
Bilik » Pena | Jum'at, 28 Juni 2013 pukul 23:00 WIB
Penulis : Radinal Mukhtar Harahap
Alkisah, seorang peserta training menulis begitu bahagia dengan keikutsertaannya pada acara yang dipandu langsung oleh seorang penulis terkenal. Ia merasa telah menemukan apa yang selama ini ia harapkan. Hal ini terjadi ketika si penulis terkenal tersebut mengatakan padanya bahwa ia akan dibimbing langsung untuk menulis.
"Saya harus menulis. Saya harus menulis. Saya harus menulis. Saya tidak mau mengecewakan bimbingan langsung ini."
Walhasil, berkali-kali ia menulis. Tetapi muncul dalam perasaannya, kenapa sepertinya saya tidak enjoy ketika menulis. Sepertinya ada yang mengganjal dalam diri ini. Padahal, sudah banyak tulisan yang dihasilkannya. Ada apa gerangan?
***
Baca kembali ungkapan peserta training tersebut.
Apa yang Anda rasakan?
Adakah yang salah?
Saya teringat dengan ketika dahulu, saya menempuh pendidikan di SDN 011 Pekan Baru. Saat itu, di kelas, ibu guru selalu mengatakan bahwa agar saya pintar, saya harus rajin belajar.
Ya, harus!
Saya harus rajin belajar!
Sayapun belajar. I'tikad yang mengharuskan saya rajin belajar tersebut akhirnya menghantarkan saya pada beberapa prestasi yang saya raih dahulu. Namun, entah mengapa, ketika liburan datang, saya tidak lagi belajar. Saya benar-benar berlibur!
Akhirnya saya tersadar saat saya menempuh pendidikan di pesantren Ar-Raudhatul Hasanah. Kegiatan yang berjalan 24 jam non-stop mengharuskan saya mampu untuk membagi-bagi waktu.
I'tikad harus rajin belajar, akhirnya, tergantikan dengan mempertanyakan diri sendiri, jika saya tidak belajar saya akan bla.. bla.. bla...
Alhamdulillah, semua teratasi. Hasilnya sama, prestasi. Tapi perasaan yang saya rasakan berbeda. Mengapa?
***
Dalam kajian NLP dikenal sebuah istilah yang disebut modal operators. Modal operators ini strukturnya mirip dengan arti dari modus operandi.
Anda pernah mendengar modus operandi bukan?
Secara singkat, modal operator yang strukturnya mirip dengan arti dari modus operandi tersebut adalah cara kita beroperasi.
Pilihannya ada dua; Apakah secara terpaksa atau secara kesadaran diri.
Contoh yang telah saya sampaikan di atas mungkin dapat dijadikan ilustrasi modal operators ini. Saat SD, saya mengharuskan diri untuk belajar. Motivasi belajar akhirnya datang dari luar. Dalam dunia NLP dikenal External Behavior.
Berbeda ketika saya di pesantren dan saya mengubah i'tikad belajar dengan mempertanyakan diri saya sendiri. Jika saya tidak belajar, saya akan bla.. bla.. bla... Maka motivasi belajar yang datang, berasal dari dalam diri saya sendiri, bukan dari luar. Dalam dunia NLP dikenal Internal State.
Dampaknya?
Tentu saja ketika Anda merasa terpaksa melakukan sesuatu, Anda tidak akan terlalu nyaman melakukannya bukan?
Berbeda dengan ketika Anda benar-benar sadar dalam melakukan hal tersebut. Ada kenyamanan di dalamnya!
***
Lama peserta training tersebut memikirkan, kenapa ia merasa ada sesuatu yang janggal. Dalam pikirannya selalu ada sesuatu yang menyeramkan yang memaksanya untuk duduk di depan komputer dan menulis. Ia berhasil menulis, tetapi ia tidak begitu menikmati hasil tulisannya.
Hingga akhirnya, ada sebuah peristiwa yang menyadarkannya.
Suatu hari, ia diajak temannya untuk bermain-main ke sebuah desa. Sekitar tiga minggu ia berada di sana. Namun waktu tiga minggu itu telah mengajarkannya sesuatu yang selama ini menjadi permasalahannya.
"Nak, saya boleh minta tolong?" Ibu tua yang dekat dengannya di desa tersebut berkata.
"Ada apa, Bu? Kalau memang saya bisa menolongnya, saya akan menolong."
"Begini, Nak! Saya punya anak. Sekarang ia sedang merantau. 2 hari yang lalu ia mengirim sebuah surat. Saya tidak bisa membaca. Tolong bacakan ya?"
"Iya, bu."
Iapun akhirnya membaca surat tersebut. Ada tangis dalam diri ibu yang mendengarkan bacaannya.
"Sudah, Bu!"
"Terima kasih, Nak. Ibu bisa minta tolong lagi?"
"Apa, Bu?"
"Tolong tuliskan surat balasannya ya? Ibu yang berbicara, kamu yang menulis!"
"Iya, Bu."
Ia menuliskan semua yang diungkapkan si Ibu. Ada perasaan bahagia saat ia menulis surat balasan tersebut. Perasaan yang tidak ia rasakan selama ia menulis berbagai macam tulisan selama ini, di bawah bimbingan seorang penulis terkenal.
Mengapa bisa demikian?
Usut punya usut, ketika si Ibu memintanya untuk menuliskan surat balasan, sebenarnya ia sungkan karena tulisan tangannya tidaklah cantik. Namun hati kecilnya bertanya, kalau saya tidak menuliskan surat balasan si ibu, apa yang akan terjadi pada si ibu? Lalu apakah pantas aku menolaknya? Apakah penolakan permintaan tolong itu tidak akan menunjukkan keangkuhanku? Aku akan menuliskannya.
Tulisan yang ia hasilkan saat ini sangat bertenaga!
Selain itu, ia sangat menikmati kegiatan menulisnya!
***
Tulisan ini memang hanya membahas tentang 2 model operasi; Saya menulis ataukah Jika saya tidak menulis, saya akan bla... bla... bla...
KotaSantri.com © 2002-2026