Pelangi » Bingkai | Senin, 20 Juli 2009 pukul 17:30 WIB

Ku Tak Bisa Menulis!

Penulis : Achmad Fachrie

Ku tak bisa menulis! Itu yang ada di benak ku ketika ku mencoba menulis lagi. Biasanya jika berdiam diri sejenak, mengendapi suasana, lalu lahirlah kata-kata yang bersemayam di hati. Tapi kali ini tidak mudah, seakan kata-kata yang biasanya mengisi ruang hati sedang pergi, tidak bisa di ajak kompromi. Huh, ke mana kata-kata itu pergi. Aku pun emosi sambil mencari-cari ke mana kata-kata itu pergi.

Lalu karena lelah mencari. Kembali ku terdiam membiarkan diri dibawa alunan suasana. Ku biarkan saja mengalun menyelami relung hati. Tanpa disadari perlahan ku menemukan kata-kata itu lagi. Ku biarkan mengalir tanpa yang membatasi. Hanya menulis dan menulis, seolah melupakan pagi membiarkan senja yang mengungkap hikmah.

Dalam sadarku, ketika pikiran dan hati ini masih berkelana mencari ke mana-mana, maka pada saat itu ku terpaku tak karuan. Ketika ku selalu memilih melihat tembok penghalang atau ketika ku memaksa menabrakkan saja pada tembok itu, maka itu membuatku memutuskan untuk berhenti. Ku tak bisa menulis ketika ku memaksa memuntahkan kata-kata yang sebenarnya tidak ada di dalam benak ku. Ku tak bisa menulis ketika pandangan ini fokus pada rintangan yang selalu mematahkan keinginan ku.

Ku hanya ingin menulis apa yang terpantul dan tercermin dalam benak ku. Ku hanya ingin menulis ketika pandangan ini melihat wujud dengan jelas yang tak terhalangi kaku. Kata-kata terkadang merupakan kembaran dari jiwa, apa yang tertulis itulah gambaran jiwa. Mereka mewujud dari tangkapan mata, hati, dan perasaan yang terjaring.

Kata-kata terkadang suara yang tidak terdengar meskipun engkau bersuara. Mereka terkadang lebih dalam di lubuk hati, tapi kadang juga berada di permukaan luar yang kehadiran tidak engkau sadari karena terlalu sibuk hingga mengacuhkannya. Padahal mereka siap engkau panggil. Kalau engkau memanggilnya dengan keras, maka mereka akan keluar dengan keras pula. Kalau engkau memanggilnya dengan lembut, maka mereka akan keluar dengan lembut. Bahkan jika engkau memanggilnya dengan jenaka, maka mereka akan keluar dengan jenaka. Ah, itulah cerminan jiwa.

Semoga Allah menjaga apa yang ada di dalam jiwa kita, karena akan terpantul, terlihat dari lensa mata orang-orang sekitar kita.

Selanjutnya, ku biarkan mengalir tanpa membatasi. Hanya menulis dan menulis, dan inilah tulisan itu.

KotaSantri.com © 2002-2026