Pelangi » Bingkai | Sabtu, 21 Maret 2009 pukul 17:45 WIB

Hujan

Penulis : Nurliyanti

Dulu, hujan bagiku hanyalah air yang turun dari langit. Tapi tahukah teman? Sejak pertemuanku dengannya, hujan menjadi sangat berarti untukku. Hujan selalu menyambutku di tanah kelahirannya. Hujan juga yang berhasil menahanku di rumahnya walau sekejap. Hujan pula yang menghantarkanku melihat senyumannya untuk pertama kali.

Kamu tahu, teman? Hujan melambangkan kasih sayangku padanya. Aku tidak dapat mengukur seberapa banyak tetesan air hujan yang turun. Sama halnya aku tidak dapat memprediksi seberapa besar sayangku padanya kini.

Hanya saja, air hujan yang turun dari langit bermuara ke lautan kepastian, sedangkan air hujanku hanya akan membawanya bermuara ke dalam lautan kehampaan.

Pelangi indah yang kerap muncul di tengah rintik hujan yang belum reda adalah setitik asa yang berharap kisahku dengannya berakhir bahagia.

Namun apa yang terjadi? Air hujanku terlalu deras! Hingga mampu tenggelamkan daratan cinta, hanyutkan batu-batu kesabaran, mengikis besar-besaran dinding pengertian, mengoyak istana kasih sayang dan robohkan tembok kepercayaan. Dan lihat apa yang terjadi? Pelangi itu tak pernah muncul hingga kini, detik ini.

Biarlah kurengkuh air hujanku dalam bayang semata. Biarlah kujaga tetes rasa ini tanpa ada seorang pun yang tahu. Yang jelas, air hujanku tak akan pernah bisa kembali ke langit, teman. Dia akan terus jatuh, bersamaan dengan air mataku.

Kuharap, seiring dengan air hujan yang menyirami bumi, itu akan mewakilkan rasa rindu yang meraja di hatiku ini untuknya. Hanya untuknya, teman. Kuharap, setiap tetesan air mataku akan memberikan kebahagiaan untuknya di seberang sana. Kuharap, setiap memoriku dengannya yang terus mengalir, akan memberi dorongan untukku agar bisa lebih mendekat padaNya.

Aku tidak akan menyesali pertemuanku dengannya, sama halnya aku akan terus bersyukur dan tidak menyesalkan kala hujan turun, hujan yang akan selalu, selalu, dan selalu membuatku mengingatnya, teman. Terima kasih ya Allah, engkau telah menganugerahi rasa sayangku padanya. Walaupun tak bisa kuwujudkan dalam nyata, tapi aku tetap bersyukur karena Kau telah mengenalkanku padanya, orang yang sangat berarti, orang yang kusayangi, orang yang terlalu berharga untuk dilupakan, orang yang penuh semangat dan keceriaan, orang yang sabar, orang yang beriman, orang yang bertaqwa.

Aku berdo'a, sebanyak tetes air hujan yang turun, sebanyak air mataku yang meleleh tiap kali ingat padanya, semoga ia senantiasa berbahagia.

Jangan biarkan ada angin yang berani menghempasnya lagi ke dalam jurang ketidakpastian. Jangan biarkan ada petir yang menyambar hatinya lagi menjadi semakin terluka. Singkirkan segala kerikil tajam yang seringkali menghalanginya merengkuh kebahagiaan. Berikanlah pelangi terindah untuknya setelah ribuan kali ia melewati hujan badaiMu, ya Allah. Di waktu yang tepat, dengan orang yang tepat.

Senin, 16 Maret 2009, 04:43

KotaSantri.com © 2002-2026