senang jika hidangan kesukaan terlihat tersaji. Empat gigi yang baru tumbuh akan dipamerkan dalam tawa lebar. Lahap menyantap kegemaran.
Dan kau tahu? Aku pernah begitu bahagia memilikimu. Ketika suara mungil mulai berolah vokal, "Miiih... Mih... Amih... Amiiihhh..." Sambil mendekati, kemudian memeluk leherku dengan gerakan lincah senang. Aku bagai melambung saat itu. Ingin rasanya meloncat ke awang-awang, mengabarkan pada semuanya. "Woooiii.... Lihat! Dia sudah bisa memanggilku Amih!"
Mirip atau tak mirip, aku tak peduli. Tak mirip karena memang kau bukan terlahir dari rahimku. Tak pernah aku merasakan tendangan mungilmu dalam hitungan sembilan bulan. Tak pernah aku merasakan kesakitan menunggu persalinan. Tak pernah pula aku merasakan keindahan menyusui. Sesuatu yang sesungguhnya begitu aku dambakan dalam semakin bertambahnya usia pernikahan.
Jika orang mengatakan kita mirip, itu karena keadaan. Seiring dengan hari-hari yang telah kita lalui bersama. Sejalan dengan rasa cinta yang menjalar cepat. Kasih sayangku menumpuk dalam hitungan detik. Kebahagiaanku bertambah dengan skala kilat. Relung batinku terisi naluri seorang ibu.
Percayalah, Nak, mirip tak mirip, bagiku bukan halangan. Karena aku akan mencinta, dalam batas kemurnian kasih seorang ibu. Mengasihi dalam waktu yang masih tersisa. Menyayangi dalam jiwa yang mendamba. Menerima kehadiranmu adalah sebuah amanah yang tidaklah mudah.
KotaSantri.com © 2002-2026