Pelangi » Bingkai | Senin, 13 Juli 2009 pukul 18:00 WIB

Sosok Itu ...

Penulis : Rifatul Farida

"Aisyah, remaja belia yang selalu ceria, kritis terhadap keadaan, hingga membuatnya mampu melihat persoalan dengan lebih jernih dan bijak. Mudah tersinggung karena kepekaannya, tapi mudah pula reda dan memaafkan," sesungging senyum terurai di bibirku ketika mata ini merunut kata yang terangkai menjadi kalimat, yang ditulis oleh seorang guru hebat yang sosoknya tak kan pernah lekang dari ingatan, tulisan yang terukir awet setelah lima tahun berlalu di sebelah fotoku berseragam putih abu-abu. Foto yang terselip pada lembaran buku lawas yang ingin kubaca kembali.

Pak Edy, sosok berwibawa itu kini hadir di depanku. Tersenyum ramah membawa aroma kebapakan yang selalu membuat kami, para muridnya, merasa nyaman.

Pak Edy, sosok bijak itu kini mendengar dengan penuh perhatian sepatah demi patah kata yang menjadi rangkaian cerita kesombongan masa muda, dengan seni psikologinya meluruskan laku kami tanpa harus menjustis kami sebagai remaja yang bangga dengan kepongahan diri.

Pak Edy, motivator hebat itu kini sedang menguatkan pijakan kaki kami agar mampu berdiri tegak. Menapaki hidup sebagai seorang ksatria, bukan pecundang yang lari dari masalah atau pengecut yang tak mau menanggung resiko pada tiap tikungan hidup yang dipilih.

Pak Edy, sosok pengertian itu kini membimbing kami menuju generasi Rabbani, tanpa harus menghilangkan rasa hebat kami sebagai remaja yang ekspresif.

Pak Edy, sosok tawadhu itu kini bercanda, melebur bersama kami, dan menjadi sahabat menyenangkan yang menghilangkan kesungkanan, tapi membuat kami semakin hormat padanya.

Pak Edy, sosok tulus itu kini tersendu di mushala sekolah, usai mengimami shalat dzuhur berjama'ah ketika lantunan do'anya merengkuh nama kami, "Ya Allah, jadikanlah murid-murid kami sebagai muslim dan muslimah yang cerdas akal dan ruhiyahnya, generasi Rabbani yang kukuh menggenggam syari'atmu pada gencarnya arus pergaulan bebas remaja." Dan seandainya mata ini mampu melihat dimensi lain, pasti akan terlihat seribu malaikat yang hadir serentak mengamini. Ikan-Ikan di laut, gunung-gunung yang biru menjulang, pepohonan yang kekar berdiri, dan seluruh alam raya ini turut serta mengamini, Arasy Allah SWT bergetar karena ketulusan pahlawan tanpa tanda jasa ini.

Dan, Pak Edy, lihatlah sosok cerdasnya yang telah meggoreskan tulisan di foto ini. Betapa beliau ingin menyadarkan aku sebagai pribadi yang mudah tersinggung tanpa menjustisku sebagai remaja yang punya sikap negatif dengan mengatakan mudah reda dan memaafkan. Yang menggiringku pada kesadaran tertinggi untuk kembali me-review diri kala itu, melahirkan sikap tuk selalu berusaha berbaik sangka dengan siapa pun di segala kondisi sebagai wujud menekan rasa ketersinggungan itu, yang membuatku malu untuk tidak memaafkan kesalahan orang lain meski sudah reda. Karena ternyata memaafkan itu sangat sulit meski kedongkolan telah bisa dikendalikan, karena memaafkan berarti mengatakan tak apa-apa dan semua baik-baik saja. Karena memaafkan berarti menghadirkan ketulusan kembali pada hati yang meradang.

KotaSantri.com © 2002-2026