
Bilik » Pena | Jum'at, 2 November 2012 pukul 20:00 WIB
Penulis : Widia Aslima
Sedih dan senang adalah dua sisi kehidupan yang akan selalu dijalani manusia. Pada diari-diari mungkin lebih sering kita dapati curhatan yang berbau kesedihan dan harapan dibanding kegembiraan. Itulah yang saya alami, terlebih di awal permulaan menulis diari sewaktu remaja. Sekarang apa yang dipikirkan, dirasakan, dialami, dan diamati, semuanya ingin dituliskan.
Menurut Wikipedia, menulis adalah suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Pada awal sejarahnya, menulis dilakukan dengan menggunakan gambar, contohnya tulisan hieroglif (hieroglyph) pada zaman Mesir Kuno. Tulisan dengan aksara muncul sekitar 5000 tahun lalu. Orang-orang Sumeria (Irak saat ini) menciptakan tanda-tanda pada tanah liat. Tanda-tanda tersebut mewakili bunyi, berbeda dengan huruf-huruf hieroglif yang mewakili kata-kata atau benda. Tidak terbayang bagi saya repotnya menulis dengan menggunakan gambar tersebut. Kegiatan menulis berkembang pesat sejak diciptakannya teknik percetakan, yang menyebabkan orang makin giat menulis karena karya mereka mudah diterbitkan.
Banyak manfaat yang dirasakan dari menulis, khususnya manfaat batiniah. Bagi penulis, dengan menulis ia bisa menyampaikan uneg-unegnya. Adakalanya bahasa lisan tidak bisa menyampaikan apa yang kita maksudkan secara gamblang. Oleh karena itu, menuliskan apa yang kita rasakan dan pikirkan membuat hati jadi lega dan nyaman, walaupun tulisan itu mungkin hanya kita yang membaca. Tulisan seperti sebuah sejarah, menyimpan berjuta kisah dan hikmah. Bagi pembaca, dari sebuah tulisan dia bisa bercermin, instrospeksi, mendapatkan pencerahan, bahkan informasi dan ilmu baru. Jadi dengan menulis, kita juga bisa berbagi. Moto saya dalam menulis adalah “Semailah hikmah dengan berpikir, tumbuhkan hikmah dengan menulis, dan petiklah hikmah dengan membaca.”
Dalam membuat sebuah tulisan dibutuhkan waktu untuk mengembangkan ide atau gagasan pokok yang telah kita dapatkan. Bagi saya, penulis pemula butuh waktu dan suasana yang mendukung untuk merangkai kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf supaya satu sama lain saling berhubungan, runtut, indah, dan bisa dipahami isinya. Oleh karena itulah, walaupun sudah punya ide, tetap sulit menuangkannya menjadi tulisan karena kesibukan dan kepenatan pekerjaan, padahal ingin sekali menulis. Tulisan tertunda bahkan ide itu akhirnya menguap. Beberapa tulisan lamapun kalau dibaca lagi ada saja yang akan diedit dan itu butuh waktu juga. Akan tetapi akhir-akhir ini, agar ide yang didapat tidak menguap, saya berusaha menuliskan dalam beberapa kalimat singkat di hape.
Ada juga hal yang sedikit menjengkelkan, yaitu ide tiba-tiba muncul ketika sudah berada di tempat tidur di saat mata sudah mengantuk. Ya, solusinya itulah tadi, saya sempatkan mencatat di hape. Jikalau tidak, hati tidak tenang. Ternyata, menulis itu memang mengasyikkan. Kita mendapatkan kepuasan tersendiri. Selesai satu tulisan, rasanya ingin lagi menulis yang berikutnya.
Aku bahagia karena menulis, bukan menulis karena bahagia.
KotaSantri.com © 2002-2026