Pelangi » Bingkai | Kamis, 20 Agustus 2009 pukul 17:15 WIB

Anugerah Terindah dariNya

Penulis : Aryanto Abdul Latif

Kala itu, Sabtu, 3 November 2007 dini hari, airmataku tak bisa kubendung, tumpah ruah mengalir dari pelupuk mataku, mengingat kemahabesaranNya atas sebuah anugerahNya yang paling terindah dalam hidupku, sujud dan syukurku seketika itu kuhaturkan kepadaNya. Masih terngiang di telingaku, begitu merdunya tangisan pertamamu, walaupun beberapa detik di awal kehadiranmu tiada tangisan dari bibir mungilmu. Ketika aku melihat sosokmu, aku tersenyum bahagia, terbersit kekagumanku akan kesempurnaan dan kecantikanmu, tak pernah kuhentikan untuk melantunkan puji dan syukur kepadaNya. Alhamdulillahi rabbil 'alamin.

Aku sadar jika engkau anugerah terindah dariNya, aku pun sadar jika amanahNya telah tertitipkan. Dirimu laksana kertas putih yang suci tak bernoda. Putih ataukah hitam gambaran dirimu kelak tergantung goresan tangan ini, baik ataukah buruk akhlak dan pribadimu nanti tergantung pengajaran dan bimbingan dariku, hal itulah seakan menggugah kesadaranku dikala itu.

Telah kusiapkan pena putih, akan kutuliskan setiap hari untaian kalimat mutiara hikmah, biar mewarnai perjalanan hidupmu nanti. Pun telah kubayangkan sebuah gambaran yang bagus dan indah yang kelak kupersembahkan untukmu, biar selalu mengindahkanmu di setiap langkahmu menuju kembali kepadaNya. Akan kutemani dirimu dalam menyelusuri lorong waktu kehidupan ini dengan sebait do’a, dan akan kutuntun dirimu ke jalanNya, walaupun kusadari diri ini hanyalah seorang hambaNya yang masih terus belajar agar tetap berjalan di atas jalanNya.

Dikala teringat kisah Nabi Nuh yang tidak mampu menyelamatkan anaknya dari banjir besar akibat kedzaliman umatnya yang tidak mau menaati perintah Allah yang disampaikan oleh Nabi Nuh, aku pun teringat firman Allah dalam Al-Qur'an, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. At-Tahrim : 6).

Saat itu juga, hatiku menjerit, terpampang di depan mata sebuah tanggung jawab yang besar, tanggung jawab seorang ayah untuk mendidik dan membimbing anaknya agar menjadi seorang hamba Allah yang taat dan bertaqwa kepadaNya. Terbersit dalam hati sebuah pertanyaan, ‘’Mampukah aku memikul tanggung jawab itu?” Pertanyaan yang tak memerlukan jawaban, mau tak mau, suka tak suka, aku wajib dan harus mampu menjalankan tanggung jawab itu, karena dirimu adalah titipan dan amanah dariNya. Sebait kalimat kubisikkan kepadamu, “Nak, berusahalah meraih cinta dan ridha Allah agar hidupmu selamat dunia dan akhirat, serta berdo’alah kepadaNya agar kita mendapat rahmat dan hidayahNya.”

Disaat itu juga, aku berdo’a, “Ya Rabb, hanya kepadaMu-lah aku menyembah dan hanya kepadaMu-lah aku mohon pertolongan. Berikanlah petunjukMu, agar kami menjadi hambaMu yang terus berusaha untuk selalu menjalankan titahMu dan menjauhi murkaMu, agar kami termasuk golongan hamba-hambaMu yang beruntung.” Amin…

Sebuah Renungan
Dikala kelahiran buah hatiku, "Nurfaidah Evriyanti"
.

KotaSantri.com © 2002-2026