
Pelangi » Bingkai | Kamis, 18 Juni 2009 pukul 17:30 WIB
Penulis : ilham muhammad
“Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman : 13).
“Ya Allah, kembalikanlah hambaMu yang hina ke dalam jalanMu yang lurus. Kembalikanlah aku ke dalam barisan orang-orang yang kau beri nikmat. Ya Allah, Engkaulah Dzat yang jiwaku berada dalam genggamanMu. Ampunilah aku, ampunilah hambaMu yang kini hanya bisa meraung-meraung di depan pintu kasih sayangMu untuk memohonkan cintaMu.”
Hanya itu, kata-kata itu yang bisa kuucap kepadaMu ketika aku sadar atas kekeliruan dan kedzaliman yang telah kulakukan. Sebuah kata yang terucap setelah aku mengalami hari-hari yang membuatku jauh dariMu. Telah lama sekali, ya Allah, sejak terakhir kali aku menangis karenaMu, menantikan saat-saat dimana aku menangis, menangisi waktu yang telah kubuang untuk akhiratku kelak.
Ya Allah, aku ingat ketika pertama kali aku kembali mengenalMu. Begitu indah rasanya. Ketika cahayaMu kembali menyentuh qalbuku yang telah lama mati tertutup dengan jelaga hitam kemaksiatan.
Aku pernah merasakannya, wahai Yang Maha Pengasih. Ketika hati ini begitu rindu dengan majelis-majelis yang menyebut namaMu di dalamnya. Begitu tergetar hati ini ketika namaMu yang indah disebut oleh para mujahid-mujahidMu. Betapa aku ingin menangis karena terharu mendapatkan kebenaran yang sebenarnya tentang KemahabesaranMu.
Ya Allah, aku ingin merasakan kembali. Betapa nikmatnya bermuhasabah seorang diri dan berkhalwat denganMu di sepertiga malam. Betapa lembut terasa kasih sayang yang Engkau beri padaku, bahkan setiap tetes air mata yang terurai tak bisa menjelaskan betapa lembutnya kasih sayang itu.
Wahai Yang Maha Pengasih, aku rindu saat-saat aku berkumpul dengan mujahid-mujahidMu berbicara tentang KekasihMu, Muhammad SAW. Dan kami menangis, karena rindu kami untuk bertemu dengan RasulMu.
Wahai Yang Maha Pengasih, aku ingin mendapatkan kembali spirit yang telah lama pergi dari diriku. Aku rindu sebuah tekad, yang menancap kuat di dalam hati, untuk terus berjuang di jalanMu, walau darah, bahkan nyawa ini menjadi sebuah harga yang harus kubayar demi tegaknya Islam di muka bumi.
Kini, semua itu telah hilang. Entah kenapa. Dan entah ke mana hilangnya.
Kini, aku tak pernah lagi merasakan betapa nikmatnya hadir dalam taman-taman surgaMu.
Kini, aku tak pernah lagi merasakan betapa damainya bersujud dan berdo'a di sepertiga malam terakhir.
Kini, aku tak pernah lagi merasakan betapa rindunya mujahid-mujahidMu kepada Muhammad SAW.
Kini, aku tak pernah lagi merasakan lagi betapa semangatnya diri ini untuk menegakkan Islam di muka bumi.
Aku tak ingin menyalahkan siapa pun sebagai kambing hitam penyebab kekacauanku ini, karena memang ini merupakan keputusanku.
Kini, aku sadar bahwa semua yang kurasakan saat itu merupakan bagian dari nikmat Allah yang tak ternilai harganya. Tak bisa dibayar dengan apa pun.
Dan mulai saat ini, aku akan memulai kembali perjalanan hidupku. Aku akan memulai kembali kisah cintaku dengan Yang Maha Mencintai. Ya, aku ingin merajut kembali kasih yang telah lama hilang dengan Sang Maha Pengasih.
KotaSantri.com © 2002-2026