
Pelangi » Bingkai | Kamis, 30 April 2009 pukul 18:16 WIB
Penulis : Nia Ummu Alif
Hari minggu pagi, tepatnya 19 April 2009, aku mendapatkan sebuah kabar dari salah seorang teman SMA dulu melalui sebuah pesan singkat di HP-ku, "Nia, teman satu kelas dengan kamu di 3 IPA yang sekarang jadi tentara, meninggal kecelakaan, istrinya lagi hamil."
Teman, saat aku tahu kabar kepergianmu, tak ada air mata yang membasahi pipi ini. Luka yang pernah menyayat hatiku yang membuatnya seakan membeku, bukan karena aku membencimu, sungguh kau terlalu baik kepadaku.
Pikiranku terkenang pada 7 tahun yang silam. Semasa SMA dulu, tugas-tugas sekolah selalu kita kerjakan bersama, tanpa terasa rasa itu mulai tumbuh. Tapi sayang, rasa itu tidak pernah menuai kebahagiaan karena terhalang oleh tiada restu dari Ibuku, hanya karena kita berbeda tradisi.
Teman, sungguh aku ingin membelamu di depan ibu, karena kau tak pernah ingin terlahir begitu. Sungguh ini tak adil untukmu, tapi lisan ini kelu dan aku hanya terdiam membisu mendengarkan kata-kata ibu.
Setamat SMA, aku melanjutkan ke Perguruan Tinggi di kotaku, dan engkau melanjutkan pendidikan sebagai seorang tentara. Meski kau selalu ingin bertemu denganku, tapi ibu tidak pernah memberi kesempatan kepadamu.
Teman, empat tahun kemudian, aku mendapatkan kabar tentang dirimu dari salah seorang teman, bahwa engkau akan segera menuju ke pelaminan. Sebenarnya saat itu aku kecewa dan ingin marah padamu, mengapa engkau tak mengundangku di hari bahagiamu? Kau hanya menitipkan pesan untukku melalui temanku. Kau tak ingin menyakiti perasaanku.
Teman, kau ingin menjaga perasaanku bukan? Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Seandainya saja kau tahu bahwa telah lama aku kubur rasa itu di dasar hatiku yang terdalam. Aku telah berjanji, bahwa takkan ada tangis itu lagi. Aku hanya ingin bisa melihat kebahagiaan yang terpancar di wajahmu bersama wanita itu. Hanya itu.
Ah, sudahlah. Aku tak ingin lagi mengenang semua itu. Biarlah kenangan-kenangan indah itu terkubur bersama kepergianmu. Teman, hanya satu do'aku mengiringi perjalanan akhirmu, "Semoga kau selalu damai di sisiNya. Selamat jalan, teman. Selamat jalan."
KotaSantri.com © 2002-2026